Artikel

Sosbud

Yoes Sachri

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Mantan jurnalis dan pengawas Pemilu. Ingin terus menulis dan menulis. Meminati politik, ekonomi, sosial, seni, budaya, wisata, otomotif, media dll

Memaknai Ramalan Jaya Baya


OPINI | 11 April 2010 | 20:19 Dibaca: 527   Komentar: 3   1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik

Memaknai Ramalan Jaya Baya:
Membaca tulisan Kelirumolog Jaya Suprana pada Harian Kompas tanggal 10 April 2010 bertajuk “Indonesia dan Ramalan Jayabaya”, meski sama dengan Jaya Suprana tidak percaya betul pada ramalan, namun jika dikaitkan dengan peristiwa yg terjadi di bumi Indonesia tercinta akhir-akhir ini, ada benarnya juga. Ada kemiripannya dengan ramalan Jaya baya tersebut.
Rangkaian petilan salah satu versi Ramalan Jayabaya dalam bentuk syair berbahasa Jawa ternyata memiliki kandungan makna yg selaras dan sesuai dengan berbagai prahara etika, moral, dan akhlak yang sedang melanda negara dan bangsa Indonesia di masa 853 tahun setelah wafatnya Jayabaya.
Syair ramalan Jaya Baya spt ini:

pancen wolak-waliking jaman, amenangi jaman edan

ora edan ora kumanan /sing waras padha nggagas

wong tani padha ditaleni/ wong dora padha ura-ura

beja-bejane sing lali, isih beja kang eling lan waspadha

wong waras lan adil uripe ngenes lan kepencil

sing ora abisa maling digethingi/sing pinter duraka dadi kanca

wong bener sangsaya thenger-thenger/wong salah sangsaya bungah

akeh bandha musna tan karuan larine

akeh pangkat lan drajat padha minggat tan karuan sebab

akeh wong nglanggar sumpahe dhewe/manungsa padha seneng ngalap,

tan anindakake hukuming Allah

barang jahat diangkat- angkat /barang suci dibenci

sing edan padha bisa dandan/ sing ambangkang padha bisa

nggalang omah gedong magrong-magrong
(sungguh zaman gonjang-ganjing, menyaksikan zaman gila tidak ikut gila tidak dapat bagian /yang sehat pada olah pikir

para petani dibelenggu/para pembohong bersuka ria

beruntunglah bagi yang lupa/masih lebih beruntung yang ingat dan waspada

orang waras dan adil hidupnya memprihatinkan dan terkucil yang tidak dapat mencuri dibenci /yang pintar curang jadi teman

orang jujur semakin tak berkutik / orang salah makin pongah

banyak harta musnah tak jelas larinya / pangkat dan kedudukan lepas tanpa sebab

banyak orang berjanji diingkari / banyak orang melanggar sumpahnya sendiri

manusia senang menipu / tidak melaksanakan hukum Allah

barang jahat dipuja-puja / barang suci dibenci

yang gila dapat berdandan

yang membangkang bisa punya rumah-gedung mewah-megah)

Memaknai syair itu, saat ini kita seakan berada pada kumparan jaman yg tergambar oleh Jaya baya. Betapa tidak bencana alam saling susul menyusul menghancurkan beberapa wilayah negeri ini. Mulai Tsunami Aceh, Tsunami Pangandaran dan panytai selatan Jawa, gempa bumi Yogya, Tasik, Padang, bencana banjir, kecelakaan pesawat terbang, KA, bus dll. Juga krisis kepercayaan kepada pemerintah dan penegak hukum. Banyak orang lorupsi, banyak orang yang memikiki gedung mewah meski hanya pegawai rendahan. Akhirnya banyak harta kekayaan sia-sia karena keserakahan pemiliknya. kekayaan fantastis Gayus Tambunan pegawai pajak yg memiliki harta, rumah dan uang milyaran ini suatu bukti kecil dari ramalan tersebut.
Ini jaman edan, kalau ga edan ga akebagian. begitu barangkali yg ada dibenak para koruptor dan oknum-oknum yg mementingkan diri sendiri. “Emang Gue Pikirin (EGP), lu-lu, gue-gue,” ucap mereka.
Karena itu patut kita renungkan makna adari ramalan ini tidak sekedar mengkait-kaitkan dengan kondisi terkini bangsa ini, tapi bagaimana kita berupaya terhindar dari bahayanya kalau hidup tanpaa arah, dan hanya mementingkan diri sendiri. Kebersamaan tetap kita butuhkan, utamanya dalam menyelematkan bangsa dan negara kita tercinta. Semoga.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: