Kompasiana
Selasa, 07 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Red

apapun warna kulitnya, warna matanya, warna rambutnya, atau warna bajunya..... tetap merah warna darahnya!

Menikah Vs Tidak Menikah Vs Hidup Bersama

OPINI | 22 March 2010 | 13:56 1185 38 2 dari 4 Kompasianer menilai Menarik

Menikah adalah idaman semua orang, tidak menikah adalah suatu keputusan dan hidup bersama adalah pilihan dari sekian banyak pilihan hidup.

Ketika kita memutuskan untuk menikah tentunya juga merupakan suatu keputusan dari sekian banyak pilihan dalam kehidupan. Tentunya kita sudah punya pilihan siapa pasangan hidup kita yang akan diajak susah, senang, sakit bersama. Ada suatu komitmen bersama untuk melakukan segala sesuatu bersama-sama atau paling tidak saling mengetahui apa yang dilakukan pasangan kita sekarang dan yang akan datang. Bagaimana keputusan yang sudah dilakukan pada saat belum menikah? Ada yang mengatakan pasangan kita perlu tahu, ada pula yang mengatakan sebaliknya, tentunya semua itu menjadi suatu pilihan yang kemudian melahirkan keputusan.

Tapi pada saat kita memutuskan untuk tidak menikah, banyak orang di lingkungan kita mempertanyakan keputusan tersebut. Kenapa tidak menikah? Apakah pernah patah hati? Pernah dikecewakan oleh pasangan kita? Trauma? Memangnya kita harus punya salah satu pengalaman tersebut, sehingga kita baru memutuskan untuk tidak menikah?

Memang akan ada pandangan-pandangan aneh kalau kita memutuskan untuk tidak menikah. Kalau wanita, dibilang tidak laku…. mungkin wanita harus beri label harga yang pantas, sehingga ada pembeli yang cocok dengan harga tersebut pasti akan membelinya. Terlalu memilih-milih, bukankah memang harus memilih calon suami yang cocok dengannya. Atau banyak alasan yang memojokkan si wanita.

Kalau pria yang mengatakan tidak mau menikah, ada dugaan-dugaan negatif yang timbul, salah satunya, dituding sebagai penyuka sesama jenis. Padahal ada alasan lain yang lebih manusiawi, misalnya belum punya penghasilan yang cukup untuk membiayai istri, belum punya rumah, dll yang dianggap sebagai modal untuk memulai rumah tangga.

Pilihan lain yang tidak lazim di Indonesia adalah hidup bersama dalam satu atap tanpa diikat oleh pernikahan resmi baik secara agama atau negara. Padahal pilihan untuk hidup bersama adalah hak setiap orang yang mungkin dilihat dari pandangan sudut agama, budaya, sosial lingkungan tertentu sebagai aib.

Seorang teman mengatakan kalau seorang wanita memutuskan untuk tidak menikah, akan menjadi gunjingan di lingkungannya, ada baiknya dia tinggal di kota besar atau lingkungan yang tidak mempermasalahkan status kesendiriannya. Kalau pria mungkin masih lebih mudah, karena ada suatu penilaian “wajar” atau “maklum” dari lingkungan bahwa pria itu belum menikah. Teman saya seorang wanita yang memutuskan untuk tidak menikah sudah punya jawaban yang mantap (menurut dia) untuk menjawab pertanyaan “kenapa belum menikah”, jawabannya adalah “pria yang kehilangan satu tulang rusuknya belum tahu kalau satu tulang rusuknya adalah saya”

Ketika saya pernah mengucapkan bahwa ada keinginan untuk hidup bersama, teman saya menganjurkan untuk berpikir seribu kali, kalau sudah seribu kali dan masih sama, ada baiknya untuk melakukan keinginan itu di negara yang tidak mempermasalahkan dengan status “hidup bersama” dalam kolom isian untuk status kehidupan/perkawinan pada suatu dokumen.

Saya jadi ingat dengan pasangan selebritis Indonesia, dia hidup bersama belasan tahun, tanpa gossip yang menyebabkan perpisahan dan akhirnya memutuskan untuk menikah dengan pasangan hidupnya, tapi akhirnya bercerai beberapa tahun kemudian. Kenapa? Kok bisa?

Menurut saya, kalau kita sudah menentukan pilihan untuk menikah tentunya ada suatu komitmen yang terucap antara wanita dan pria untuk hidup bersama sampai maut menjemput salah satu dari pasangan tersebut. Apabila komitmen tersebut sudah tidak bisa dipertahankan tentunya pilihan berikut adalah bercerai. Begitu pula pada saat kita memutuskan untuk hidup bersama, pastinya ada komitmen antara pria dan wanita untuk hidup bersama sampai maut menjemput salah satu dari kita. Jadi intinya adalah komitmen, selama kita setia pada komitmen tersebut, segalanya beres.

Apa iya? Pasti ada pertanyaan lanjutan, bagaimana dengan anak? Biasanya ini yang selalu ditanyakan, akte lahir si anak. Di Indonesia katanya susah mendapat akte lahir kalau tidak ada surat nikah resmi secara hukum, karena banyak yang menikah resmi secara agama tapi tetap tidak bisa mendapat akte lahir untuk anak. Kalau pun dapat akan tertulis “anak haram”, terus terang saya belum pernah melihat akte untuk anak yang lahir di luar pernikahan resmi, kata teman memang ada tulisan anak haram…. serem juga sih, atau tepatnya kasihan.

Sedangkan di beberapa negara lain (barat), anak yang lahir bukan dari pernikahan resmi tetap dapat akte lahir atau surat keterangan lahir tanpa mencantumkan nama ayah. Seandainya si pria ingin namanya ada dalam surat lahir anak, cukup hadir untuk menyatakan memang dia ayahnya dan tanda tangan dokumen. Jadi tidak ada kesulitan untuk si anak kalau mau punya akte lahir.

Bagaimana dengan masalah psikologi anak, moral si anak kalau tahu ayah ibunya tidak menikah tapi kumpul kebo? Saya rasa masalah tersebut bisa diatasi, bukankah anak akan mengikuti tingkah laku orang tuanya? Jadi kalau punya orang tua yang menikah resmi tapi selalu berantem saja, atau salah satunya selingkuh, biasanya anak juga akan meniru atau tidak sama sekali. Begitu pula anak yang lahir dari orang tua yang hidup bersama, bisa menjadi anak yang baik kalau kelakuan orang tuanya juga baik, atau kelakuannya bisa lebih “bejat” dari segi moral (katanya).

Pada akhirnya, saya hanya bisa mengatakan (menulis) bahwa menikah, tidak menikah, hidup bersama bahkan bercerai adalah suatu pilihan dan keputusan yang harus dihargai walaupun tidak suka.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012