Tanpa sadar dan sengaja, kadang kita mengharapkan yang terburuk terjadi pada orang lain. Mengapa harus demikian? Bukankah lebih baik selalu mengharapkan yang terbaik untuk orang lain?
Sebelum saya pulang dari luar kota untuk liburan saya menjanjikan untuk membelikan mainan bakugan sebagai hadiah. Karena memang sudah lama tidak membelikan mainan untuknya. Kebetulan ketika PORSENI belum lama ini si kecil dengan teman-temannya dapat juara.
Biasanya kalau ada acara ke Mangga Dua, maminya membelikan disana. Tetapi kali ini saya ingin membelikan didekati rumah saja. Saya menanyakan pada maminya kalau mau beli bakugan yang murah dimana. Kemudian diberikan petunjuknya. sambil jalan dengan iseng-iseng saya menyeletuk , “Semoga saja gak ketemu tempatnya.”
Spontan si kecil protes,”Kok papi doanya jelek sih? Kok doanya biar gak ketemu?! “
“Loh, kok jelek? Kalau gak ketemu kan papi gak usah beliin!” Dengan nada canda saya menanggapi untuk menggodanya.
Tak disangka-sangka ia mengeluarkan pertanyaan ,”Sebenarnya papi itu doanya pada iblis atau pada Tuhan sih? “
Langsung dengan serius saya tanggapi, “Ya, doanya pada Tuhan-lah!”
“Kalau sama Tuhan, kok papi tadi doanya begitu? Harusnya papi bilang semoga ketemu, itu baru benar!” Si kecil penceramah saya.
Saya hanya bisa senyum-senyum melihat kegenitanya bicara.
Tanpa sadar dikehidupan sehari-hari, kita berharap atau berdoa secara diam-diam dalam hati untuk keburukan orang lain. Mengharapkan hal yang terburuk terjadi padanya.
Apakah pernah demikian ?
Saya berharap hal ini tidak terjadi pada saya lagi.
Semoga kesadaran ini dapat selalu menemani dan hanya selalu berharap yang terbaik untuk semua makhluk.
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
