Serangan Panik : Siapa, Kapan dan Dimana Saja
Sebuah ilustrasi suasana panik dalam suatu ruangan kerja gedung bertingkat, di lantai 10.
“Eh, kok goyang nih?” kata si A. Semua terdiam dan mulai memperhatikan gerakan benda di sekeliling. Gerakan bunga, lukisan, tirai ataupun air di gelas menjadi ukuran, mulai dicermati dalam sepersekian detik, untuk menjawab, apakah saat itu terjadi gempa. Disusul oleh teriakan yang lain.
“Iya, gempa!!! Gempa!!! Turun!!!“ kata yang lain, sambil bergegas berlari menuju lift. Bahkan, ada pula yang secara refleks berlari menuju lift, sebelum terdengar kata “iya” dari rekan yang lain. Dinding dan pintu yang berderak-derak, air yang berada di dispenser juga semakin bergoyang-goyang, jam yang digantung semakin cepat bergoyang ke kiri dan kanan, semakin memicu degup jantung.
Beberapa orang lari menuju lift termasuk sang Bos, ada pula yang segera berjongkok di bawah meja kerja. Ada yang berdiri terpaku di tiang penyangga sambil berpegang pada tiang, ada pula yang masih duduk di meja kerja karena berpikir gempa akan reda dalam beberapa detik, ada pula yang berpegangan pada tangan orang lain sambil berjongkok, sedangkan sang pemilik tangan terpaku memegangi meja kerja. Ada juga yang masih sempat berlari, dari pintu lift menuju meja kerja, hanya untuk mengambil tas/barang yang ketinggalan.
Semua itu terjadi dengan refleks, spontan. Tapi, ternyata (kebetulan) tidak semua orang memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Ada orang yang dengan tenangnya, melihat dan memastikan semua orang yang berada di ruangan tersebut, telah berteduh ataupun menghindar dari benda yang mudah jatuh, layaknya menjalankan sebuah Standard Operating Procedure (SOP) jika terjadi gempa, dan itu bukan sang bos!
Setelah gempa reda, terdengar celetukan : “Wah, bos saja panik, bagaimana dia bisa memimpin anak buah untuk mengikuti SOP gempa? Padahal, waktu simulasi, beliau yang kelihatan paling tidak panik dan mengerti SOP.”
Selain gempa, masih ada contoh ilustrasi lain tentang suasana panik, dalam suatu ruang rapat.
“Aduh, gawat!!! Kenapa bisa begini? Aduhhhh!!! Apa kata pemegang saham? Hutang kita sudah jatuh tempo hari ini!!! Solusinya apa???” kata Pimpinan rapat, yang kebetulan seorang Direktur, sambil berjalan menunduk mengitari meja rapat, dengan tangan kanan di saku celana. Terlihat beberapa peserta yang mengernyitkan dahi, memijat dahi, menyandarkan badan ke kursi, mengusap wajah berkali-kali ataupun mengetuk pena ke jidat. Beberapa wanita di dalam ruangan itu mulai menangis, menyeka air mata dengan tissue. Ada pula yang mulai mengetuk-ngetuk meja dengan jari tangan, tanda bingung.
“Solusinya apa??? Kita harus bagaimana??? Kemana saja kamu selama ini??” mulai terdengar teriakan yang bernada menyalahkan dari Direktur lain, sambil menunjuk kolega. Seluruh ruangan mulai riuh, yang ditunjuk mulai balik menyerang, dengan teriakan dan tunjuk menunjuk. Semua mulai berpikir, apa yang akan menimpa mereka nantinya. Bayangan PHK, wajah anak-anaknya bahkan dinginnya penjara mulai mengaliri kulit mereka. Merinding!!! Stress!!! Suasana mulai panik.
Ada pula yang celetuk satu sama lain : “Wah, kalau saja bos panik, apalagi kita? Gimana ini, kok jadi mirip anak ayam kehilangan induk??”
Dalam keseharian manusia, banyak sekali peristiwa yang membuat orang menjadi panik. Kondisi pekerjaan yang genting, tuntutan pekerjaan, peristiwa alam, kebakaran, kondisi keuangan yang menipis, bahkan cinta, bisa menjadi faktor pemicu panik. Kondisi panik, bisa menyerang siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tidak perduli siapa yang diserang, kapan diserang dan lokasi terjadinya, panik bisa membuat keadaan menjadi tidak nyaman dan tidak terkontrol.
Mengelola Panik
Setelah terjadinya kepanikan, entah disebabkan karena peristiwa alam (gempa, kebakaran ataupun banjir) ataupun pekerjaan, kebanyakan orang yang terlibat akan selalu berkaca pada “Sang Bos” alias pemimpin. Apa reaksinya, ataupun apa tindakan untuk menghadapi kepanikan tadi. Kenapa bos menjadi panutan?
Memang, dalam menghadapi sesuatu persoalan ataupun kondisi, setiap orang diharapkan untuk tenang dan tidak panik, karena kepanikan malah akan memperkeruh suasana. Keputusan menjadi berantakan dan jalan keluar menjadi buntu. Sehingga, setiap orang seyogyanya punya cara sendiri untuk mengelola panik.
Itulah alasannya, mengapa menjadi seorang pemimpin (leader), baik itu karena ditunjuk ataupun dipilih, tidak mudah dan harus memiliki kelebihan dibandingkan anak buahnya. Apa itu? Ada tuntutan untuk lebih dari “seyogyanya”, tapi “harus memiliki” teknik mengelola panik. Menghindar dari pikiran yang terlintas :”ngurus panik saya aja, belum tuntas, moso’ ngurus orang yang panik pula?”
Dengan tanggung jawab memimpin bawahan yang bervariasi jumlahnya (bisa juga mencapai ratusan bahkan ribuan), terkait pengelolaan Perasaan, SDM dan SDA, minimal harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Salah satunya contohnya adalah mengelola panik. Tujuannya adalah, dalam kepanikan, tetap ada keputusan yang rasional. Bawahan/anak buah akan melihat, menilai, menunggu dan kalau perlu “berkaca” pada reaksi/sikap pemimpin dalam mengatasi kepanikan, termasuk keputusan yang dihasilkan. Barangkali, karena pengaruh aura seorang “pemimpin”, maka banding-membandingkan tindakan anak buah dan sang pemimpin, akan muncul ke permukaan. Bahkan terkadang, hal buruk yang terjadi adalah seorang bawahan akan mencibir/membandingkan sikap pemimpin dengan sikapnya. Seperti contoh di atas : “Wah, kalau saja bos panik, apalagi kita? Gimana ini, kok jadi mirip anak ayam kehilangan induk??”
Dalam menghadapi kepanikan, seorang pemimpin yang baik idealnya dituntut mengeluarkan jiwa kepemimpinan dalam mengelola kepanikan, baik itu kepanikan anak buah, ataupun dirinya sendiri. Sehingga, seluruh kepanikan yang terjadi dapat diatasi dengan baik, ada strategi dan ada solusi yang cukup realistis. Dengan kata lain, seorang pemimpin harus menjadi “penenang” dan “pengarah” dalam menghadapi kepanikan, bukan justru menjadi lebih panik daripada anak buahnya sendiri. Harus memiliki arah untuk membawa anak buah ke jalan yang seharusnya, bahkan cenderung rela berkorban untuk keselamatan anak buahnya. Sehingga dalam kepanikan, akan terdengar ucapan yang menyejukkan :”Tenang…Tenang…Tarik nafas dalam-dalam, lalu buang. Mari kita senyum sebentar saja.”
Seorang pemimpin tidak terlahir begitu saja. Pengalaman alias jam terbang yang tinggi serta naluri (sangat membantu), akan menempa calon pemimpin untuk memilah sikap yang baik untuk menjadi seorang pemimpin. Tingkat penyelesaian permasalahan, terutama saat stress, akan menunjukkan sikap calon pemimpin. Jika seorang pemimpin tidak menjadi “pemimpin yang tenang”, sangat besar peluang, pemimpin akan pergi meninggalkan anak buahnya karena sibuk memikirkan kepanikannya sendiri. Tidak perduli, akan apa yang akan menimpa anak buahnya. Atau, justru menyalahkan anak buah atas seluruh kepanikan yang terjadi.
Mari kita mulai, untuk mengelola kepanikan kita. Mana tahu, Anda adalah calon pemimpin?
Salam hangat kopi untukmu.
Bisnis kuliner menjamur dimana-mana. Bila Anda pernah menikmati hidangan atau masakan yang unik atau pernah
