Artikel

Sosbud

Elfitraugustin

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

[copy]writer . illustrator . designer . vocal player

Kisah Taksi Bandara


REP | 03 April 2010 | 01:22 Dibaca: 222   Komentar: 3   1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik

Berbagi kisah taksi menaksi di bandara.

1 April lalu saya kembali ke Jakarta dari 3 hari tamasya ke Jogja. Setibanya di terminal 3, dari sejuk menjadi panas luar biasa di luar sana. Tentu saja saya tak ingin basa basi dan ingin segera kembali ke rumah secepatnya, dengan taksi, karena bawaan banyak sekali dan ada Ibu serta Adik saya. Kalau saya sendiri, mungkin naik Damri saja gampang.

Saya hendak memanggil taksi pas di tempat drop in penumpang, namun diarahkan ke lokasi tunggu taksi. Okey, itu sepertinya rule yang sudah ada. Akhirnya kami menuju kesana.

Saya kurang faham dengan peraturan yang ada karena ini kali kedua ke bandara semenjak lebih dari 10 tahun lebih yang lalu. Saya menunggu taksi Blue Bird yang sudah saya percayai di lokasi itu. Banyak taksi lain yang parkir, yang namanya belum pernah saya dengar sama sekali, saya tetap menunggu Blue Bird. Akhirnya setelah beberapa menit, datang lah 1 orang menurunkan penumpang. Saya langsung menghentikan, namun bapaknya menunjuk2 ke depan yang saya tangkap “kedepanan dikit” tapi ternyata dia melaju. Akhirnya ada mas2 yang bilang kalau saya sebaiknya minta nomor antrian taksi. Okay, akhirnya saya minta nomor.

Saya mendapatkan giliran ke 7. Dan sepertinya karena mau long weekend juga, jadi taksi sangat jarang. Saya sempat heran-heran, bukan hanya saya saja tapi banyak orang, yang melihat banyak taksi yang menurunkan penumpang, tapi tidak dipanggil ke lokasi tunggu taksi, meski ia berstiker bandara. Akhirnya setelah kebingungan di tengah panasnya terik mentari siang itu, saya memilih menunggu selama hampir satu jam barulah kami mendapatkan taksi.

Di dalam taksi, perbincangan pun berlangsung dan akhirnya saya mengerti dan mengetahui banyak hal.

Jadi ternyata semua taksi yang bisa ada di lokasi tunggu taksi itu, haruslah yang berstiker bandara. Resmi, begitulah.

Meskipun taksi berstiker bandara meurunkan penumpang, mereka nggak boleh ngambil penumpang, karena akan ditangkap oleh petugas dan didenda 6 jam menunggu di pool bandara.

Semua taksi, termasuk yang berstiker bandara, harus mutar ke pool taksi bandara dan mengambil tiket. Tiket itu seharga Rp 10.500 yang biayanya dikenakan kepada penumpang.

Saya yang sempat sebal kenapa demikian, dijelaskan, kalau biaya itu ibarat ongkos masuk. Karena bandara itu milik PT. Angkasa Pura dan taksi2 yanga da kan, dengan kata lain, menyewa lahan milik PT tersebut. Jadi harus bayar.

Hmm.. mungkin kalau tidak ditertibkan seperti itu, bandara jadi berantakan. Taksi2 acak adut kemana-mana dan tidak teratur.

Cuma, lumayan juga yah 10.500 itu… Hmm.. Banyak orang yang karena sakil lamanya dan bertele-tele (plus kepanasan gila juga) akhirnya beralih dari Blue Bird ke taksi tak dikenal lainnya. Wahahh, emosi dan terik bisa bikin orang nggak sabaran, tentunya.

Ada yang punya kisah taksi bandara? mari share disini :)

Thanks!

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: