Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Tiknan Tasmaun

Praktisi herbal yang ingin bermanfaat bagi sesama. Punya blog di http://hidupsuksestiknan.wordpress.com dan di http://tiknan.blogspot.com selengkapnya

Selametan dalam Tradisi Jawa Adalah Ungkapan Doa

HL | 06 May 2010 | 01:06 Dibaca: 5402   Komentar: 11   2

Ilustrasi/Admin

Ilustrasi/Admin

Dalam tradisi kejawan banyak dijumpai upacara-upacara ’selamatan’ dengan berbagai perlengkapan ‘ubo-rampenya’. Jika diteliti dengan seksama maka upacara selamatan tersebut merupakan wujud dari suatu doa. Doa dengan sanepan alias perlambang. Doa bil isyaroh sebenarnya.

Doa bil isyarah. Apa artinya ? Yang saya maksudkan dengan doa bil isyarah adalah berdoa dengan diwujudkan dalam berbagai perlambang dan tingkah laku dalam kehidupan. Contoh yang nyata adalah orang bekerja. Bekerja pekerjaan apa saja, tentu pekerjaan yang baik dalam arti yang sebenarnya. Dalam bahasa agama disebut dengan terminologi pekerjaan yang halal. Bekerja jika diniati yang benar maka merupakan suatu perwujudan dari doa dengan perbuatan nyata.

Dalam tradisi Jawa banyak kita jumpai upacara-upacara adat yang sebenarnya merupakan doa bil isyarah, doa dengan wujud perlambang atau sanepan. Misalnya ketika ada orang hajadan ‘mantenan’ (mengwinkan) anaknya misalnya. Bagi orang Jawa maka tidak akan ketinggalan pasti ada daun janur, daun beringin dan juga batang tebu. Itu semua merupakan ungkapan doa dan harapan kepada Allah swt, Gusti Kang Akaryo Jagad.

Janur di’kirotobosokan’ dengan kata ‘ngejan-ngejan’ (arep-arep=berharap) sedangkan Nur artinya cahaya. Maknanya berharap akan kemuliaan yang merupakan berkah dari Ilahi kepada pengantin berdua. Janur juga sebagai simbul kelapa, dalam hal ini cengkir yang berarti ngencengke pikir atau membulatkan tekad. Artinya bagi mempelai berdua diharapkan untuk membulatkan tekad untuk mengarungi kehidupan baru. Tebu dimaknai antebing kalbu. Artinya juga sama, ketekadan yang bulat.

Selamatan Mitoni atau Tingkeban Orang Hamil

Secara umum selamatan mitoni atau ningkebi orang hamil dilaksanakan ketika kehamilan sudah menginjak usia tujuh bulan. Persediaan yang harus ada adalah tumpeng, procot, bubur merah putih atau disebut bubur sengkolo, sego (nasi) golong, rujak sepet ( dari sepet sabut kelapa muda ), cengkir gading dll.

Semua ‘uborampe’ tersebut juga merupakan doa bil isyaroh, doa dengan perlambang. Perlambang-perlambang itu antara lain sebagai berikut :

  • Tumpeng. Tumpeng atau buceng merupakan nasi yang dibentuk menyerupai kerucut, membentuk seakan-akan gunung kecil. Ini merupakan lambang permohonan keselamatan. Bagi masyarakat Jawa gunung melambangkan kekokohan, kekuatan dan keselamatan.
  • Procot. Sejenis penganan terbuat dai ketan yang dibungkus daun pisang bulat memanjang. Dinamakan dengan procot dengan harapan lahirnya si bayi kelak ‘procat-procot’, mudah maksudnya.
  • Bubur sengkolo. Bubur sengkolo itu merupakan bubur dengan warna merah dan putih. Merupakan lambang dari bibit asal-muasal kejadian manusia selepas Bapa Adam dan Ibu Hawa, yaitu diciptakan Allah melalui perantaraan darah merah dan darah putih dari ibu bapak kita. Harapan dari bubur sengkolo adalah mudah-mudahan yang punya hajad itu ‘kalis ing sambikolo’ terlepas dari segala aral bahaya, baik bayinya maupun keluarganya.
  • Sego atau nasi golong. sego golong merupakan doa agar rejekinya ‘golong-golong’ artinya banyak berlimpah ruah.
  • Rujak. Dari kirotobosonya menimbulkan arti ’saru yen diajak’ artinya tidak patut lagi kalau si istri yang lagi hamil tua itu diajak ‘ajimak-saresmi’ lagi demi menjaga si jabang bayi dalam kandungan.
  • Cengkir. Ngencengake pikir artinya membulatkan tekad untuk kelak menyambut kehadiran sang anak yang merupakan ‘titipan Ilahi’. Tekad untuk apa saja ? Ya tekad untuk memelihara dan mendidik hingga menjadi anak yang berbudi pekeri luhur
  • Demikianlah serba sedikit tentang berbagai tradisi yang masih hidup pada masyarakat Jawa. Semua itu ternyata merupakan doa dengan kiasan perlambang atau doa bil isyarah. Jadi jangan cepat-cepat memfonis tahayul dan sebagainya. Karena para leluhur Jawa dahulu memang penuh kehalusan dalam ‘pasemon’ untuk mengungkapkan isi hati. Dari sifat itulah yang kemudian banyak menghasilkan berbagai hasil budaya yang adiluhung misalnya karya batik, wayang kulit, berbagai tembang dan lain sebagainya.

    Salam, Tiknan Tasmaun.

    Wahyu Kamulyan

    Tags:

     
    Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
    Siapa yang menilai tulisan ini?
      -
    Processing data ..
    Tulis Tanggapan Anda
    Guest User


    HEADLINE ARTICLES

    Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

    Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

    Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

    Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

    Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

    Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

    Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

    Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

    Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

    Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


    TRENDING ARTICLES

    Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

    Mania Telo | 6 jam lalu

    Provokasi Murahan Negara Tetangga …

    Tirta Ramanda | 7 jam lalu

    Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

    Hendi Setiawan | 7 jam lalu

    Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

    Alex Palit | 11 jam lalu

    Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

    Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

    Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

    Subscribe and Follow Kompasiana: