
Lahir di Bandung, besar di Cilegon Banten, nakal di Bandung, merasakan pedih nya menuntut ilmu di Sydney Australia, bercinta di Bandung lagi, belajar hidup mandiri di Jakarta sampai akhirnya mencari rejeki di Kramatwatu Banten... oiii Rejeki, where are youuuu ??
Dibaca: 48
Komentar: 0
Nihil
Sekedar menumpahkan kekesalan saya…
Masa-masa Pemilihan Kepala Daerah di daerah Banten saat ini mulai memanas.
Banyak pro dan kontra dengan calon-calon pemimpin daerah yang ‘ beriklan ‘ kesana kemari.
Ada yang menggunakan pendekatan secara personal dengan masyarakat, ada yang menggunakan media, ada yang menggunakan fasilitas PEMDA ( weeeekk ! ) , ada yang menggunakan ‘ uang ‘, dan yang lainnya tidak perlu disebutkan karena sekiranya semua sudah ‘ mengerti ‘ the art of war para calon pemimpin daerah.
Tapi sepertinya saya tidak perlu mengikuti sejauh itu jika ingin mencari calon pemimpin daerah yang ideal. Pengalaman saya bercerita bahwa image yang mereka bangun kadang tidak sejalan dengan tindak tanduk mereka sehari-hari.
Pengalaman yang saya alami ini terjadi pada tanggal 02 Mei, sekitarĀ jam 17.30.
Ketika saya pulang dari tempat usaha, saya terjebak kemacetan yang seperti biasa dikarenakan oleh padatnya kendaraan karyawan yang pulang kantor.
Kemacetan tidak begitu parah hanya beberapa ratus meter dan kebetulan sudah ditangani oleh petugas kelurahan yang berkordinasi dengan aparat kepolisian.
Masyarakat sekitar sudah maklum dan mengantri seperti biasa mereka lakukan setiap sore menjelang maghrib.
Ketika saya terbebas dari kemacetan tersebut saya sempat terkejut melihat serombongan kendaraan yang dipimpin oleh sebuah kendaraan POLISI mencoba melawan arah dan kebetulan berada didepan kendaraan saya.
Tidak mungkin saya menepi karena dibahu jalan sebelah kiri saya terparkir sebuah kendaraan yang mogok. Mencoba menepi ke kanan juga tidak mungkin karena antrian kendaraan dari arah yang berlawanan.
Lucu nya sang Bapak Polisi yang entah siapa namanya… Yang pasti kumisnya tebal ( biar keliatan sangar ) dan perut yang balapan dengan ujung hidung turun dari mobil dan menghampiri saya sambil marah-marah.
Saya dituduh menghalangi jalan seorang calon pemimpin daerah !
Wah kasus baru nih !
Saya pernah dituduh berbohong, pernah dituduh mencuri, pernah pula dituduh menghamili anak orang ( ya masa menghamili anak kambing sih ? ) , tapi dituduh menghalangi jalan CALON PEMIMPIN DAERAH ??
Ini hal baru.
Senyum saya malah ditanggapi dengan pelototan sang pengawal iring-iringan Calon Kepala Daerah tersebut.
Tindakan sang aparat menyulut amarah saya…
Entah karena emosi atau nekad yang melandasi tindakan saya berikutnya…
Saya turun dari kendaraan dan membiarkan kendaraan saya menghalangi antrian dan secara tidak sadar ikut mempermalukan diri saya sendiri dihadapan banyak orang.
” Sudah tau macet koq masih mau melawan arah ? “ Tanya saya.
” Bapak harap minggir, kendaraan bapak menghalangi jalan ! “ Sahut sang aparat.
” Bukannya sebaiknya bapak yang minggir ? “ Emosi saya mulai tersulut.
” Ehh Bapak menghalangi jalan CALON KEPALA DAERAH kota ****** ! “ Teriak sang aparat.
” Bapak bisa ditangkap karena menghalangi perjalanan kami ! “ Tambah rekan sang aparat yang entah darimana sudah mengelilingi saya.
Ahh beraninya keroyokan euy.
Entah dari mana kalimat yang saya sebutkan berikutnya memicu tanggapan dari pengendara lain.
” Baru jadi CALON aja sudah seenaknya begini ! Bagaimana nanti udah menjabat ?? “.
Terdengar diantara emosi saya yang sedang berkobar teriakan-teriakan pengendara lain.
Entah apa kata mereka karena emosi membuat saya tuli dengan lingkungan sekitar.
Saya masih kesal tapi saya pikir lebih baik mengalah saja daripada urusan jadi panjang..
Saya masuk kedalam kendaraan dan dibantu oleh petugas kelurahan setempat mencoba meminggirkan kendaraan kearah kiri. Berhasil walaupun butuh perjuangan karena memang kondisi jalan saat itu sangat padat ( yaaa ditambah ulah saya juga sih ).
Ketika iring-iringan ‘ Calon kepala daerah ‘ tersebut berpapasan melewati kendaraan saya, terlihat wajah-wajah ketus yang memandang saya dengan jijik.
Peduli amat !
Seorang penarik becak yang kebetulan ada didekat saya berkata,
” Memang betul kata bapak tadi.. Mereka itu baru calon…. Gimana kalo sudah menjabat ? “.
Seorang bapak yang sedari tadi melihat aksi saya mendekat dan menjabat tangan saya.
” Sekali kali pemimpin harus mendapat perlawanan dari yang dipimpinnya. “
Sekelompok anak muda mengacungkan jempol kepada saya.
Petugas kelurahan memandang saya dengan acuh dan mengisyaratkan untuk segera pergi. Kesal dia karena pekerjaannya direpotkan oleh ulah saya..
Membawa kendaraan pulang dan masih ditemani oleh kekesalan memang tidak nyaman..
2 pertanyaan yang memenuhi kepala saya sampai saat ini….
Bukankah seharusnya pemimpin itu turut merasakan penderitaan rakyatnya ?
Bukankah sudah semestinya para pemimpin itu memberikan teladan yang baik kepada masyarakat ?
Saya setuju dengan komentar bapak penarik becak…
“…. Mereka itu baru calon…. Gimana kalo sudah menjabat ? “.
Terimakasih telah meluangkan waktu membaca kekesalan hati saya..
Salam.