
lahir di jakarta, tumbuh, malang melintang dalam kehidupan metropolis jakarta dengan segala hiruk pikuknya sampai tamat dari IKIP Jakarta (sekarang UNJ), hijrah ke Bali, bergelut dengan pendidikan anak usia dini (preschool) sampai sekarang. senang menulis apa saja, mengolah kata-kata menjadi kalimat-kalimat dan paragraf, selain untuk ungkapkan rasa dan pikir, juga dalam rangka karsa-nya sebagai lentera, berbagi terang yang menghangatkan kepada sekitar. saat ini masih tetap berproses menjadi \\\"manusia yang adaptable, understanding, dan rahmat bagi alam semesta\\\".
Dibaca: 282
Komentar: 6
Nihil
Luar biasa kekuatan itu. Dalam perjalanan hidup gue, sering gue alami hal-hal yang kadang gak masuk akal, tapi itu terjadi dan kalo gue rujukin ke masa lalu, gue inget-inget lagi apa saja keinginan gue dan pernah gue katakan, itu bener terjadi.
Setiap datang periode bulanan gue, sakit luar biasa dan itu gue alami dari pertama kali gue mendapat pariode itu. Sampe2, guru wali kelas I SMA gue merhatiin, ngeliat absen gue, setiap bulan sekali pasti gak masuk di tanggal yg nyaris berdekatan. Kebetulan wali kelas gue itu perempuan dan gue ceritain masalah gue, dan beliau maklum, lalu menyarankan untuk konsul ke dokter kandungan.
Orang-orang tua bilang, ah, gak apa2 itu biasa. Nanti kalo dah nikah dan punya anak, bisa hilang. Tapi setelah nikah, ke dokter, berobat macem2 dijalani dari yg tradisional ampe modern, vonisnya; gak bisa punya anak, kecuali dg program bayi tabung. Ah, gak mau. Gue pikir itu bukan program-Nya, itu bukan cara-Nya. Itu cara manusia. Menerima dgn pasrah, meski harus korbankan keluarga. Tinggalkan saja, sebab gue tak juga bisa diterima di situ apalagi dgn kondisi fisik gue.
Seorang ahli kinesiolog di australi, sempat mendeteksi penyakit gue. (Kinesiolog = ahli yg menghubungkan penyakit tubuh dikaitkan dgn psikologis). Dia menghipnotis gue, dan jawaban2 gue atas pertanyaan2-nya hanya gue lakukan dg gerakan tangan. Anehnya, gue jg gak tau apa yg ditanyakan. Begitu sadar, dia bilang; kamu pernah liat orang melahirkan secara langsung?
Halah! Orang ini kok bisa tau. Padahal pengalaman masa kecil gue itu, gak ada seorang pun yg tau, karena gue pendam sendiri. Gue inget, waktu itu umur gue 10 tahunan. Tante gue melahirkan di rumah, gak sempet ke bidan. Di kamar, sudah ada ibu-ibu yg bantu dan ditutup kain sekeliling tmpt tdrnya. Waktu itu si dian kecil lagi di kamar mandi yg ada di kamar itu. Nah, keluar dari kamar mandi, sempet ngintip ke balik kain yg menutup keliling tempat tidur, pas di depan liang vagina yg sedang ngeluarin bayi. Dian kecil hanya bengong, tdk menjerit, dan para ibu yg sibuk gak sadar ada si dian di situ. Terus si dian kecil jalan ngeloyor keluar kamar, tanpa banyak ribut, lanjutin main dgn teman2 dan sepupu2nya.
Rupanya itu terekam di dalam otak bawah sadar bertahun-tahun. Dian kecil saat itu emang gak histeris, ketakutan, tapi sebetulnya secara psikologis ia ketakutan amat sangat, dan otaknya memendam ketakutan sehingga menghambat pertumbuhan fisiknya utk persiapan kehamilan dan melahirkan sebagaimana layaknya perempuan.
Penelitian otak terbaru yg gue pelajari, menambah keyakinan akan kebenaran itu, meski banyak teman dan sahabat mendebat, jika tuhan menghendaki, DIA akan berikan. Tuhan tak menghendaki cinta gue terbagi untuk-Nya dan untuk anak gue.
Hingga tiga hari lalu, setelah seminggu sakit di perut gue gak berkurang dan wajah kian membiru, dokter memvonis; kista di rahim gue udah terlalu besar, diameternya 6 koma sekian hampir 7 cm. Dokter bilang operasi kecil, angkat kista dan gue setuju. Setengah perjalanan, harus diputuskan rahim gue mesti diangkat juga, sebab kista telah melekat erat di rahim dan memenuhi rahim.
Gue siap, lahir batin. Pasrah total.
Emang gak boleh kali ngomong sembarangan. Gue pernah keluhkan sakit bulanan gue, dan gue pernah bilang; kenapa sih perempuan harus haid? Sampe sekarang belum terjawab. Setelah gue divonis gak akan bisa punya anak, dan gue masih terus menderita setiap bulan, gue komplain; angkat aja deh rahim gue, kan juga gak ada gunanya, seperti apendix (usus buntu) yg juga udah raib dr perut gue bertahun-tahun lalu. Rupanya gak semudah itu dokter ambil tindakan, harus ada alasan kuat dan gak ada yang akan komplain. Dan sekarang rupanya saat itu datang di gue. Sudah ada alasan kuat utk angkat rahim gue, dan gak ada yg bisa komplain.
Bangun tidur tadi, gue inget lagu lama banget dan mungkin gak banyak dikenal orang. Lagunya gini;
“ibuku sayang, bangunkan rumah dalam rahimmu”
Gue gak tau siapa yang nyanyi, mungkin juga itu hanya jingle iklan KB atau soundtrak sinetron. Sempat sedih, sebab secara literasi ’saja’ tiga kata dalam lagu itu (ibu, rumah, rahim) gak ada dalam diri gue kini.
Gue telusuri, apa makna kata ‘rumah’? Apa makna kata ‘rahim’, dan kenapa pada kata ‘ibu’?
Waktu ngajar anak-anak, gue pernah kumpulkan definisi rumah menurut mereka. Rumah, adalah tempat kita berteduh, tempat di mana keluarga berkumpul, tempat di mana segala penat di luar dilepaskan, tempat untuk berlindung dari binatang buas.
Bagaimana dengan kata rahim? Tentu maknanya adalah ‘kasih sayang’. Rumah itu tak akan terbangun dalam definisi tadi, jika tak rahim di dalamnya. Ia hanya akan menjadi bangunan fisik yang semegah apapun, tak akan manjadi tempat yg sesuai definisi tadi. Ingat kisah ‘keluarga cemara’? Rumah sederhana tapi penuh cinta kasih dan sayang, sesuai definisi rumah yang diungkapkan anak-anak.
Lalu kata ibu? Didefinisikan sebagai sosok yang patut dihormati, sosok yang penuh kasih sayang, sosok tempat kita mencurahkan isi hati, duka cita dan nestapa, sosok tempat kita menggantungkan harapan sebab doanya sangat dimakbulkan tuhan.
Rumah, rahim dan ibu, apakah hanya bisa diejawantahkan dlm bentuk seperti itu saja?
Saat terbaring menunggu kesembuhan. Banyak teman datang. Banyak ‘keluarga’ mendoakan kesehatan dan menghibur gue. Mereka pamit pulang bukan hanya bersalaman dan peluk, tapi sebagian mereka cium tangan gue. Bikin gue terharu. Merasa berharga. Dan itu membuat gue bersemangat, sebab mereka memerlukan ‘diri’ gue sebagai ‘rumah’ mereka dengan seluruh ‘rahim’ yang gue punya, dengan predikat ‘ibu’ yang mereka tanamkan di diri gue sesuai kebutuhan mereka. Kasih (rahim) gue buat mereka yang memerlukan gue sbg apapun, tak akan hilang, meski rahim dalam diri gue secara fisik gak ada lagi…
(r.s. graha asih, kuta; 10/3/2010, menjelang pulang…)