Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ws-thok

Lahir di Jawa-Timur, besar di Jawa-Tengah, kuliah di DI Yogyakarta, berkeluarga dan tinggal di Jawa-Barat, selengkapnya

Aku Suka Bola, Kau Suka Bakso

HL | 02 May 2010 | 17:53 Dibaca: 361   Komentar: 19   3

http://mansatumagelang.wordpress.com

Sumber Ilustrasi: http://mansatumagelang.wordpress.com

Pada umumnya wanita suka bakso, pria suka (sepak) bola. Entah berapa kali mendengar dan dari siapa, saya kurang memperhatikan apalagi mencatatnya. Saya percaya dengan pernyataan itu, karena menilik latar belakangnya, pria sering bermain bola ketika kecilnya, sedangkan wanita sering bermain masak-memasak sejak kecilnya. Tukang bakso dorong yang saya tanyai mengatakan langganannya kebanyakan wanita. Silahkan dibuktikan sendiri berapa persentase pria dan wanita penonton sepak bola dan pengunjung warung bakso.

Kesamaan dari kesukaan itu adalah berhubungan dengan benda berbentuk bulat yang harus masuk ke suatu lubang. Perbedaannya, yang satu memuaskan mata, yang lain lidah. Main atau nonton bola kurang lebih 90 menit, makan bakso bisa lebih dari itu, karena sambil ngrumpi membicarakan take home pay, eh maksudnya take him out atau take me out, acara stasiun televisi Indosiar yang sedang ngetop.

Banyak teman saya meski jarang main bola, namun keranjingan nonton bola. Tayangan pertandingan bola larut malam hingga dini hari pun jarang dilewatkan, hapal nama pemain bola dan tahu peringkat terakhir tiap-tiap klub liga Eropa. Banyak pemain top dunia non sepakbola, mengisi hobinya dengan bermain bola, jarang sebaliknya, saya kok belum pernah lihat David Beckham main bulutangkis. Bahkan mantan presiden kita yang (maaf) terganggu penglihatannya itu, piawai pula menjadi komentator bola.

Tentang bakso, mana saja warung bakso enak, bisa bertanya kepada teman-teman wanita. Penjual bakso kebanyakan pria, dan sudah biasa seorang penjual bosan makan dagangannya. Saya pernah melihat penjual bakso dan bubur saling bertukar makan dagangannya, indah dan mengharukan. Wanita akan lebih antusias bila diajak ke warung bakso daripada ke stadion nonton bola.

Adakalanya wanita menyukai bola dan pria menyukai bakso. (Maaf, tepatnya sih wanita menyukai pemain bola). Kekecualian itupun lebih untuk tenggang rasa atau alasan tertentu. Biasalah seseorang rela menemani dan menyenangkan orang yang dikasihinya menonton bola atau jajan bakso.

Lalu, apa istimewanya kesukaan itu?

Pertanyaan ini sebagai awal kesulitan saya mencari argumentasi terhadap hipotesa atau lebih tepatnya intuisi saya. Intuisi saya membisikkan: bola dan bakso menjadi indikator normal tidaknya pria dan wanita, yaitu maskulin tidaknya pria dan feminim tidaknya wanita. Batasan sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia: maskulin adalah bersifat jantan, dan feminim adalah bersifat kewanitaan. (jw: Lanang tenan, wedok tenan).

Saya kurang tahu apakah sudah ada penelitiannya, yang jelas membutuhkan tenaga dan waktu untuk melakukannya. Sambil berharap ada yang kurang kerjaan mau melakukannya, Anda pun bisa melakukan pengamatan sendiri, terutama yang menganggap penting atau mendambakan kemaskulinan dan kefeminiman pasangan atau buah hati (anak) Anda.

Hasil pengamatan Anda bisa mendukung atau bertentangan dengan intuisi saya. Kalau membenarkan intuisi saya, pernyataan di awal tulisan bisa diartikan: umumnya pria adalah maskulin dan wanita adalah feminim. Selanjutnya mudahlah mengetahui maskulin dan feminim tidaknya seseorang dengan memperhatikan (jangan menanyakan, boleh jadi ia membaca tulisan ini juga) kesukaannya.

Di acara Indosiar barangkali akan ada pria yang mensyaratkan wanita idamannya berhobi makan bakso, sebaliknya wanita mengidamkan pria yang berhobi sepakbola.

Juga, lembaga atau perusahaan yang membutuhkan karyawan dengan persyaratan maskulin atau feminim, akan mudah pula melakukan perekrutan. Program pembentukan karakter maskulin atau feminim pun akan lebih jelas dan fokus, tinggal latihan sepakbola dan membentuk komunitas pencinta bola ataupun bakso.

Andai hasil pengamatan Anda bertentangan dengan intuisi saya, terima kasih telah melegakan saya dan sekalian mohon maaf, lupakanlah tulisan tendensius dan egois ini, yang sebetulnya ditulis atas dasar kekawatiran pribadi terhadap kualitas kemaskulinan: jangan-jangan bisa menurun akibat mulai kurang menyukai bola?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-Keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Yohanes Surya Intan yang Terabaikan …

Alobatnic | | 02 September 2014 | 10:24

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 6 jam lalu

Ahok, Mr. Governor si “Pembelah …

Daniel H.t. | 7 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 9 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Agung Laksono Lanjutkan Warisan Kedokteran …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Mengenal Bunga Nasional Berbagai Negara di …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Cemburu Bukan Represent Cinta …

Diana Wardani | 9 jam lalu

“Account Suspended @Kompasiana Diburu …

Tarjo Binangun | 9 jam lalu

Mungkinkah Jokowi Bisa Seperti PM India …

Jimmy Haryanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: