Sosbud
Lihat Profil    Jadikan teman    Kirim Pesan
Ada yang bilang : CiCa, ada yang bilang BaCa, tapi banyak pula yang manggil dengan panggilan sebaliknya. Ah..cuma wanita biasa, kok...
Mengelola Panik (sang Pemimpin)
Silveria Verawaty
|  11 Maret 2010  |  08:08
139
91
9 dari 16 Kompasianer menilai Bermanfaat.

pic from google

pic from google

Serangan Panik : Siapa, Kapan dan Dimana Saja


Sebuah ilustrasi suasana panik dalam suatu ruangan kerja gedung bertingkat, di lantai 10.

“Eh, kok goyang nih?” kata si A. Semua terdiam dan mulai memperhatikan gerakan benda di sekeliling. Gerakan bunga, lukisan, tirai ataupun air di gelas menjadi ukuran, mulai dicermati dalam sepersekian detik, untuk menjawab, apakah saat itu terjadi gempa. Disusul oleh teriakan yang lain.

“Iya, gempa!!! Gempa!!! Turun!!!“ kata yang lain, sambil bergegas berlari menuju lift. Bahkan, ada pula yang secara refleks berlari menuju lift, sebelum terdengar kata “iya” dari rekan yang lain. Dinding dan pintu yang berderak-derak, air yang berada di dispenser juga semakin bergoyang-goyang, jam yang digantung semakin cepat bergoyang ke kiri dan kanan, semakin memicu degup jantung.

Beberapa orang lari menuju lift termasuk sang Bos, ada pula yang segera berjongkok di bawah meja kerja. Ada yang berdiri terpaku di tiang penyangga sambil berpegang pada tiang, ada pula yang masih duduk di meja kerja karena berpikir gempa akan reda dalam beberapa detik, ada pula yang berpegangan pada tangan orang lain sambil berjongkok, sedangkan sang pemilik tangan terpaku memegangi meja kerja. Ada juga yang masih sempat berlari, dari pintu lift menuju meja kerja, hanya untuk mengambil tas/barang yang ketinggalan.

Semua itu terjadi dengan refleks, spontan. Tapi, ternyata (kebetulan) tidak semua orang memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Ada orang yang dengan tenangnya, melihat dan memastikan semua orang yang berada di ruangan tersebut, telah berteduh ataupun menghindar dari benda yang mudah jatuh, layaknya menjalankan sebuah Standard Operating Procedure (SOP) jika terjadi gempa, dan itu bukan sang bos!

Setelah gempa reda, terdengar celetukan : “Wah, bos saja panik, bagaimana dia bisa memimpin anak buah untuk mengikuti SOP gempa? Padahal, waktu simulasi, beliau yang kelihatan paling tidak panik dan mengerti SOP.”

Selain gempa, masih ada contoh ilustrasi lain tentang suasana panik, dalam suatu ruang rapat.

pic from google

pic from google

“Aduh, gawat!!! Kenapa bisa begini? Aduhhhh!!! Apa kata pemegang saham? Hutang kita sudah jatuh tempo hari ini!!! Solusinya apa???” kata Pimpinan rapat, yang kebetulan seorang Direktur, sambil berjalan menunduk mengitari meja rapat, dengan tangan kanan di saku celana. Terlihat beberapa peserta yang mengernyitkan dahi, memijat dahi, menyandarkan badan ke kursi, mengusap wajah berkali-kali ataupun mengetuk pena ke jidat. Beberapa wanita di dalam ruangan itu mulai menangis, menyeka air mata dengan tissue. Ada pula yang mulai mengetuk-ngetuk meja dengan jari tangan, tanda bingung.

“Solusinya apa??? Kita harus bagaimana??? Kemana saja kamu selama ini??” mulai terdengar teriakan yang bernada menyalahkan dari Direktur lain, sambil menunjuk kolega. Seluruh ruangan mulai riuh, yang ditunjuk mulai balik menyerang, dengan teriakan dan tunjuk menunjuk. Semua mulai berpikir, apa yang akan menimpa mereka nantinya. Bayangan PHK, wajah anak-anaknya bahkan dinginnya penjara mulai mengaliri kulit mereka. Merinding!!! Stress!!! Suasana mulai panik.
Ada pula yang celetuk satu sama lain : “Wah, kalau saja bos panik, apalagi kita? Gimana ini, kok jadi mirip anak ayam kehilangan induk??”

Dalam keseharian manusia, banyak sekali peristiwa yang membuat orang menjadi panik. Kondisi pekerjaan yang genting, tuntutan pekerjaan, peristiwa alam, kebakaran, kondisi keuangan yang menipis, bahkan cinta, bisa menjadi faktor pemicu panik. Kondisi panik, bisa menyerang siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tidak perduli siapa yang diserang, kapan diserang dan lokasi terjadinya, panik bisa membuat keadaan menjadi tidak nyaman dan tidak terkontrol.

Mengelola Panik

Setelah terjadinya kepanikan, entah disebabkan karena peristiwa alam (gempa, kebakaran ataupun banjir) ataupun pekerjaan, kebanyakan orang yang terlibat akan selalu berkaca pada “Sang Bos” alias pemimpin. Apa reaksinya, ataupun apa tindakan untuk menghadapi kepanikan tadi. Kenapa bos menjadi panutan?

Memang, dalam menghadapi sesuatu persoalan ataupun kondisi, setiap orang diharapkan untuk tenang dan tidak panik, karena kepanikan malah akan memperkeruh suasana. Keputusan menjadi berantakan dan jalan keluar menjadi buntu. Sehingga, setiap orang seyogyanya punya cara sendiri untuk mengelola panik.

Itulah alasannya, mengapa menjadi seorang pemimpin (leader), baik itu karena ditunjuk ataupun dipilih, tidak mudah dan harus memiliki kelebihan dibandingkan anak buahnya. Apa itu? Ada tuntutan untuk lebih dari “seyogyanya”, tapi “harus memiliki” teknik mengelola panik. Menghindar dari pikiran yang terlintas :”ngurus panik saya aja, belum tuntas, moso’ ngurus orang yang panik pula?”

Dengan tanggung jawab memimpin bawahan yang bervariasi jumlahnya (bisa juga mencapai ratusan bahkan ribuan), terkait pengelolaan Perasaan, SDM dan SDA, minimal harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Salah satunya contohnya adalah mengelola panik. Tujuannya adalah, dalam kepanikan, tetap ada keputusan yang rasional. Bawahan/anak buah akan melihat, menilai, menunggu dan kalau perlu “berkaca” pada reaksi/sikap pemimpin dalam mengatasi kepanikan, termasuk keputusan yang dihasilkan. Barangkali, karena pengaruh aura seorang “pemimpin”, maka banding-membandingkan tindakan anak buah dan sang pemimpin, akan muncul ke permukaan. Bahkan terkadang, hal buruk yang terjadi adalah seorang bawahan akan mencibir/membandingkan sikap pemimpin dengan sikapnya. Seperti contoh di atas : “Wah, kalau saja bos panik, apalagi kita? Gimana ini, kok jadi mirip anak ayam kehilangan induk??”

Dalam menghadapi kepanikan, seorang pemimpin yang baik idealnya dituntut mengeluarkan jiwa kepemimpinan dalam mengelola kepanikan, baik itu kepanikan anak buah, ataupun dirinya sendiri. Sehingga, seluruh kepanikan yang terjadi dapat diatasi dengan baik, ada strategi dan ada solusi yang cukup realistis. Dengan kata lain, seorang pemimpin harus menjadi “penenang” dan “pengarah” dalam menghadapi kepanikan, bukan justru menjadi lebih panik daripada anak buahnya sendiri. Harus memiliki arah untuk membawa anak buah ke jalan yang seharusnya, bahkan cenderung rela berkorban untuk keselamatan anak buahnya. Sehingga dalam kepanikan, akan terdengar ucapan yang menyejukkan :”Tenang…Tenang…Tarik nafas dalam-dalam, lalu buang. Mari kita senyum sebentar saja.”

Seorang pemimpin tidak terlahir begitu saja. Pengalaman alias jam terbang yang tinggi serta naluri (sangat membantu), akan menempa calon pemimpin untuk memilah sikap yang baik untuk menjadi seorang pemimpin. Tingkat penyelesaian permasalahan, terutama saat stress, akan menunjukkan sikap calon pemimpin. Jika seorang pemimpin tidak menjadi “pemimpin yang tenang”, sangat besar peluang, pemimpin akan pergi meninggalkan anak buahnya karena sibuk memikirkan kepanikannya sendiri. Tidak perduli, akan apa yang akan menimpa anak buahnya. Atau, justru menyalahkan anak buah atas seluruh kepanikan yang terjadi.

Mari kita mulai, untuk mengelola kepanikan kita. Mana tahu, Anda adalah calon pemimpin?
Salam hangat kopi untukmu.


Sebarkan Tulisan:
Tanggapan Tulisan
11 Maret 2010 08:16
0

Banyak bos yang begitu Sil…lebih panik ketimbang anak buahnya…macam mana, manusia tetap manusia…

11 Maret 2010 | 08:46
0

hahaha….iya, manusia sih manusia, tapi kalau sudah menjadi pemimpin??
maka, berwataklah seorang pemimpin, bukan pecundang,
hehehe,,,

11 Maret 2010 08:25
0

Sayangnya om ” Panic ” nggak pandang bulu ….dengan siapa dia mau hinggap he..he..he…

11 Maret 2010 | 08:47
0

hahaha…ngapain pandang bulu yak??
iya, siapa aja bisa diserang, tinggal mengelolanya saja, ya kan?
tengkyu..

11 Maret 2010 09:19
0

baca artikel ini, saya jadi teringat waktu terjadi gempa beberapa waktu lalu. Disaat teman dr lantai atas berhamburan turun lewat tangga biasa (krn lift dimatikan), saya tenang2 aja krn saya lihat bos saya aja gak peduli, asyik aja di dpn komputer, saya jadi ikut2an tenang. Padahal teman2 yg lain teriak manggil2 saya, sampe ada yg bilang Lin lo mo cari mati ya….tp syukurlah gempanya sebentar, eh…akhirnya teman2 yg sdh terlanjur turun terpaksa naik lagi…gantian saya yg ngeledekin, emang enak turun naik tangga….hehehe

Mbak Vera…memang peran Bos, besar juga pengaruhnya…contohnya pengalaman saya tadi.

11 Maret 2010 | 19:24
0

hehe..benar, ketika kita berada di lingkungan yang tenang, maka kita pun akan terdorong untuk menjadi tenang, termasuk ketika kita secara spontan mengikuti bos yang tidak panik.
hehe…pengalaman yang penting dalam mengatasi kepanikan, mbak..

11 Maret 2010 09:32
0

Pemimpin yang panik membawa kepanikan…huhuhu

11 Maret 2010 | 11:53
0

persis!
hehe…

11 Maret 2010 12:06
0

Yg saya liat malah banyak pemimpin minggat ninggalin anak buah kalo lagi kalut,
padahal bukti kepemimpinan justru saat keaddaan runyam mampu gak jadi paling depan
sbg solusi maker?

jangan malah nambah panik atau lempar tangg jwb ke anak buah wakakakaaaaaaaaaaaaaaak

11 Maret 2010 | 19:26
0

iya, benar banget, pemimpin sangat dibutuhkan dalam keadaan genting, bukan malah lari.
hehehe…

11 Maret 2010 13:47
1

Mengelola panik adalah salah satu pondasi manajemen konflik. Memang berdamai dengan diri sendiri bukanlah perkara yang mudah.

11 Maret 2010 | 19:27
0

terima kasih sudah melengkapi artikel saya..
pendapat Mas Andi, benar adanya..

11 Maret 2010 14:12
0

Saya udah pemimpin lho, bukan calon pemimpin. Saya pemimpin keluarga yang gak pernah panik karena semua serba terencana. Ha..ha..ha..Manajemen panik, nampaknya mudah tapi saya yakin sulit.

11 Maret 2010 | 19:27
0

iya pak, perlu jam terbang nih kayanya…
apalagi bapak, pasti banyak pengalaman…
selamat dan sukses, pak..

11 Maret 2010 14:35 via Mobile Web
0

Nice post! Minta ijin saya koleksi

11 Maret 2010 | 19:28
0

silahkan, semoga bermanfaat.

11 Maret 2010 14:35
0

yup kalau lagi panik bawaannya kepengen marah aja he he he he

11 Maret 2010 | 19:28
0

hehe…kendalikan emosi dunk.. :) biar semuanya nggak ikutan panik!
salam hanget,

11 Maret 2010 14:46
0

heheheheh bagus bgt mbak….good notice sis :)

11 Maret 2010 | 19:29
0

terima kasih, Rose..

11 Maret 2010 14:58 via Mobile Web
0

Panic memang tidak ada obatnya diapotik,maupun diwarung2 terdekat.
Nice artikel mb.
Mari ngopi.
Salam panic.

11 Maret 2010 | 19:29
0

mari ngopi…kafein bisa mengurangi kepanikan kali ya??
salam tidak panik.. :)

11 Maret 2010 15:12
0

itulah susahnya jadi pemimpin,..masalah emosi atau pengendalian diripun tetap harus didepan

11 Maret 2010 | 19:30
0

tetapi, tidak menyurutkan niat menjadi seorang pemimpin kan? hehe..
salam..

11 Maret 2010 15:16
0

You got it, mbak Sil. Do not panic at all conditions. Kompak….

11 Maret 2010 | 19:30
0

ok, thanks Bang!
salam kompak!

11 Maret 2010 15:46
0

saat paniik, semua hal jadi berantakan..

11 Maret 2010 | 19:30
0

di situ perlu pemimpin yang nota bene tidak panik.
hehe..

11 Maret 2010 15:59
0

Elpanik. Aktor kawakan pemeran watak. (hehehe… guyon2)

“seorang pemimpin harus menjadi “penenang” dan “pengarah” dalam menghadapi kepanikan, bukan justru menjadi lebih panik daripada anak buahnya sendiri.”
Sanggat cocok untuk disampaikan dalam training Leadership.

Salam bahagia.

12 Maret 2010 | 08:29
0

hm, bisa juga…tapi yang penting dalam diri kita sendiri. :)

11 Maret 2010 15:59
0

pekerjaanku dulu adalah berhadapan dengan org bermasalah dan org panik. jdi sangat faham dgn artikel mu say
i agree with you! apalagi dlm hal, atasan gak bisa lebih panik dripada bawahan, hrus lebih bisa mengontrol emosinya. tpi kadang jadi atasan bukan karena kualitas, melainkan nasib *biasa terjadi di perusahaan2 keluarga/ kantor2 yg bnyak KKN-nya hehehe

12 Maret 2010 | 08:29
0

hehhe…
itu hasil analisa berapa tahun, Mbak?
kalau gitu, artikel ini salah sasaran dunk?
hehe

11 Maret 2010 15:59
0

pas kali artikel ini untuk aku yg sering panik

Punya SMS indah yang bagus untuk dibaca atau diketahui orang lain. Titip disini aja
smsindah.com jadikan dunia indah dengan sms. pasti bisa!!

12 Maret 2010 | 08:28
0

kalau gitu perlu belajar tenang dong?

11 Maret 2010 17:09
0

Silver ,,, emang good

12 Maret 2010 | 08:28
0

kalo silver emang good, karena perhiasan…, nah silveria?
hehe…terima kasih, Bang Fadli!

11 Maret 2010 17:11
0

secara, tanggung jawab gw di kantor adalah orang safety, maka sedapat mungkin tidak boleh panik di situasi darurat….dan itu SUSAH skaleee… , so jam terbang emang pengaruh banget tuh..

12 Maret 2010 | 08:27
0

emang..
tapi, kalau panik, jangan cuma liat security ya…apalagi kalau masalah kantor, ya kagak nyambung tuh..
hehe..

11 Maret 2010 17:30
0

… yg udah2 pemimpin yg panik dipilih o/ pemilih yg (juga lagi) panik …

12 Maret 2010 | 08:25
0

haha…ada kalanya, Pak..

11 Maret 2010 18:56
0

bos panic.. berarti bos manusia hehe

12 Maret 2010 | 08:25
0

iya sih…
tapi, kalau begitu, buat apa jadi pemimpin, ya kan?

11 Maret 2010 20:07
0

aku cuek aja tuh, soalnya aku bukan boss. dan kebetulan boss ku beda kantor, jadi hak pernah lihat dia panik.

12 Maret 2010 | 08:24
0

hehe…
Mas Arif bos di kantor sekarang nggak? atau paling tidak dituakan?
hahaha…

12 Maret 2010 | 09:31
0

gak mbak, jadi pemimpin sama aja seperti jadi kepala rumag tangga. kalau si pemimpin gampang panik maka respek dari anak buahnya pasti turun.

aku membedakan pemimpin perusahaan itu dari asal mereka (menurutku ya). kalau dia sorang enterpreneur, maka dia akan tahu resiko pekerjaannya karena dia pasti sudah mengukur resiko dari awal.

berbeda dengan mereka yang memiliki mentalitas karyawan. biasanya yang kayak gini gampang banget panik.

kami ber 3 biasanya menyelesaikan masalah di ruang tersendiri. mau berantem atau ketawa2 gak ada yang tahu. yang jelas begitu keluar dari sana pasti sudah ada solusinya.

12 Maret 2010 | 11:34
0

Good, Mas Arif..
memang benar, orang yang tahu resiko, biasanya tidak akan mudah panik, sudah tahu untuk mitigasinya.
Untuk jadi pemimpin, apalagi..harusnya sudah memiliki itu, ya kan?
hehee…di ruangan ber-3 ngapain hayoooo… :P

11 Maret 2010 20:10
0

Kalau seseorang jadi pemimpin karena atas usahanya sendiri, biasanya lebih mampu mengendalikan emosi dan situasi. Beda dengan orang yg jadi pimpinan karena warisan atau harta dari orang tua.

salam.

12 Maret 2010 | 08:23
0

analisa yang bagus.
terima kasih.

11 Maret 2010 20:30
0

panik ?. boss atau pemimpin panik ?. pada dasarnya semua orang bisa panik. yang menjadi pertanyaan , seberapa besar paniknya ?. untuk menentukan besar atau kecilnya panik itu , apa ?.

tapi setau gw ye…kalo ada boss atau pemimpin yang ” cepat panik ” menghadapi persoalan atau masalah , biasanya - biasanya ni ye… - boss atau pemimpin kayak gitu adalah yang model katrolan. kapabilitasnya gak oke…jam terbangnya gak oke…tapi karena satu dan lain hal , dikatrol jadi boss atau pemimpin…begicuuu.

12 Maret 2010 | 08:23
0

haha…gitu ya?
Terima kasih atas infonya ya..

11 Maret 2010 20:47
0

Ada yang bilang kalau kunci supaya gak panik adalah ikhlas.. Gak tau deh bener apa nggak… hahaha…

Salam..

12 Maret 2010 | 08:22
0

bener..itu sangat bener.
kuncinya cuma ikhlas.

11 Maret 2010 20:50
0

Salam kopi,
Panik berkonotasi negatif.
Bagaimana kalau kita ganti dengan Bergegas?
Salam hangat

12 Maret 2010 | 08:22
0

hm…rasanya tidak pas, tuh Andre..untuk digunakan dalam menggambarkan kondisi panik yang sesungguhnya :)

11 Maret 2010 21:57
0

nonton juga deh film “Panic Room”… disitu paniknya keliatan…atau juga Final fantasy….

12 Maret 2010 | 08:20
0

ok deh, next time ya.. :)

11 Maret 2010 22:17
0

good posting, omjay suka membacanya.

salam
Ojay

12 Maret 2010 | 08:19
0

terima kasih, Om..

11 Maret 2010 22:29
0

Terima kasih kopinya mbak, panik saya jadi reda

12 Maret 2010 | 08:20
0

eh, kopi bisa bikin panik reda nggak ya? seharusnya bisa.. :) salam kopi.

11 Maret 2010 22:36
0

dalam kenaikan itulahkita akan mendai seorang pemimpin yg handal

salam
omjay

12 Maret 2010 | 08:19
0

hehe..mengenali pemimpin dong, Om?
terima kasih.

11 Maret 2010 23:14
0

Sepertinya pemimpin memimpin…termasuk memimpin untuk panik…
panik kok dipimpin..dipimpin kok panik…

12 Maret 2010 | 08:19
0

haha…pusingggg… :)

12 Maret 2010 00:03
0

Mbak…biasanya orang yang tidak mudah panik itu orangnya agak ndablek/ bandel…biarpun ditagih berkali-kali sampai yang nagih panik, tapi dia tenang2 aja.
Salam hangat2 juga…

12 Maret 2010 | 08:18
0

hahaha…nggak juga Mbak Mia..
saya termasuk orang yang tidak mudah panik. memang saya agak “keras”, tapi tidak untuk hutang.
hahahaa…

12 Maret 2010 01:05
0

biasa’y semakin besar beban tanggung jawab, maka semakin besar potensi panik,

12 Maret 2010 | 08:17
0

untuk itu, menanggung beban tanggung jawab yang besar, butuh proses. Menjadi pemimpin juga proses, termasuk dalam mengelola panik.
terima kasih.

12 Maret 2010 07:12
0

Kepanikan bisa menimpa siapa saja dan dibutuhkan ketangkasan kita dalam menghadapinya

12 Maret 2010 | 08:17
0

terutama pemimpin, bukan?
terima kasih. :)

12 Maret 2010 09:26
0

aku termasuk orang yang mudah panic jika mendapati situasi yg membuat kita panic. Thanks..
artikel ini menginspirasi.

12 Maret 2010 | 11:27
0

hm…belajar mengatasi panik, terutama menjadi calon pemimpin yaa… :)

12 Maret 2010 11:14
0

otak kita layaknya sebuah komputer yang di program……
ada 2 programer besar untuk meprogram komputer di otak kita, yaitu orang tua dan lingkungan sekitar kita.
Contoh programnya adalah, kalau sedih kita akan menangis, kalau senang kita tersenyum, kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita kecewa, kalau ada “bahaya” kita PANIK….
Bagi yang terprogram artinya semua seperti proses otomatisasi….
Nah sekarang gimana kalau programnya kita ganti, saya instal ulang komputer yang ada di otak kita, saya ganti bahwa setiap perintah apapun atau kejadian apapun dalam program akan saya terjemahkan menjadi “MENERIMA BAHWA ITU ADALAH PROSES KITA BELAJAR UNTUK MENJADI LEBIH BERKUALITAS” dan lihat hasilnya……….

12 Maret 2010 | 11:31
0

hehe…analisa yang kritis..
terima kasih, sudah melengkapi..

12 Maret 2010 | 11:51
0

sama-sama belajar bu…..
makasih juga…

14 Maret 2010 | 12:07
0

:)

12 Maret 2010 14:01
0

hmm…semoga saya bs menjadi org yg tdk mudah panik lg… :-)

14 Maret 2010 | 12:06
0

semoga…atasi panik ya mbak… :)

12 Maret 2010 16:54
0

Untuk tenang menghindari kepanikan, diperlukan pelatihan, Bu:) Tapi suasana penimbul kepanikan yang beraneka resiko, spt gempa dan kebakaran, memang wajar membuat semua orang berupaya menyelamatkan diri sesuai naluri:)

Salam,

14 Maret 2010 | 12:06
0

hehehe…ya gitu deh, cari selamat sendiri, anak buah kemana? urusan sendiri..
hehe..
terima kasih…

12 Maret 2010 19:44
0

Mungkin Pemimpin tidaklah org yg serba tahu semua.Contohnya manager HRD tentu tidak ahli jika ada masalah gempa,lebih ahli sekuriti atau yg lain,jadi bisa aja sang pemimpin menjadi panik.Asal jangan paniknya di bidang yang memang tanggung jawab dia.

14 Maret 2010 | 12:05
0

pemimpin yang berjiwa penyelamat, jarang ditemuin pak.
Saya kadang salut, untuk pemadam kebakaran. Mereka tidak perduli dengan dirinya, dan ketuanya mementingkan keselamatan anak buah.
Sip, pemimpin harus tau arah.
terima kasih.

13 Maret 2010 11:30
0

Kepanikan itu sifatnya hanya sementara dan itu sdh fajar bagi kehidupan manusia. Hanya yang terjadi sekarang adalah : Ada yang bisa mengendalikan kepanikan dan ada yang tidak bisa mengendalikan kepanikan sehingga malah menjadi benjana.

14 Maret 2010 | 12:04
0

bencana, apabila yang tidak bisa mengendalikan itu adalah pemimpin. :)

13 Maret 2010 19:42
0

nice posting

14 Maret 2010 | 12:03
0

thanks..

15 Maret 2010 21:37
0

mengelola rasa panik itu tidak mudah ya, mbak. saat simulasi SOP, memang kita terlihatnya nyantai-nyantai saja, tapi saat benar-benar terjadi bencana (misalnya gempa bumi, kebakaran, dll) rasa panik lah yg menguasai diri kita.

jangankan saat bencana, saat deadline pun saya paniknya bukan main. sampe kadang-kadang kalo nulis pake gemeteran segala hihihi (sumpah ini asli loh, bukannya lebay).

23 Maret 2010 | 23:29
0

haha…sebenarnya untuk mengatasi panik, ada tips menarik. Kuasai keadaan!
kalau tidak menguasai, habislah kita diserang rasa takut.
Oh ya, kalau Mbak Kasih telah bekerja di bidang jurnalistik, biasakanlah untuk bekerja mengejar waktu, sehingga momok deadline tidak (lagi) menjadi pemicu panik yang luar biasa.
selamat bekerja dengan tenang, Mbak.
salam.

15 Maret 2010 21:38
0

yg penting, kita belajar buat mengendalikan rasa panik ya mbak. kita lah yg harus mengendalikan rasa panik, bukan rasa panik yg mengendalikan kita.

artikelnya menarik, mbak ..
salam.

23 Maret 2010 | 23:26
0

Terima kasih Mbak Ranti, sudah bisa mengambil inti dari tulisan ini.
sippp…mantap! :)

3 Mei 2010 13:05
0

Sip betul ya Ver , pemimpin adalah panutan ..kita semua berkaca kpd pemimpin makanya kan ada leadership training , orang bisa saja pandai dlm hal tertentu namun tidak memiliki yg dinamakan ‘leadership’ skill yg didalamnya menurut saya ya..,panic management itu tadi ..gitu kira2 . good posting !

Tulis Tanggapan Anda
Guest User
Copyright 2008 - 2010