Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

“Perempuan Saru”

OPINI | 30 April 2010 | 17:56 via Mobile Web Dibaca: 896   Komentar: 20   5

Ketika kita saling berinteraksi, seringkali terjadi friksi dari yang ringan sampai berat. Friksi bisa berwujud dari rasa tidak suka, tidak sependapat, sampai adu argumen nyolot. Apapun, memang begitu tampaknya yang terus terjadi dalam keseharian, dengan frekuensi yang berbeda pada tiap orang. Harus punya jiwa besar dan hati lapang untuk bisa berdamai dengan yaaa…apapun itu.

Jadi, begini… Bisa dibilang saya ini cewek yang cuek bebek. Mau-lo-kata-apa-so-what-gituh type! Saya tidak akan membahas ini. Adapun hal yang ingin saya sampaikan di sini adalah mengenai tulisan-tulisan/bahasa saya yang ‘polos’. Polos dalam artian agak sedikit kekiri-kirian! Hehehe…

Dengan santai, saya bisa saja ngomong tentang telanjang, bugil, selangkang, barang, penis, payudara, puting, vagina, klitoris, seks, dan bla bla bla yang mungkin akan bikin horny orang yang membaca/mendengar-nya. Tapi, mohon maaf untuk bahasa slang-nya, I really do not like it! To**t, me**k, sudah cukup!!! Saya masih lebih suka dengan slang bahasa inggrisnya. Boobs, dick, cock…dan bla bla bla.

Dan, bagi beberapa (mungkin banyak atau hampir semua?) teman saya (exclude virtual friends), terutama perempuan, risih dengan ‘kepolosan’ saya tersebut. Kenapa sih ngomongin itu kenceng banget? Kenapa sih update status facebook berani begitu? Kenapa sih musti ngetweet ‘aksi di atas ranjang’? Kenapa sih nulis ‘cerpen bau selangkangan’? Kenapa sih chatting kok sepanas itu? Mereka memang tak pernah menanyakan langsung pada saya. Tapi saya tahu bagaimana rasanya ketika mereka memberi tatapan/kata-kata yang ‘apa-sih-lo?!’ setelah membaca/mendengar ‘bahasa’ saya.

Saya tak akan menjawab tanya kenapa-kenapa itu. Cukup tahu saja, bahwa saya memang suka membahas seks dengan lugas! Saya senang bicara ‘topik kekiri-kirian’ itu. Saya akan tertawa ngakak kalau ada humor bau selangkangan. Dan mereka mungkin tak bisa mengerti bagaimana bisa seorang perempuan, masih lajang pula (belum menikah hingga tak pantas bicara seks), sevulgar saya ini! Saya tahu posisi saya sebagai perempuan berbudaya timur dan muslimah yang berjilbab (pula, hingga orang-orang menganggap saya hanya akan bicara tentang ketuhanan). Tidak untuk berdalih, tapi beginilah saya adanya! Saya tetap seorang anak manusia yang disertai hawa nafsu. Obrolan seputar selangkangan setidaknya mengindikasikan saya masih manusia normal! Silakan cap saya ‘perempuan saru’, tapi saya tidak mau pura-pura! Pura-pura risih, pura-pura jijik, pura-pura marah, pura-pura tidak suka!!! Mereka memang tidak akan mengerti ataupun memahami ‘kepolosan’ saya ini sampai mereka pun merasakan menjadi diri saya, berada persis sama dalam kondisi saya. Begitu juga saya tidak akan mungkin mengerti atau memahami mereka yang risih dengan ‘bahasa’ saya. Cukup bagi mereka tahu bahwa inilah ‘bahasa’ saya. Cukup juga bagi saya tahu bahwa mereka risih. Dan saya berusaha untuk berdamai dalam situasi apapun dengan mereka. Usaha dalam bentuk mengurangi ‘kepolosan’ saya langsung di depan mereka. Hehehe…

Well… Beginilah saya adanya! Tidak masalah kalian tak bisa memahami saya, saya pun tak bisa memahami kalian. Cukup saling tahu apa adanya diri masing-masing!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belum Lebaran kalau Belum ke Pasar Malem …

Nanang Diyanto | | 02 August 2014 | 10:03

Upie Guava yang Tetap Rendah Hati …

Ahmad Imam Satriya | | 02 August 2014 | 11:23

Eksotisme Sisi Barat Gunung Kidul …

Yswitopr | | 02 August 2014 | 09:29

Gedung Flora di Malang …

Abdul Malik | | 02 August 2014 | 08:36

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: