Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Lona Hutapea

A lifelong learner. Ibu rumah tangga. Menulis untuk sekedar berbagi, menyalurkan aspirasi, sekaligus dokumentasi pribadi.

Dari Paris (1): Monalisa - Kecil itu Indah

HL | 10 April 2010 | 17:18 Dibaca: 694   Komentar: 9   2

Siapa yang tak kenal Monalisa ? Di seluruh dunia, lukisan yang dibuat berabad-abad lalu ini sudah tak asing lagi. Sebagai sebuah masterpiece, ia bahkan telah menginspirasi begitu banyak karya seni lainnya. Tak terhitung pula jumlah anak-anak perempuan yang namanya berasal dari karya Leonardo Da Vinci ini, termasuk beberapa sahabat masa kecil saya.

Saya sendiri baru bersua dengan Monalisa kurang lebih setahun yang lalu, saat pertama kali mengunjungi Musée du Louvre bersama keluarga, beberapa minggu setelah menjejakkan kaki di Paris.  Akhirnya datang juga kesempatan melihatnya dari dekat, berhadapan langsung dengan lukisan yang dipercaya sebagai potret Lisa Gherardini, isteri Francesco del Giocondo, pedagang sutera kaya dari Florence itu.

Meskipun merupakan karya pelukis Italia, Monalisa secara resmi adalah milik Pemerintah Perancis setelah dibeli oleh Raja Francois I pada abad ke-16, dan telah beberapa kali berpindah tempat, mulai dari Kastil Fontainebleau, Istana Versailles, Istana Tuileries, hingga akhirnya Musée du Louvre, sampai sekarang.

Musée du Louvre (dok. pribadi)

Kesan pertama bertatap muka dengan Monalisa tidak begitu istimewa, malah bisa dibilang agak mengecewakan. Kami berkunjung ke Musée du Louvre bertepatan dengan Paris Museum Free Day yang jatuh pada hari Minggu pertama setiap bulan. Memang nyaman di kantong, tidak perlu mengeluarkan satu Euro-pun untuk menikmati karya-karya para seniman kelas dunia yang terpajang di sana. Namun konsekuensinya, kami harus rela mengantri cukup panjang untuk masuk ke museum melalui piramida kaca yang tersohor setelah diekspos dalam karya fiksi Dan Brown itu.

antrian panjang (dok. pribadi)

Bisa dibayangkan, perjalanan mengelilingi museum pun tidak begitu nyaman, karena arus pengunjung yang sangat ramai, nyaris berdesakan. Dan hampir bisa dipastikan, paling tidak 90% akan mengarah ke Denon Wing, salah satu bagian dari Louvre yang antara lain menyimpan koleksi hasil karya para pelukis Eropa, termasuk tentu saja lukisan sang wanita pemilik senyum misterius itu.

berdesakan dalam museum (dok. pribadi)

La Joconde / Monna Lisa (dok. pribadi)

Begitu memasuki area Denon Wing, kami disambut oleh ratusan lukisan yang luar biasa indah dengan beragam warna dan berbagai ukuran.  Di sepanjang jalan terpasang panah penunjuk bertuliskan “Monna Lisa (La Joconde)”.  Memang aslinya terdapat dua buah huruf ‘n’, dan kata ‘Monna’ dan ‘Lisa’ ditulis terpisah.  ‘Monna’ disingkat dari kata ‘Madonna’ (Italia: my lady) dan ‘Lisa’ adalah nama sang model. Versi ini memang tidak begitu populer, biasanya hanya digunakan dalam Bahasa Italia dan Perancis.  Sedangkan ‘La Joconde’ (Perancis) atau ‘La Gioconda’ (Italia) sendiri diambil dari nama keluarga suaminya, Giocondo (untuk wanita huruf terakhir ‘o’ berubah menjadi ‘a’) — juga bisa dikaitkan dengan kata jocund (Inggris: senang, ceria), sesuai ekspresi wajah Monalisa yang sedang tersenyum.

Berjalan mengikuti arah panah, menyusuri tembok-tembok penuh lukisan yang sebagian besar menggambarkan perstiwa kelahiran, penyaliban & kebangkitan Yesus Kristus, tibalah kami pada salah satu ruangan di Denon Wing dimana panah-panah tersebut berakhir.  Di bagian tengah ruangan, terlihat kerumunan orang yang sibuk menjepret-jepret mulai dari HP, kamera saku, sampai kamera yang terlihat sangat ‘serius’.  Mulanya saya agak bingung, apa yang dipotret, karena kerumunan mereka benar-benar menutupi objek yang dipotret.

Sambil menunggu keramaian agak mereda, kami menikmati lukisan-lukisan lain di ruang itu. Di sisi paling depan, tergantung lukisan raksasa yang menutupi hampir seluruh dinding. Inilah Les Noces de Cana - The Wedding at Cana karya pelukis Italia Paolo Veronese, yang melukiskan peristiwa mujizat pertama yang dilakukan Yesus dimana Ia mengubah air menjadi anggur dalam sebuah pesta pernikahan.  Lukisan ini merupakan lukisan terbesar yang ada di museum itu.

Les Noces de Cana, lukisan terbesar di Louvre (dok. pribadi)

Akhirnya, setelah lebih mendekat dan melongok-longok melewati bahu orang-orang di depan saya, voila… elle était là, there she was — La Joconde, Monna Lisa, atau Monalisa… duduk manis melipat tangan di atas pangkuannya, tersenyum penuh damai menatap saya. Saya pun terpana…

Ternyata, oh ternyata… sang primadona Musée du Louvre begitu mungilnya… Apalagi dibandingkan Les Noces de Cana yang baru saja kami nikmati 5 menit sebelumnya, hampir terasa seperti sebuah anti-klimaks. 77cm x 53cm, dibandingkan dengan 990cm x 666cm, tentu saja sangat ekstrim!

Monna Lisa di balik kaca, sulit didekati (dok. pribadi)

Sesaat hampir saja muncul perasaan kecewa, nyaris saya menggerutu, “Hah!!! Nggak salah nih? Cuman kayak gini doang???” - seperti komentar yang hampir selalu terdengar dari para tamu yang pernah kami antarkan untuk melihat Monalisa.  Sudah berkali-kali kalimat serupa saya dengar terucap dari bibir kerabat dan kenalan yang mendapati bahwa ‘cuma segini rupanya’ lukisan yang demikian ternama itu.  Apalagi lapisan kaca tebal anti peluru yang dipasang untuk melindunginya membuat Monalisa agak berkesan ‘gelap’.

Saya jadi penasaran, sebenarnya apa sih yang membuat Monalisa demikian tersohor? Terus terang selama ini saya sangat awam, mungkin seperti kebanyakan orang yang hanya sepintas ‘merasa tahu’ tanpa pernah tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Apakah memang lukisan yang disebut-sebut sebagai world masterpiece ini memang sedemikian luar biasa? Apakah ia memang pantas menyandang gelar ‘primadona’ dan menjadi buah bibir selama berabad-abad? Atau sebaliknya, apakah ukurannya yang (ternyata) begitu kecil membuat nilai maha karya ini menjadi berkurang?

Beberapa referensi yang (baru setelahnya) saya baca mempertegas selebritas lukisan yang selama ratusan tahun menjadi icon yang diperbincangkan, diperdebatkan, dan diperebutkan itu. Situs wikipedia memastikannya sebagai lukisan paling terkenal di dunia - ‘perhaps the most famous and iconic painting in the world’. Di sebuah situs lainnya Monalisa bahkan diklaim sebagai ‘without doubt the most famous work in the entire forty thousand-year history of visual art’. Wow !!!

Paling tidak, menurut beberapa sumber, ada beberapa faktor yang menjadikannya demikian termashyur dan bernilai; baik dari sudut pandang sejarah, nilai finansial, maupun nilai seni yang dikandungnya.

HISTORIS

Leonardo Da Vinci mulai menggoreskan kuasnya untuk mengabadikan figur Lisa del Giocondo di atas kanvas atas permintaan sang suami, Francesco, lebih dari 500 tahun yang lalu. Setelah berkutat dengan lukisan potret ini selama 4 tahun, ia berhenti di tengah jalan dan lukisan setengah jadi itu turut dibawa saat ia pindah ke Perancis. Potret Monalisa baru dirampungkan kira-kira 16 tahun kemudian, beberapa saat sebelum sang maestro berpulang.

Raja Francois I yang membeli 'La Joconde', menjadikannya milik bangsa Prancis (dok. pribadi)

Monalisa kemudian berganti-ganti pemilik, beredar di antara nama-nama besar dalam sejarah Perancis, mulai dari Raja Francois I, Louis XIV (The Sun King), sampai Napoleon Bonaparte.  Ia menjadi bagian dari gelimang kemegahan negeri ini — berawal dari Château Fontainebleau, Palais de Versailles, Palais de Tuileries menghiasi kamar tidur Napoleon, dan kemudian berakhir di Louvre.  Betapa panjang perjalanan dan betapa jauh sejarah telah membawanya  menyaksikan pergantian kekuasaan dan proses panjang transformasi negara itu sampai kini.

Monalisa pun sempat melanglang buana. Pada tahun 1962-1963 ia dipinjamkan kepada Amerika Serikat untuk dinikmati oleh publik di New York dan Washington, DC. Berikutnya di tahun 1974 giliran warga Tokyo dan Moskow yang beroleh kesempatan untuk menikmati keindahannya.

Namun jauh sebelumnya, pihak Musée du Louvre sempat dikejutkan oleh raibnya lukisan ini pada tahun 1911. Usut punya usut, ternyata Vincenzo Peruggia, salah satu karyawan museum berkebangsaan Italia-lah yang telah mencurinya. Ia menganggap Monalisa sebagai milik bangsa Italia yang patut dikembalikan ke negara asalnya. Hal ini baru terungkap dua tahun kemudian, padahal sebelumnya beberapa nama lain sempat dicurigai dan diinterogasi, termasuk Pablo Picasso, pelukis Spanyol ternama yang juga hijrah ke Paris. Di negaranya Peruggia malah dianggap sebagai pahlawan dan hanya diganjar hukuman ringan atas aksinya itu.

LUKISAN TERMAHAL

Sebelum bertolak ke negeri Paman Sam pada tahun 1962-1963, nilai lukisan ini ditaksir mencapai US$ 100 juta.  Meskipun belakangan ada beberapa lukisan yang terjual dengan harga sampai US$ 140 juta di tahun 2006, sesungguhnya nilai tersebut masih berada jauh di bawah Monalisa yang (dengan memperhitungkan inflasi tahun 1962-2009) nilainya mencapai US$ 700 juta.

REVOLUSIONER & MISTERIUS

Leonardo Da Vinci, sang maestro nan revolusioner (dok. pribadi)

Monalisa yang lahir dari tangan Leonardo Da Vinci merupakan sebuah revolusi dalam sejarah Seni Lukis.  Da Vinci sendiri memang seorang seniman yang revolusioner, dan beberapa teknik baru yang diterapkannya menjadi terobosan dan landasan dalam teknik melukis yang terus ditiru hingga sekarang.
Dari beberapa sumber terungkap bahwa posisi Monalisa - duduk sambil melipat tangan - secara keseluruhan menciptakan bentuk ‘piramida’ yang sangat berbeda dengan gaya lukisan-lukisan potret diri yang dibuat sebelumnya. Posisi ini menjadi gaya standar sampai saat ini.  Proporsi antara sang model lukisan dengan landscape yang melatarbelakanginya juga dianggap revolusioner dan menjadi pelopor dalam khasanah Seni Lukis.

Last but not least, senyum simpul Monalisa yang mengundang berbagai penafsiran dan kontradiksi. Senyumnya dianggap enigmatic, mengandung misteri yang memancing rasa ingin tahu. Simak saja lirik lagu yang dipopulerkan Nat King Cole ini:

Monalisa, Monalisa, men have named you
You’re so like a lady with the mystic smile…
… Do you smile to tempt the lovers, Monalisa?
Or is this your way to hide the broken heart?”

Misteri senyum Monalisa memang sangat memukau justru dalam kesederhanaannya, hingga mampu menjadi inspirasi sejumlah besar seniman yang hadir kemudian. Tak kurang dari nama-nama tenar di panggung seni seperti Salvador Dali dan Andy Warhol punya kontribusi dalam menghasilkan karya-karya seni yang bersumber dari Monalisa. Sigmund Freud, psikolog terkenal pun tergelitik untuk menganalisa senyuman Monalisa.

Bahkan sampai detik ini popularitas Monalisa tak kunjung surut. Ia masih menjadi icon dan sumber inspirasi.  Statistik Pemerintah Perancis mencatat, dari total 78 juta turis yang berkunjung ke Perancis setiap tahunnya, 7 juta di antaranya (lebih dari 22 ribu/hari) menyambangi Musée du Louvre, menjadikannya tujuan wisata utama negara ini, disusul oleh La Tour Eiffel (6,4 juta).  Dapat dipastikan, sebagian besar di antara mereka rela berdesakan di antara kerumunan orang yang menyemut di depan Monalisa, seperti kami.

Ternyata ia memang pantas disebut primadona, maha karya yang penuh pesona. Ukuran mungilnya tidak mengurangi daya tarik, popularitas, dan terutama nilai seninya. Saya belajar lagi, memang benar ‘kecil-kecil cabe rawit’…  small is beautiful, kecil itu indah !

Sumber: www.wikipedia.org, www.diplomatie.gouv.fr

Artikel terkait :

Dari Paris (2): Dilarang Bercelana Panjang !

Dari Paris (3): Picasso - Dulu (Dituduh) Mencuri, Kini (Sering) Dicuri

Dari Paris (4): Champs-Élysées Mendadak Hijau

Dari Paris (5): Je T’aime (Bonne Fête, Maman)

Dari Paris (6): ‘Aceh Tersenyum’ di Paris

Warna Warni ‘Festival de Cannes’

D-Day at Normandy Beach (Pendaratan Sekutu, 6 Juni 1944)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 9 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 10 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 13 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 14 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: