
Dulu wartawan peliput politik nasional dan internasional. Sekarang sehari-hari ikut 'ngurusin' harian Kompas, Kompas.com, dan Kompas TV.
Dibaca: 467
Komentar: 51
7 dari 15 Kompasianer menilai Bermanfaat
(Tulisan ini yang kedua, karena tulisan yang pertama hilang setelah klik publish)
Saat montly discussion di Santika hari Sabtu (27/3/2010), seorang kompasianer bertanya kepada narasumber Jakob Oetama, pemimpin umum harian Kompas: “Bisakah kita menulis tanpa membaca?” Saya tertarik dengan pertanyaan itu karena sedikit banyak mewakili pertanyaan saya, meskipun saya sendiri sudah tahu jawabnya. Yakni, tidak mungkin!
Karena pekerjaan - dan segala alasan yang bisa dicari-cari - kita memang sulit meluangkan waktu untuk membaca buku, sehingga proses pengayaan intelektualitas kita sulit berkembang dengan cepat. Banyak orang, termasuk saya, sudah malas membaca buku, apalagi buku tebal-tebal, kecuali dalam perjalanan panjang yang kira-kira akan membosankan kalau tidak melakukan apa-apa.
Tetapi bagaimana kalau keinginan menulis itu tinggi, sedangkan kita tidak suka membaca. Saya lalu menduga-duga bahwa konsep membaca di sini telah diartikan secara sempit. Membaca terbatas kepada usaha membuka lembar-lembar buku atau koran. Padahal ketika kita melakukan browsing di internet, juga bagian dari membaca. Browsing lalu bisa diartikan sebagai upaya membaca.
Satu hal lagi yang selama ini mungkin luput dari pengertian “membaca” secara luas, yakni melihat pengalaman hidup hari perhari. Kalau kita memperhatikan secara seksama apa yang kita telah lakukan hari ini itu sebenarnya sama dengan membaca secara visual dan secara maya, bukan?
Maka kalau konsep membaca kita perluas, tidak hanya sekedar membuka lembaran buku, tetapi juga browsing internet, dan melihat pengalaman kita, serta juga pengalaman orang lain, maka sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bisa menulis.
Dengan pengalaman hadir di Modis itu, saya jadi memiliki inspirasi untuk menulis seperti ini, setelah saya melihat audiens, mendengar pertanyaan, dan lalu mengolahnya dalam pikiran. Sekarang saya tuangkan dalam bentuk tulisan.
Pengalaman saya menunjukkan bahwa ketika kita tidak melakukan “baca”, maka memang tidak ada inspirasi yang berkembang. Beberapa kali saya bermaksud menulis, tetapi di tengah jalan terhenti hanya karena gagasan tidak berkembang. Itu semua akibat tidak “membaca” dengan baik.
Mudah-mudahan dengan mengembangkan konsep membaca tadi, kita tidak punya lagi alasan untuk tidak bisa menulis. Harapan yang sama sebetulnya ditujukan kepada saya sendiri!
Maka selamat membaca, semoga kita semua menjadi penulis handal!