Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Khusni Mustaqim

ketika semua orang berpikir tentang putih maka aku berusaha untuk berpikir tentang hitam,, ketika semua selengkapnya

Omong Kosong

OPINI | 14 April 2010 | 05:21 Dibaca: 45   Komentar: 0   1

Aku tinggal di sebuah negeri omong kosong. Negeri dimana mereka lebih suka meributkan sesuatu yang baru akan mereka rencanakan untuk dilakukan. Ketika negeri ini masih sibuk berdebat tentang mau makan apa mereka, maka anak-anak mereka sudah mati kelaparan. Mereka sibuk memperdebatkan sistem yang terus menerus mereka ubah tanpa pernah sempat mereka lakukan.

Mereka lebih suka membanding-bandingkan Pancasila dengan ideologi-ideologi lain semisal sosialis, kapitalis, dan menyebutnya sebagai ideologi banci. Akan tetapi jangankan melaksanakannya, mereka bahkan tidak paham apa yang mereka bicarakan. Mereka adalah orang-orang yang hanya bisa mencemooh apa milik mereka sendiri. Mereka itulah banci sebenarnya.

Mereka yang sibuk menyalahkan UAN karena kualitas pendidikan bangsa mereka tidak meningkat secara signifikan. Ayolah, mana ada siswa yang belajar kalau tidak ada UAN. Janganlah kalian menjadi sok humanis kalau kenyataannya apa yang kalian hadapi belum bisa dikatakan sebagai human (manusia). Kalian lihat bagaimana mereka mencontek saat ujian yang bahkan nilainya tidak dihitung oleh guru mereka. Pendidikan kita hancur bukan karena sistem yang ada. Tetapi karena kita tidak bisa melaksanakan sistem yang ada. Bahkan sistem yang relatif sederhana pun tidak bisa kita lakukan tetapi kita berharap terhadap sistem yang rumit? Ah, omong kosong.

Mereka yang sibuk mencibir lalu lintas yang semrawut disaat mereka sendiri sering menerobos lampu merah. Mereka yang sibuk mencibir sistem yang ada tanpa pernah mereka mencoba untuk melaksanakannya. Mereka hanya berharap bahwa segala sesuatunya langsung jadi, tanpa harus mereka bersusah payah. Cukuplah pemerintah yang mengubahnya dalam waktu satu dua hari.

Mereka juga yang sering menghina kinerja pegawai negeri sipil di instansi pemerintah karena kurang sigap dalam bekerja. Sementara mereka sendiri, mengerjakan tugas yang diberikan dosen atau guru menjelang hari pengumpulan dengan seadanya. Memang sama saja.

Ah, negeri ini memang negeri kata-kata. Berharap segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan kata-kata. Di saat kita sibuk mennyalahkan sistem, namun sebenarnya diri kitalah yang salah karena gagal menjalankannnya. Bukan sistem yang gagal meraih tujuan, tetapi kita yang gagal menjalankan sistem. Sebaik apapun strategi jika tidak kita lakukan tetap saja tidak berarti apa-apa. Tetapi menyalahkan sistem jauh lebih enak dihati daripada menyalahkan diri sendiri bukan?

Memang omong kosong. Kita ini omong kosong. Sudahlah lakukan saja dulu dan lihat hasilnya. Jika menanak nasi saja kita tidak bisa dan tidak mencoba untuk melakukannya, bagaimana kita bisa berharap makan nasi goreng?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada Kain Benang Emas dan Ulos Gendongan Bayi …

Piere Barutu | | 24 April 2014 | 22:40

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | 9 jam lalu

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 11 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 11 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 12 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 15 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: