sepertinya agak basi kalau saya menulis ini sekarang, tapi gak apa apa toh, daripada tangan saya kram megang mouse terus, alkisah tadi siang sebelum saya pergi kerja saya menonton dulu acara debat yang selalu “panas” di salah satu TV swasta yang banyak dicintai sekaligus dibenci. dalam acara debat tersebut dihadirkan perwakilan mahasiswa HMI dan juga perwakilan Kepolisian, wuihhh, saya pikir acara ini dijamin bentrok dan panas lagi, apalagi temanya mengangkat kenapa demo kemaren anak anak HMI bisa rusuh? tertarik akan temanya saya mengikuti acara debat tersebut.
ronde pertama si mahasiswa memaparkan aksi kemarin, yang intinya mereka tidak mau rusuh karena sebenarnya dipancing oleh polisi supaya rusuh (loh???) lalu perwakilan dari Kepolisian bicara dengan tenang, santai, dan tidak emosi dalam menanggapinya, saya salut bapak polisi tersebut sampai membacakan sepenggal ayat ayat suci untuk penegasan bahwa mereka (polisi) tidak suka dengan kekerasan, tapi si mahasiswa terus berargumen bahwa tindakan penangkapan salah seorang temannya tidak didukung bukti yang kuat, tapi si polisi menimpali bahwa sudah ada bukti yang jelas yaitu senjata tajam dan sebagainya.
nah, sudah mulai panas, tapi si pak polisi masih tenang saja sampai ada interupsi interupsi dari pihak mahasiswa yang menegaskan bahwa demo yang mereka lakukan (caranya) adalah suatu metodologi untuk mencapai tujuan (loh???) kontan dibalas oleh pihak Kepolisian bahwa metodologi kekerasan dan anarkis berarti cara untuk menyampaikan aspirasi? si mahasiswa malah berkelit dan berbicara yang jujur saya tidak paham apa maksudnya, berbicara bertele tele memaparkan metodologi metodologi bla bla bla, entah saya tidak paham.
hingga akhirnya si mahasiswa kekeuh bahwa tindakannya tersebut benar dalam mencari perhatian apalagi masalah korupsi di century harus diusut, tapi si pak polisi menimpali dengan enteng apakah tindakan menutup jalan sehingga masyarakat terganggu usahanya bahkan ada yang sempat melahirkan di angkot karena jalan ditutup dan angkot tidak bisa pergi kemana mana apakah suatu bentuk metodologi? tapi lagi lagi si mahasiswa menjawab berputar putar dan membuat saya pusing.
hingga ronde selanjutnya berganti tempat, si mahasiswa diganti oleh alumnus mantan aktivis HMI dan polisi diganti tokoh masyarakat, di ronde ini saya lebih pusing lagi karena si mantan aktivis bahasanya “sulit” dicerna, terlalu berat dan pointnya saya tidak bisa menangkap, tapi balasan dari sang tokoh masyarakat pun tenang tidak jauh dengan pak polisi sebelumnya, hingga acara berakhir, saya menyimpulkan betapa bangganya mahasiswa dengan aksinya dan keras kepalanya dengan metodologinya! bahwa demo “ala” mereka adalah satu satunya cara agar dilirik oleh pemerintah yang ujung ujungnya jadi anarkis. kasihan saya dengan pak polisi tersebut, saya tahu mungkin memang benar ada oknum kepolisian yang menyebabkan rusuh maupun mahasiswa, tapi si pak polisi sebagai atasan sudah susah payah agar demo bisa ditanggapi dengan tertib.
eh di akhir acara ketika mau berjabat tangan, si mahasiswa menyampaikan pihak Kepolisian harus intropeksi tanpa sekali kali mau mengakui kesalahannya (mahasiswa) sendiri, langsung disindir oleh pak polisi sambil tersenyum, ya mahasiswa juga harus intropeksi dong, saya tertawa puas melihatnya, keras kepala seorang mahasiswa, tidak mau mengakui perbuatannya telah merugikan banyak pihak dan lain sebagainya, apa mereka tidak malu? well, saya sebagai bekas mahasiswa, tidak pernah melihat apa sisi positifnya dari demo yang diwarnai anarkis, beda halnya dengan demo yang dilakukan dengan damai, melakukan atraksi, atau hiburan, sehingga ditonton oleh banyak orang, daripada menghancurkan properti negara.
akhir kata, semoga para mahasiswa kedepannya bisa mencairkan kepalanya yang “keras” selalu beranggapan benar dan yakin bisa menyelematkan negara, bukan saya tidak percaya, tapi tolonglah hargai juga masyarakat lain, karena kalian hidup tidak sendiri, dan suatu saat kalian juga akan menjadi bagian dari masyarakat setelah lulus kuliah, hmmm, jadi teringat lelucon teman saya, sunda yaitu “suka bercanda”, jawa yaitu “jaga wibawa”, makassar “mahasiswa kasar” upsss…
Bulan Februari adalah bulan cinta. Begitu kurang lebih yang dirayakan para kawula muda setiap bulan
