Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Mariska Lubis

Baru saja menyelesaikan buku "Wahai Pemimpin Bangsa!! Belajar Dari Seks, Dong!!!" yang diterbitkan oleh Grasindo (Gramedia Group). Twitter: http://twitter.com/MariskaLbs dan http://twitter.com/art140k juga @the360love bersama Durex blog lainnya: http://bilikml.wordpress.com dan mariskalubis.wordpress.com

Krisis Percaya Diri, Dijebak Simpati Seks

OPINI | 10 March 2010 | 00:05 454 122 8 dari 17 Kompasianer menilai Bermanfaat

Google

Bermula dari curahan hati dengan menceritakan segala masalah. Muncullah kemudian yang menjadi seolah-olah malaikat penolong yang membantu. Ternyata semua itu palsu. Imbalan atas simpati yang diberikan oleh penolong itu ternyata terlalu besar.

Tulisan ini saya angkat setelah mendapatkan inspirasi dari sebuah acara pendidikan seks yang hari Jumat lalu disiarkan oleh sebuah radio swasta di Jakarta di mana saya menjadi nara sumbernya. Saya merasa sangat perlu sekali untuk diberitahu kepada semua tentang yang satu ini. Jebakan semakin banyak soalnya. Sudah seperti sedang mewabah saja.

Seorang perempuan muda sedang kebingungan. Dia bercerita bahwa dia merasa sedang sangat tertekan oleh perilaku seorang pria yang menjadi dewa penolongnya. Pria itu membantunya mendapatkan pekerjaan. Namun sebagai timbal baliknya, setelah pekerjaan itu diberikan, pria itu meminta agar perempuan itu mau tidur dengannya. Tak kuasa menolak karena merasa telah berhutang budi, dia pun kemudian merelakan diri untuk dijadikan tempat pelampiasan nafsu pria itu. Terus saja berulang dan kemudian membuat perempuan itu menjadi semakin bingung dan takut. Tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana.

Memang bukan sebuah cerita baru karena kejadian seperti ini seringkali terjadi. Bentuknya juga bisa bermacam-macam. Ada yang diberikan pangkat dan jabatan, gaji yang lebih, bahkan ada juga yang sampai membiayai semua keperluan dan biaya keluarga. Gilanya, nih, mereka tetap merasa seperti malaikat penolong, lho!!! Malaikat yang sangat baik hati dan memiliki rasa simpati yang sangat besar!!!

Ada yang membuat saya terkejut di acara itu, yaitu ketika ada seorang perempuan muda juga yang mengaku kalau dia memang seorang sympathy sex. Sangat berharap agar pria yang telah dia rasa dia bantu itu untuk mau berhubungan seks dengannya lagi. Sebelumnya pernah, tapi dia mengaku masih kurang memuaskan.

Saya hanya bisa bilang, kalau begitu bilangnya jangan bantu, tapi bayar!!! Hehehe…. Biar sekalian saja pria itu tahu kalau selama ini dia membayarnya untuk mau memuaskannya. Kan, jadi sama-sama tahu, jadi siapa tahu lebih memuaskan. Iya, nggak, sih?! Mengerikan, ya!!!

Menurut pendapat saya, kejadian ini seharusnya tidak perlu terjadi bila memiliki rasa percaya diri. Percaya diri menjadi sangat penting. Bukan kemudian untuk bisa menjadi sombong dan tinggi hati atau gengsi tak karuan, tetapi untuk bisa menghargai diri sendiri. Saya melihat sekarang ini memang banyak sekali yang krisis rasa percaya diri, meskipun dari luar tampaknya sangat percaya diri. Namun bila diperhatikan lebih mendalam lagi, sama sekali tidak. Sangat tidak percaya diri dan bahkan sangat krisis dalam identitas. Tidak tahu siapa diri mereka yang sebenarnya. Mereka hanya menjadi orang lain yang dianggap lebih hebat, keren, gaya, dan juga lebih diterima oleh yang lain. Sangat labil!!! Takut untuk menjadi diri sendiri!!!

Kenapa hal ini bisa terjadi?! Nah, ini menurut saya sangat penting untuk dijadikan pertanyaan besar. Bagi saya, ini juga jelas menunjukkan ketidakstabilan masyarakat secara keseluruhan. Bagaimana bisa memiliki identitas bila identitasnya sendiri tidak dikenal dan tidak diketahui?! Asal usul mereka sendiri mereka tidak kenal. Budaya dan sejarah pun sudah sedemikian rancunya sehingga tidak tahu lagi juga mana yang benar dan mana yang salah. Sama sekali tidak dianggap penting!!!

Penilaian atas modern hanya dipandang dari sisi teknologi penampilan saja. Merasa modern bila sudah menggunakan produk dengan teknologi tercanggih, mengenakan pakaian bermerek terkenal, sangat fasih berbahasa asing, sekolah di luar negeri atau sekolah bergengsi yang mutunya juga masih diragukan. Hanya mahal saja, jadinya berkesan lebih hebat. Semuanya sangat semu!!! Tidak bisa dijadikan patokan!!! Tidak mengerti bahkan tidak satu sama sekali apa sebetulnya modern itu. Sungguh sangat primitif!!!

Benturan antara agama dan keyakinan dengan kenyataan dan fakta yang ada juga semakin membuat semuanya semakin membingungkan. Pembenaran demi pembenaran terus saja dilakukan. Semuanya menggunakan alasan kebenaran sementara kebenaran mutlak itu sendiri diabaikan. Pembodohan yang sangat luar biasa hebat!!!

Saya sangat prihatin sekali dengan keadaan ini, apalagi bila saya perhatikan lagi, terlalu banyak yang menganggap ini semua hanya omong kosong belaka dan menolak semuanya. Sudah merasa paling benar, paling pintar, paling elite, paling intelek, paling baik, dan paling suci. Sudah merasa lebih banget, ya?! Elite , intelek, baik, dan suci saja tidak mengerti kali artinya?! Ingatkah kalau ada yang jauh lebih dari kita semua?! Kita hanya manusia, lho!!!

Marilah kita semua untuk sama-sama mengintrospeksi diri bersama. Janganlah kita selalu menudingkan jari melulu juga. Ini adalah kesalahan kita bersama. Bukan hanya satu pihak saja. Bila kita tidak ingin kejadian ini terus menerus berulang, kita semua harus mau bekerjasama dan saling bahu membahu. Semua demi kebaikan. Demi masa depan. Demi kita semua.

Berikanlah cinta kalian agar menjadi manfaat untuk semua. Cinta untuk kita adalah cinta kita juga untuk semua.

Semoga kita semua berani untuk menjadi diri sendiri!!!

Salam Kompasiana,

Mariska Lubis

Kunjungi  artikelpaling hot!!! di

Baca juga 10 Artikel Pilihan Lainnya:

  1. Seni, Seks, dan Revolusi?! Kenapa Tidak?!
  2. Atas Nama Cinta, Saya Hamil dan Dia Dipenjara
  3. Mengintip Malam Pertama Pengantin Turki
  4. Menemukan Tuhan Lewat Seks
  5. Biarkan Payudaraku Tetap Basah!
  6. Duh! 62,7 % Siswi Sudah tak Perawan?
  7. Bugil Massal, Seni Pembangkit Syahwat
  8. 28% Pria Indonesia Ketagihan Nonton Film Porno?
  9. Wow! Orgasme Ratusan Kali Sehari?
  10. Seks “Tiga Rettong” ala ABG Palopo
  11. Kutunggu Ungkapan Cintamu

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012