Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Sayyed Ep Sayyed Muh Ep

- the Good die young La Haula Wala Quwwata illa Billah

Pahlawan Makassar Bukan Banten?

HL | 30 April 2010 | 17:09 via Mobile Web Dibaca: 2908   Komentar: 2   0

Lelah, penat, bising serta kejadian penundaan jadwal take off demi terlaksananya sebuah pencapaian  jarak perjalanan 1413Km Jakarta- Makassar terobati sudah, setelah saya dan rombongan berhasil landing dengan selamat di bandara International Sultan Hasannuddin Makassar.

Tidak seperti pesawat-pesawat yang pernah mengantarku melewati benua-benua middle east dengan GPS nya, pelayanan Batavia Air memang minimalis baik dilihat dari segi kenyamanan, konsumsi, sampai kecantikan para pramugarinya ( maklum lokal) hehehe pizz.

Sulawesi selatan khususnya Makassar adalah sebuah propinsi yang lumayan maju di bandingkan propinsi-propinsi lain di sekitar timur Indonesa, semenjak menginjakkan kaki untuk kali pertama di bandara Sultan Hasanuddin, decak kagum dalam jantung semakin berdebar, hmmm lumayan juga nih bandara lokal bertaraf internasional copypaste gaya bandara-bandara Negara maju di timur tengah Abu Dabi, Dubai, Cairo dan negara tetangga Singapore yang dilengkapi dengan pasar bebas atau duty free ( suqul hur) n So on.

Sempat bertanya-tanya mengapa bandara besar tersebut dinamakan dengan Sultan Hasanuddin? bukankah selama ini Sultan Hasannuddinyang saya kenal adalah salah satu raja Banten yang ketrurunanya sampai sekarang masih berserakan di sekitar jawa barat dengan julukan Tubagus itu. dari beberapa informasi di internet ternyata Sultan Hasanuddin versi Makassar adalah raja Gowa ke 16, dengan nama asli I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun) .Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur. sama seperti Hasanuddin Banten sampai sekarang keturunannya pun terkenal dengan gelar khusus ” Karaeang”.

Sementara Sultan Hasanuddin versi Banten adalah Fatahillah maulana Hasanuddin ( Sultan pertama Banten) memiliki julukan Panembahan SUROSOAN yang lahir 1552 dan wafat pada tahun 1570. Beliau adalah putra ke empat dari Sunan Gunung Djati Cirebon. dilihat dari silsilah dan tahun kelahirannya sudah berbeda tapi mengapa teman saya yang aseli Makassar mengklaim bahwa Sultan Hasanuddin Banten dan makassar adalah satu Orang? toh keduanya memiliki makam masing-masing, makam Sultan Hasanuddin berada di bukit Tamalate, Kecamatan Somba Opu, Gowa. sementara Makam Hasanuddin Banten berada di dekat Masjid agung kerajaan Banten sana.

pertalian antara MAkassar dan Banten yang saya tahu hanya terjadi pada seorang ulama terkenal bernama Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni, seorang ulama yang lahir di Goa 3 Juli 1626. Syekh Yusuf pindah ke Banten dikarenakan pada waktu itu Kesultanan Gowa mengalami kalah perang terhadap Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan diangkat menjadi mufti di sana.

NB: ternyata foto pahlawan yang ada di dalam 1000/10000 rupiah dulu adalah Sultan Hasanuddin versi Makassar dan bukan Fatahillah dari Cirebon/BAnten.

Marshall

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Senayan Berduka: Wajah Baru Caleg Misterius …

Saefudin Sae | | 25 April 2014 | 08:37

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: