Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Ahmed Tsar Blenzinky

Ingin menjadi penulis multi talenta.....

Evolusi Pemberian Nama Pada Suku Jawa

OPINI | 11 March 2010 | 09:10 560 44 6 dari 7 Kompasianer menilai Menarik

ilustrasi (farm4.static.flickr.com)

ilustrasi (farm4.static.flickr.com)

Postingan ini hanya bertujuan untuk mendeskripsikan amatan sementara saya, yaitu tentang masalah pemberian nama pada suku di Jawa Tengah. Ada semacam fenomena menarik ketika mengamati proses pemberian nama. Ya, fenomena karena sepertinya proses pemberian nama ini berbanding lurus dengan peralihan masyarakat dari “wilayah pedesaan” ke “wilayah perkotaan”. Maksud dari berbanding lurus adalah proses pemberian nama ini sejalan dengan upaya sebagian manusia untuk hidup lebih modern. Oia, tanda kutip pada frasa “wilayah pedesaan” dan “wilayah perkotaan” mencerminkan arti simbolis sekaligus juga arti sebenarnya. Kalau arti sebenarnya mengandaikan ada sebagian manusia yang pindah dari desa ke kota. Sedangkan arti simbolis menjelaskan ada suatu wilayah pedesaan yang bertranformasi menjadi daerah perkotaan.

Evolusi pemberian nama. Ya, inilah yang menarik dari amatan saya. Bermula dari perhatian saya terhadap keluarga besar orangtua. Nama kakek, nenek, orangtua, saya sendiri dan berbagai saudara serta keponakan-keponakan. Tampak sekali ada perubahan mencolok dari proses pemberian nama, yaitu dari satu suku kata menjadi dua, tiga atau lebih. Satu suku kata pada kakek, nenek dan generasinya. Dua suku kata pada saya dan generasinya. Dan, tiga atau seterusnya pada generasi keponakan-keponakan saya. Fenomena ini juga terjadi pada tetangga kanan-kiri saya.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar ini

ilustrasi (buatan sendiri)

ilustrasi (buatan sendiri)

Gambar ini menjelaskan bahwa pada era tahun 70an ke bawah (69, 68. dan mundur seterusnya), pemberian nama sangat sederhana. Yaitu hanya satu suku kata. Kemudian pada era tahun 70 sampai 90, dua suku kata sudah mulai nampak pada pemberian nama. Dan, era tahun 90 an ke atas (91, 92 serta seterusnya maju) kecendrungan pemberian nama sudah mulai menggunakan tiga suku kata atau lebih. Catatan, tiga era pada gambar tersebut menandakan tahun kelahiran.

Kebetulan, nama Dulmatin sedang tenar. Nama ini bisa digunakan sebagai contoh amatan saya. Awalnya saya kaget, “kok sosok Dulmatin  lahir tahun 70an ke atas, seharusnya pemberian nama ini berada pada tahun 70an ke bawah”. Selidik punya selidik, ternyata Dulmatin adalah nama alias. Nama aslinya Joko Pitono. Tetapi ada yang menarik dari nama Dulmatin ini. Pola penggunaan satu suku kata pada nama ini dapat menjelaskan proses pemberian nama di tahun 70an ke bawah. Nama sebenarnya bukan Dulmatin tetapi Abdul Matin. Maksudnya, kalau anda mengartikan nama Dulmatin langsung, pasti kesulitan. Abdul Matin sendiri mencerminkan sebuah nama pinjaman dari kosa kata Arab, yang berarti “Hamba Kematian” (bagi yang mengerti bahasa Arab, mohon koreksinya :) ).

Begitu pula dengan pola penggunaan nama pada generasi 70an ke bawah. Satu suku kata nama tapi bermakna dua atau lebih. Misalnya, Madamin (sebenarnya Muhammad ‘Amin), Madruslan (sebenarnya Muhammad Ruslani), Lasirab (sebenarnya, Lahir Siji Rajab. Maksudnya, Lahir tanggal satu bulan Rajab), Rawon (Sebenarnya Rabu Kliwon) dan seterusnya. Ada juga pola gabungan dari dua nama. Misal Suparti (gabungan dari Suparman dan Partinah). Sederhana bukan? Ya, tapi mengandung banyak arti.

Memasuki era 70an ke atas, setiap orang mulai memberikan nama pada anaknya dengan dua suku kata. Apa sebab? Dugaan saya, era 70an merupakan era dimulainya masa pembangunan Indonesia. Lebih jauh, era pembangunan juga mencerminkan bangkitnya budaya membaca dan menulis. Nah, setiap orang yang mengalami era pembangunan ini akan memberikan nama anaknya dengan dua suku kata karena perbendaharaan kosa kata makin banyak dipahami. Akan tetapi makin sempit maknanya, satu suku kata satu arti. Saya serahkan contoh pemberian nama era 70an ini pada anda sekalian para pembaca.

Lalu era 90an datang. Pemberian nama pun bergeser pada tiga suku kata atau lebih. Pencetusnya adalah budaya media visual dan internet yang mulai berkembang. Salah-satu dampak positif dari dua budaya ini adalah pengguasaan bermacam kosa kata dari berbagai negara di dunia. Ini pencetus pertama. Pencetus kedua adalah asupan gizi makin baik seperti tersedia berbagai susu formula yang menawarkan khasiat berbagai macam rupa. Dampak dari pencetus kedua ini adalah memori pengingat makin kuat. Kombinasi dari kedua pencetus ini akhirnya melahirkan tradisi pemberian nama dengan tiga suku kata atau lebih.

Terakhir, deskripsi postingan ini bukan menggambarkan perkembangan pemberian nama secara keseluruhan pada suku Jawa. Masih banyak penggunaan satu suku kata pada nama orang di eran internet ini. Sebagian besar terdapat di pedesaan. Dan sebagian lagi berada di wilayah urban.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012