Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Cechgentong

Alah Bisa Karena Biasa Malu Bertanya Sesat Di Jalan Sesat Di Jalan Malu-maluin Besar Kemaluan Tidak Bisa Jalan Pilihan selalu GOLTAM

Dari Ujung Kulon Menuju Muara Angke

OPINI | 16 March 2010 | 15:22 80 70 8 dari 14 Kompasianer menilai Menarik

” Ada apa dengan cechgentong ? “

” Kemana cechgentong ? “

” Mengapa cechgentong menghilang ? “

Mungkin itulah beberapa pertanyaan yang terlontar dalam pikiran para kompasianer yang cukup akrab dengan saya. Apalagi setelah ada tulisan yang seolah-olah saya akan menghilang atau mengundurkan diri dari Kompasiana ( It’s Time To Split Up ). Ditambah lagi banyaknya rekan kompasiana yang menanyakan apa yang menyebabkan saya menghilang lewat japri. Ya…saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dan terharu atas perhatian kompasianers.

Saat itu saya tidak bisa menjawab langsung karena ada acara penting dimana saya harus pergi ke Sanghyang Sirah lagipula saat itu saya sedang dalam perjalanan sehingga agak kesulitan mendapatkan koneksi internet. Saya mohon maaf kepada teman-teman terutama panitia Baksos 14 Maret 2010.

10 hari tanpa berhubungan dengan pihak luar karena tidak adanya komunikasi yang memungkinkan saya untuk berbicara lewat telepon apalagi internetan. Tadinya saya berpikir tidak akan dapat menghadiri Baksos dan merasa bersalah kalau sampai hal itu terjadi.  Maka itu tepat kapal mendarat di pantai Ketapang, Tunggal Jaya Banten langsung saya mengisi batere HP yang memang mati total. Begitu diisi selama 1 jam maka saya langsung menelpon Mas Jimmo untuk memberitahukan kalau saya akan kembali ke Jakarta. Tetapi yang membuat saya terharu lagi saat membuka kompasiana yaitu Mas Jimmo membuat tulisan tentang saya ( Ada Apa denganmu Kawan Cech Gentong ). Wow perhatian sekali Mas Jimmo dkk. Saya mengtakan kepada Mas Jimmo bahwa saya akan datang ke Baksos pada hari minggu tanggal 14 Maret 2010.

Kalau mau menuruti kondisi badan maka saya pasti tidak akan datang ke Baksos karena Sabtu jam 17.50  sampai di rumah dan tanpa istirahat lagi saya posting sebuah puisi sebagai tanda kehadiran saya. Rupanya nongolnya postingan saya tersebut mendapat sambutan luar biasa dari teman-teman sehingga tanpa sadar saking menikmati kongkow lewat japri  jam telah menunjukkan pukul 03.00. Sebagai konsekuensi saya untuk menghadiri Baksos maka saya putuskan terus melek. Tepat jam 06.00 pagi saya berangkat ke TIM walaupun ibu sempat bertanya apa saya tidak kecapekan. Saya jawab tidak.

Tiba di TIM pada jam 06.15 dan saya belum melihat kompasianers telah berkumpul kecuali Zameel. Saya sengaja datang pagi-pagi sebagai timbal balik besarnya perhatian kompasianers selama ini. Dan dalam hitungan beberapa menit mulailah satu per satu kompasianer berdatangan. Senang rasanya bisa berkumpul dan melihat secara langsung mereka semua walaupun saya agak prihatin melihat kondisi Yayat yang datang dengan kaki ditutupi perban akibat kecelakaan kemarin malam. Saya pikir capeknya saya tidak sebanding dengan niat yang tulus dari seorang Yayat yang tetap datang.

Baksos 14 Maret 2010 Muara Angke (Dok.Pri/cechgentong)

Air Sungai di Muara Angke

Saya tidak akan banyak cerita tentang kegiatan Baksos karena sudah cukup informasi tentang Baksos yang didapat dari beberapa tulisan kompasianers. Saya hanya sekedar membandingkan antara lingkungan di Ujung Kulon dengan Muara Angke. Sungguh bertolak belakang sekali apalagi setelah membaca postingan Mas Andy Dharma ” Airpun Bersedih… ” pada hari ini. Betapa memprihatinkan sekali kondisi sungai-sungai di Jakarta terutama yang ada di Muara Angke. Banyak kotoran atau sampah yang mengambang dan kalau kata rekan Ferdi ” sudah seperti Carefour karena semua jenis barang-barang yang dijual ada di Muara Angke “.

Kondisi Alami dan Asri di Sungai (Cai Kencana) (Dk.Pri/cechgentong)

Aliran Cai Kencana (Dok.Pri/cechgentong)

Mandi di Cai Kencana (Dok.Pribadi/cechgentong)

Dengan melihat dan mencium baunya air sungai di Muara Angke sudah tidak sanggup apalagi merasakan dan mandi/berenang di sungai tersebut. Perlu berpikir berulang kali karena pasti banyak kuman penyakit. Ini yang dinamakan betapa sedihnya air ketika kitapun enggan melihat, mencium dan merasakannya. Berbeda sekali saat 10 hari sebelumnya dimana saya sampai mandi dan berenang di sungai dan mata air di wilayah Sanghyang Sirah, Taman Nasional Ujung Kulon. Airnya jernih/bening, dinging menyegarkan dan dapat diminum langsung tanpa perlu dimasak serta takut terkena penyakit diare. Suasana asri dan alami yang membuat pikiran dan hati menjadi sehat dan segar kembali. Tampak sekali airpun seolah-olah turut bergembira mengikuti suasana hati kita.

Matahari Terbenam di Sanghyang Sirah (Dok.Pri/cechgentong)

Menurut saya, Baksos bukan hanya sekedar aksi nyata tapi ada nilai persaudaraan, nilai kekeluargaan dan ajang kontemplasi kita sebagai umat manusia yang dikatakan dapat memberikan rahmat bagi alam semesta. Dan suadah seharusnya kita untuk berpikir ulang untuk memperlakukan alam atau lingkungan sebagai teman seiring sejalan demi sebuah kedamaian di dunia. Untuk itu saya akan mempersembahkan sebuah lagu yang mungkin dapat memberikan kesegaran dan kedamaian  secara lahir dan batin.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012