Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Edisembiring

tulisan kini diarsipkan di sebuah huma kecil, rumah tuannya, namun merdeka di tanahnya ---- jejak-jejak meracau.... www.edisantana.blogspot.com

Orang-orang Pintar Selain Obama

OPINI | 19 March 2010 | 14:31 211 89 11 dari 21 Kompasianer menilai Menarik

 Menanti dan menunggu Obama. Seperti penatian sang Kodok di atas batu, batu membesar dan sang kodok kian menua. Hujan tak turun dan sang kodok kian was-was, berharap burung nakal tak lapar dan menghabisinya.

Menanti dan menunggu Obama, seperti mendulang berita. Media-media bersuara dan menyampaikan banyak opini, baik yang menjadi berita pesanan ataupun kabar yang menjalar di jalanan. Sebegitu pentingkah beliau datang atau tak datang?

Mantra berucap saat malam di atas kuburan. “Datang tak di undang. Pulang tak diantar.” Jalangkung datang dan pergi. Bagi pencari angka keberuntungan akan sangat berharap angka  yang ada menjadi keajaiban, esok dapur akan berasap. Ada jalangkung ada asap. Ada Obama ada asap. Tak mungkin ada asap tanpa api. Oh, Obama, Datang diundang Pulang singgah di Bali.

Menanti Obama, seperti menanti oplah koran yang kian laku bak kacang goreng, sementara kacang goreng tetap kacang goreng. Menanti Obama membuat ratting siaran tanya jawab di layar beling kian meninggi. Lagi-lagi iklan sang kacang juga sering berputar, sebelum Piala Dunia menjadi teman menonton.

Berita Obama dan kaum pintar berjajar menjadi tatapan. Berita-berita yang saling sikut menyikut. Sementara kita lupa pada kepintaran-kepintaran kaum kita. Kepintaran yang sudah ada di pelosok-pelosok desa. Kepintaran yang secara tak langsung telah melestarikan budaya kita. Tentunya bukan budaya yang saling sikut menyikut.

Beberapa orang-orang pintar saya temukan selain Obama. Contoh kecil dikampungku, Tanah Karo si Malem. Tepatnya di sebuah Kabupaten bagian dari Sumatera Utara. Orang-orang pintar ini kian tersingkirkan, mungkin oleh majunya peradapan dan masuknya teknologi hingga segala hal menjadi berubah dratis. Bila media tak ada yang memburu kabarnya selain kabar Obama, maka usil aku memberitakan kabar mereka.

Keahlian mereka tercatat dalam kehidupan masyakarat Karo, setidaknya dalam kehidupan sehari-hari mereka menjadi bagian dari keahlian masyarakat Karo khususnya. Diantaranya :

 

Yang sudah punah dan mulai beranjak punah :

1.    Perlanja Sira

Karena letak tanah Karo di dataran tinggi yang jauh daripantai Timur dan pantai barat Sumatera, sangatlah susah untuk mendapatkan garam yang merupakan kebutuhan penting. Dalam banyak cerita tradisi lisan Karo, perlanja sira banyak di sebut-sebut. Profesi ini harus membawa garam dengan memikul dari kampung-kampung Melayu di pesisir timur Sumatera (sekitar Hamparan Perak dan Deli Tua) , berjalan melewati hutan lebat di Bukit Barisan menghadapi resiko diserang binatang buas dan dirampok (karena garam adalah barang mewah saat itu). Untuk mencapai Tanah Karo melalui jalan di lereng Bukit Barisan biasanya makan waktu 4 hari jalan kaki. Cerita perlanja sira biasanya diajarkan sebagai pengajaran akan kebijakan, kegigihan, kesabaran, sopan santun dan tolong menolong. Namun sayangnya profesi ini sudah punah sejak tahun 1940an karena Belanda membangun jalan yang bisa dilalui oleh moda transportasi tradisional dan modern dan semakin berkembangnya transportasi.

 

2.    Pande besi

Mempunyai keahlian membuat berbagai macam alat dari besi/logam, berupa senjata, alat-alat dapur dan terutama alat-alat pertanian. Masih ada di beberapa kampung, yang salah satunya di Ujung Bawang.

 

3.    Pande emas

Membuat perhiasan dari emas, dengan bebagai macam jenis ukiran dan keahlian yang berbeda-beda.

 

4.    Pande rumah

Tukang bangunan, mempunyai keahlian mendirikan rumah adat dan rumah biasa. Sekarang yang punya keahlian mendirikan rumah adat tidak ada lagi.

 

Dalam bidang pengobatan :

1.    Pertawar-tawar

Pertawar-tawar membuat tawar (obat dalam bentuk jamu/kuning) untuk menambah nafsu makan, nafsu seks, mengobati penyakit dalam, mengobati keracunan. Pertawar-tawar biasanya tidak membuat minyak, tapi ada juga yang membuat minyak (merangkap perminak-minak).

 

2.    Perminak-minak

Profesi ini membuat minyak urut atau minyak meseng (terbakar), minyak gelanggang (untuk menguatkan otot-otot), dari ramuan rahasia yang diwariskan turun temurun. Perminak-minak membuat minyak dan menjualnya tanpa menjadi dukun.

 

3.    Dukun Patah

Dukun patah biasanya dari Kampung Pergendangen. Dukun patah yang paling terkenal  adalah Gurusinga (dikenal juga di Jakarta) dan Pergendangen. Dukun patah biasanya mempunyai ramuan minyak urut rahasia yang dibuat sendiri dan diwariskan turun temurun.

 

4.    Guru

Di setiap kampung di tanah Karo pasti memiliki dukun yang biasa mengobati berbagai macam penyakit berdasarkan keahliannya masing-masing. Mereka biasanya menggunakan minyak urut dan atau tawar yang dibuat sendiri yang ramuannya diambil dari hutan kampung. Guru ini mungkin seperti dokter umum kalau dalam pengobatan modern sekarang.

 

5.    Guru Mbelin (Guru besar)

Dukun Karo zaman sekarang biasanya tidak mau di panggil dengan sebutan Guru Mbelin, karena profesi ini berkonotasi negatif. Zaman dulu sebutan guru mbelin bisa membuat orang bergidik karena ia dipercaya punya kesaktian yang lebih dari guru lainnya.

 

Dalam bidang perdagangan :

1.    Perbinaga

Pedagang yang hanya berjualan di satu pasar/pekan, dan tidak berpindah-pindah.

 

2.    Perkede

Kalak (orang) Karo adalah orang yang menikmati” hidup, rasanya hampir semua pria di tanah Karo pasti menikmati berbincang-bincang, bermain catur, dadu, dan banyak jenis judi (yang memang secara tradisional dikenal dari zaman dulu) di kede/warkop. Sejak dulu kalak karo mengenal warkop/kede sebagai tempat berkumpul, seperti di sinetron berlatar zaman dulu. Perkede adalah sebutan untuk yang empunya kede atau orang yang melayani di kedai.

 

3.    Perengge-rengge

Dulu tidak setiap desa/kampung punya pasar/pekan dan belum mengenal warung. Pasar/pekan yang ada pun hanya buka sekali seminggu, dan saat itulah penduduk dari berbagai kampung berkumpul untuk bertransaksi. untuk membeli kebutuhan pokok dan lainnya penduduk desa harus berangkat ke kampung yang mempunyai pasar/pekan. Perengge-rengge adalah pedagang yang yang selalu berkeliling dari pasar/pekan ke pasar/pekan lainnya. Perengge-rengge biasanya adalah wanita, karena zaman dulu pria sama sekali tidak bekerja, semuanya dikerjakan oleh wanita. Kalau hari selasa perengge-rengge akan ke Tigabinanga karena pasar di Tigabinanga diadakan tiap hari selasa, rabu dia ke Berastagi, kamis dia ke Kabanjahe, jumat dia ke Lau Baleng, sabtu dia ke Pancurbatu. Sekarang sebutan perengge-rengge diberikan kepada pedagang wanita di pasar-pasar tradisional, walaupun mereka tidak berpindah-pindah pasar lagi.

 

Dalam bidang kesenian :

1.    Perkolong-kolong

Mempunyai bakat dan keahlian menyanyikan lagu-lagu tradisional karo dan menari dengan baik dan benar. Perkolong-kolong biasanya mengisi acara-acara adat Karo, bersama dengan rombongan gendang/penggual (group musik tradisional).

 

2.    Penggual

Adalah sebutan kepada keseluruhan pemain musik tradisional Karo yang terdiri dari beberapa pemain alat musik tradisional Karo seperti perkulcapi (pada kecapi tradisional), penarune (suling tradisional), pergung (pada gong besar dan kecil), profesi ini masih ada, namun dikhawatirkan regenerasinya, karena generasi muda malas bersentuhan dengan musik tradisional seperti ini, apalagi sejak dipakainya Keyboard secara umum.

 

Peternakan, pertanian dan pengolahan hasilnya :

1.    Permakan

Orang yang pekerjaannya menggembalakan kerbau, lembu, kambing dan biri-biri.

 

2.    Permanuk-manuk

Orang yang pekerjaannya memelihara ayam dan itik.

 

3.    Perburu

Orang yang pekerjaannya berburu di hutan, yang biasanya diburu adalah rusa, kancil, ayam hutan, burung, wili (babi hutan), bengkala (monyet), dll.

 

4.    Perjuma-juma

Petani yang memiliki kebun/ladang/sawah, adalah profesi umum. Diantaranya yang dihasilkan adalah jeruk, markisa, terung jepan (terong belanda), cabai, kol, tomat, kentang dan lain sebagainya. Tanah yang subur memungkinkan semua ada.

 

5.    Perbarung

Orang yang pekerjaannya menunggui ladang/kebun untuk menjaga tanaman agar tidak diambil/dipanen orang lain.

 

6.    Pande Gamber

Keahliannya membuat gamber (gambir) untuk campuran makan sirih.

 

7.    Pande mayang

Profesinya membuat mayang untuk campuran makan sirih.

 

8.    Pande mbako

Profesinya membuat mbako (tembakau) untuk campuran makan sirih dan rokok, masih ada di beberapa kampung seperti di Kempawa.

 

Profesi lainnya :

1.    Guru si niktik wari

Dukun yang bisa mengetahui hari baik dan hari buruk, tanda kelahiran, perjodohan berdasarkan hari kelahiran (berdasarkan kalender Karo) dan nama, dll. Zaman dulu untuk mengadakan acara adat wajib bertanya pada guru si niktik wari ini, sekarang juga masih ada yang percaya. Profesi ini masih ada.

 

2.    Guru ndikkar

Punya keahlian bela diri ndikkar Karo, zaman dulu biasanya profesi ini menjadi pengawal pengulu/sibayak di Tanah Karo.

 

Begitu kayanya kita mempunyai para profesional-profesional yang mungkin tak sehebat Habibie dengan pesawatnya namun, mereka sangat berarti dalam kesinambungan dan jalannya kehidupan di pedesaan. Mari temukan orang-orang pintar lainnya disekitar desa dan identitas kita berasal.

 

Tak perlu menunggu kepastian Obama datang atau tidak.

Oh, bama. Oh, bagai mana?

 

sumber tulisan dari seninaku Indra Sembiring Pandia (sumber klik).


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012