Sekitar tahun 1960 an Titik Puspa punya cerita tentang seorang gadis dusun yang datang ke kota jakarta dan terkagum-kagum kepada kemegahan kota Jakarta, kekaguman seorang gadis lugu itu dibuatkan dalam sebuah lirik lagu dan diberi judul MINAH GADIS DUSUN, liriknya seperti dibawah ini :
Inginkah kawan tahu
Siapa daku
Minah gadis dari
Dusun di gunung
Jauh daku berjalan menuruninya
hanya ingin menjenguk indahnya kota
Amboi indah dah megah
Kotamu kawan
Rasa daku mimpi
Didalam surga
Jejaka dan gadisnya tampan dan cantik
Gedung tugu dan mobil oh amboi-amboi
Tapi maaf kawan, daku tak tinggal lama
Kekasih hatiku rindu menanti
Tunggu saja kiriman
Hasil panenku
Daku orang dusun
pandai bertani
Hanya pesanku kawan
Jaga negerimu
Sampai berjumpa lagi
Salam manisku, salam manisku
Andaikata Minah datang kembali hari ini ke Jakarta, apakah dia masih terkagum-kagum atau mungkin jauh lebih kagum dibanding 50 tahun yang lalu, atau bisa jadi malah sebaliknya Minah semakin prihatin.
Dia mungkin makin kagum dengan makin banyaknya gedung-gedung tinggi, tapi dibalik kekagumannya bisa jadi dia prihatin, gedung yang menjulang tinggi-tinggi tapi bila musim hujan tiba jalan-jalan yang melingkari dan melewati gedung-gedung itu digenangi air tinggi-tinggi alias banjir, sehingga penghuni gedung bisa jadi untuk beberapa hari tidak bisa beraktivitas. Makin prihatin lagi, bila dia melihat dibalik gedung yang tinggi masih terlihat deretan rumah-rumah kumuh, becek, sesak dan bau sampah yang menyengat.
Minah mungkin semakin bingung, begitu makin banyaknya mobil- mobil mewah berseliweran, memacetkan lalu lintas dan asap knalpon bisa membuat napas sesak, dan dia merasa miris ditengah-tengah kemacetan lalu lintas, berseliweran lah tukang minta-minta menengadahkan tangan meminta belas kasih kepada para pengendara mobil, dengan pakaian compang camping beda jauh dengan pakain yang dikenakan orang-orang yang ada dalam mobil-mobil sedan itu.
Masya Allah, gadis dan jejakanya memang cantik dan tampan, tapi mereka bukan suami isteri bebas berpelukan ditenah keramaian, bahkan dari balik kaca restaurant sepasang muda-mudi asyik berciuman, oh amboi-amboi…. apakah ini serasa di surga atau neraka.
50 tahun yang lalu memang dari segi phisik kota jakarta jauh lebih megah, tetapi 50 tahun yang lalu berita tentang jakarta banjir nyaris tidak ada, udara juga masih segar, hanya ada satu dua peminta-minta dan pemulung, gadis dan jejakanya masih cukup sopan berprilaku di jalan dan tidak ada cerita macet, dimana dari Pancoran Kota ke Kebayoran Baru yang asri waktu itu bisa ditempuh dalam bilang menit, sekarang bukan tidak mungkin harus ditempuh dalam hitungan jam.
Mobil mewah banyak, tapi yang berhimpitan di bus kota tidak kalah banyak pula. Tahun 60 an Minah naik bis kota merk ROBUR tidah harus berhimpitan dan tidak ada kemacetan seperti sekarang, Minah masih bingung, apakah ini yang namanya tanda-tanda kemajuan atau tanda-tanda kehancuran.
Akh, Minah tak perlu waktu berlama-lama di Jakarta, dia berpikir sebaiknya cepat-cepat pulang kedesa, disana masih ada ketenangan.
Tapi Minah tetap Minah, dibalik keprihatinannya dia masih bisa berpesan seperti 50 tahun yang lalu :”Jaga negerimu kawan”.
Mbak Titik Puspa, apa kabar ? kami tunggu Minah versi tahun 2000 an
UUB-Urang dusun di Bogor
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
