Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Elisabeth Murni

Perempuan. Duapuluhsekian. Suka keliling kota sambil membawa peta. Sering bercerita di www.ranselhitam.wordpress.com

Tak Sekedar Nama

OPINI | 28 April 2010 | 09:40 Dibaca: 981   Komentar: 41   7

“Nduk mbak Painah wis babaran lho,” kata ibu saya beberapa waktu lalu ketika saya pulang ke rumah. Sekedar pemberitahuan, mbak Painah ini adalah salah satu tetangga dan juga orang yang sering membantu pekerjaan ibu di rumah saat beliau sedang sibuk. Kontan saya tanya “Cewek apa cowok bu? Trus sapa namanya?”. “Cewek, jenenge Chelsy Puspita Ratri” jawab ibu. Wedew, sangar juga ni nama anak Mbak Painah, batin saya. “Emang artinya apa bu?” Tanya saya lagi. “Ha embuh, kono takon dewe” (*) jawab ibu sambil lalu.

Sore harinya saat tilik bayi saya iseng nanya ke Mbak Painah tentang arti nama anaknya. Dia cuma mesam-mesem saja. “Kui lho mbak, mbiyen kan aku seneng nonton sinetron Chelsy, njur aku pengen anakku nek wedok tak jenengi Chelsy. Terus nek Puspita Ratri aku nyonto jeneng neng majalah. Ketokmen kok apik. Yowis njur tak nggo gawe jeneng” (**)

Wedew saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Ni orang kasih nama anak kok ndak tau artinya. Setahu saya Ratri tuh artinya malam yang gelap. Jadi anak yang dikasih nama Ratri biasanya lahirnya pas malam. Tapi si Chelsy ini lahirnya di siang bolong kok di kasih nama Ratri. Parahnya lagi kedua orangtuanya juga ndak ngerti arti nama si anak. Padahal kan setahu saya nama itu seharusnya berisikan doa dan harapan dari orangtuanya.

Saya tiba-tiba jadi ingat kata-katanya Om Shakespeare, “What’s in a name?”. Apalah arti sebuah nama. Bunga mawar tidak akan kehilangan keindahan dan keharumannya bila disebut dengan nama lain. Itu katanya. Tapi buat saya yang orang Jawa tulen kalimat itu tidak begitu relevan. Dalam budaya Jawa ada istilah ‘Asma Kinarya Pusaka’ dan Asma Kinarya Japa’, yang kalo saya terjemahkan secara bebas berarti nama itu adalah pusaka dan mantra atau doa. Bagi orang Jawa nama menjadi doa dan harapan yang dijunjung tinggi.

Nama-nama orang Jawa jaman dulu meskipun sederhana namun biasanya penuh makna. Sugiharto misalnya. Nama itu berasal dari kata sugih (kaya) dan arto (uang), jadi kedua orangtua memberi nama itu supaya anaknya menjadi orang yang kaya. Orang orang yang bernama Tukimin, Tukijan, Tuminem, dan Tu-Tu lainnya bisa dipastikan lahir pada hari Sabtu. Orang-orang jaman dulu juga sering member nama anaknya dengan awalan Su yang artinya baik. Sutinah, Sugiono, Suwarti, Sumarwono, dan su-su yang lainya. Maka Anda jangan marah kalau ada orang yang memanggil Anda ‘Su’ itu artinya Anda orang yang baik :mrgreen:

Sepertinya nama-nama tersebut memang terlihat sangat ‘ndeso’ dan tidak keren, namun justru nama-nama itu mengandung makna yang dalam. Kembali lagi ke si Chelsy. Saya heran, kenapa mbak Painah tidak memberi nama anaknya dengan nama yang mengandung doa. Tidak harus nama Jawa, tapi setidaknya dia tahu arti dari nama anaknya, tidak hanya asal comot saja supaya terlihat keren. Dan rupanya hal itu tidak hanya di lakukan oleh mbak Painah saja. Banyak orang-orang di desa saya memberi nama anaknya dengan nama-nama keren semisal Cindy, Tasya, Imelda, Anton, Devon, tanpa mereka tahu maknanya.

Ah rupanya fenomena penggusuran dan perubahan sedang terjadi dimana-mana. Mbah Sadinem yang saya kenal telah tergusur oleh pemerintah dari Pasar Ngasem. Dan saya yakin di luar sana ada banyak Sadinem-Sadinem lain yang juga akan tergusur oleh Cindy, Olivia, Chelsy, dan entah oleh apa lagi.

———–

(*) : entahlah, sana tanya sendiri
(**) : Itu lho mbak, dulu kan saya suka liat sinetron Chelsy. Tarus saya ingin kalau anak saya terlahir perempuan akan saya beri nama Chelsy. Terus kalau nana Puspita Ratri saya nyonto dari Majalah. Soalnya terlihat bagus. Yasudah saya jadikan nama.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

“Blocking Time” dalam Kampanye …

Ombrill | | 24 April 2014 | 07:48

Kota: Kelola Gedung Parkir atau Hunian …

Ratih Purnamasari | | 24 April 2014 | 13:59

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Bila Separuh Gaji Karyawan Memang untuk …

Agung Soni | 4 jam lalu

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 8 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 10 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 11 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: