Dalam jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas (10-11 Maret 2010) yang dituangkan dalam artikel “Meneguhkan Peran Penting NU” (Kompas 15/4), menunjukan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap peran NU dalam menjaga toleransi dan demokrasi begitu besar. Sementara, banyak harapan agar NU tidak mencicipi dunia perpolitikan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih memerhatikan ahwa NU masih memiliki peran penting dalam konstelasi penyelenggaraan negara ini.
Peran utama NU yang diharapkan masyarakat adalah mewujudkan iklim toleransi beragama. Responden mencatatkan angka ekspektasi yang cukup besar yakni 43,7 persen. Sementara peran lain mengikuti speerti penyelenggaraan penddikan pesantren (18,2 persen) dan menciptakan iklim demokrasi (9,8 persen).
Ke-tengah-an NU
Harapan umat nahdliyin ini tentu tak terlepas dengan ideology jalan tengah yang dikedepankan NU. Sudah sering ditegaskan oleh KH hasyim Muzadi bahwa Muslim adalah Ummatan Wasathan. Artinya, umat yang ada ditengah-tengah, yang memberi penghargaan kepada siapapun.
Dalam beberapa artkel, sering juga disebutka bahwa ke-tenga-han inilah yang mampu menangkal segala gerak ekstrimisme, baik dari kanan maupun kiri. Radikalisme dan sektarianisme yang semakin merebak tentu menjadi perihal yang haus dibenahi. Maka dari itu, ke-tenga-han NU haus tetap dipertahankan.
NU bukan tak bertragedi. Kenekadan beberapa tokoh masuk ke dunia politik membuat NU sediki terseok oleh isu-isu politis yang kental dengan preseden buruk. Friksi-friksi politis membuat image NU memang sedikit meredup. Kekacauan di tubuh PKB membuat masalah semakin rumit.
Tentunya masalah ini sudah harus dicarikan solusi kemudian diselesaikan dengan cepat. Pantas saja, Responden dalam jajak pendapat tersebut mengungkapkan 84,0 persen responden menginginkan bahwa NU tetap mempertahankan eksistensinya sebagai organisaisi keagamaan yang independen.
Menyambut Figur Baru
Ormas terbesar di Indonesia ini akan mengadakan mukhtamar ke-32 nanti di Makasar. Peristiwa ini tentunya akan menjadi sejarah besar bagi kelanjutan eksistensi NU. KH Hasyim yang telah dua kali periode memimpin telah mengikrarkan tak akan nyalon lagi.
Berarti, NU kini memang benar-benar mencari figur baru yang bisa memenuhi ekspektasi umat tadi.
Secara bersamaan, jajak pendapat Kompas juga menyurvei harapan umat terhadap karakteristik calon ketua umum NU nanti. Hasilnya menunjukkan bahwa keanyakan nahdliyin menginginkan kelak calon boleh saja tak berdarah biru atau keturunan pendiri NU(58,2 persen), bukan tokoh parpol (62 persen), bukan generasi tua (78,1 persen), dan tidak harus dari kalangan kiai (45,2 persen).
Tentunya para nahdliyin menungu-nunggu tokoh baru yang memang tidak terpaku pada unsur-unsur ikatan, hubungan darah dan hubungan hierarkis.
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
