Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Bisyri

Santri Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi dan Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir. Seorang yang kagum dengan Mesir karena banyak kisah dalam Al Qur'an yang terjadi di negeri ini. Seorang yang mencoba mengais ilmu pengetahuan di ramainya kehidupan. Seorang yang ingin aktif kuliah di Universitas terbuka Kompasiana.

Intelejen Bertawaf Ke Mesir berkat Bu Quraish Shihab dan Mbak Linda

HL | 27 February 2010 | 14:02 685 51 6 dari 15 Kompasianer menilai Menarik

Intelejen Bertawaf

Intelejen Bertawaf

Sekitar jam 10 pagi bu Quraish Shihab telpon ke nomor kontainer Al-Kiram tempat aku bekerja, bahwa beliau ingin bertemu langsung dengan kami dan akhirnya sepakat setelah maghrib tepat di hotel
Conrad, hotel yang diapit dengan Arkadia hotel dan Ramsis Hilton hotel yang menjorok tepat ke sungai nil, Cairo.

Hari Jum’at menjadi waktu full bagiku dan rekan kerjaku Mahmudi untuk mengambil karton kontainer milik orang-orang Indonesia yang hendak dikirim ke tanah air. Sekitar jam 8 pagi, Kami bekerja
mengambil kristal Ashfur di Shubra el-khoima milik salah seorang lokal staff KBRI Cairo. Setelah itu melanjutkan pengambilan kontainer ke Muqottom, asrama putri untuk para mahasiswi Al-Azhar.
Semua karton hendak dikirim ke Nangroe Aceh Darussalam.

Aku benar-benar tidak menyangka kalau hari jum’at ini akan bertemu dengan mantan duta besar Mesir bapak Quraish Shihab dan Ibu. Hari rabu lalu mas Furqon, staff kantin KBRI memberitahuku kalau ibu
Quraish Shihab ingin bertemu denganku setelah memberikan titipan buku dari Mbak Linda Djalil, tetapi waktu itu aku sedang ada jadwal kursus bahasa arab, akhirnya tidak bisa menemui beliau.

Hari senin yang lalu mbak Linda menghubungiku lewat pesan di Kompasiana, beliau bertanya tentang identitasku yang asli dan siapa orang yang aku kenal di KBRI Cairo. Aku menjawab dengan
jujur apa adanya dan ternyata pertanyaan mbak Linda ada buntutnya, tiba-tiba beliau berkata kalau bakal ada titipan untukku lewat ibu Quraish Shihab karena kebetulan bapak Quraish Shihab ada undangan untuk mengisi acara-acara seminar di Cairo.

Hari senin kemarin aku telpon mas Furqon, staff KBRI katanya buku titipan mbak Linda sudah sampai dan aku langsung bergegas ke KBRI sekalian mengambil cucian kantin. Di dalam taksi aku sms mbak
Linda kalau buku hadiahnya sudah aku terima cuma belum aku buka, lalu mbak Linda memberikan jawaban kalau suatu saat nanti setelah membaca bukunya jangan lupa bikin resensinya biar pak Prayitno Ramelan senang karena bukunya sampai ke Cairo. “Wahh..ini buku Intelejen Bertawaf dong mbak?!”, begitu sedikit isi smsku ke mbak Linda.

Sesampai di rumah, sambil mencuci kain-kain KBRI aku membaca sedikit tentang isi dari buku Intelejen Bertawaf kumpulan artikel Om Pray di Kompasiana yang diedit oleh kang Pepih Nugraha, aku langsung tertarik dengan isinya, walaupun hingga saat ini aku belum selesai membacanya.

“Kupasan Pray yang luar biasa cerdasnya ini, didasari oleh pengalaman dan pengetahuannya yang sangat luas dalam berbagai ragam aspek aktual”, begitu komentar dari Bapak A.M. Hendro Priyono yang tertulis di sampul buku dan memang benar, om pray dalam bukunya ini tidak hanya menyebutkan teori-teori tentang ilmu intelejen tetapi juga menyajikan pengalamannya yang luar biasa seperti ceritanya ketika kostrad Indonesia yang berlatih bareng bersama ranger Malaysia yang memanipulasi data, tetapi
alhamdulillah tentara kita selamat karena om pray sangat cekatan membaca situasi hingga akhirnya diputuskan untuk menerjunkan prajurit tidak dalam satu run.

Aku masih penasaran dengan isi buku Intelejen Bertawaf, aku suka sekali dengan ilmu intelejen karena benar seperti yang dikatakan Bang Chappy Hakim mengomentari buku ini, “Di sisi lain Prayitno,
dalam hal ini sebagai blogger, telah sangat berhasil dan sukses mengantar banyak masalah intelejen ke masyarakat luas tanpa harus membuka dengan ‘telanjang’ hal-hal yang sensitif dan berbahaya
bagi orang awan”. Dulu aku tahu ilmu intelejen dari film kartun detektif Conan, sekarang aku bisa belajar langsung dari buku om pray ini, juga lewat tulisan-tuisannya yang ‘renyah’ di Kompasiana.

Berkat mbak Linda aku bisa mendapatkan buku Intelejen Bertawaf yang diterbitkan oleh Grasindo PT. Gramedia Widiasarana Indonesia dan dapet kaos cantik bergambar vespa. Aku juga bisa bertemu dengan bu Quraish Shihab istri mantan pak dubes Mesir sebelum pak Bahtiar Ali. Sewaktu tadi siang bu Quraish telpon, beliau menggunakan bahasa jawa kromo inggil, aku kagum dengan beliau, padahal aku ini orang kecil dan beliau orang besar tetapi dari bahasanya sangat kelihatan sekali kalau ibu Quraish
shihab sangat menghormati dan fair bergaul dengan semua kalangan.

Tepat setelah magrib, aku dan sahabatku Mahmudi berangkat menuju ke hotel Costrad setelah terlebih dahulu mengisi perut di restoran Indonesia di Nasrcity. Karena ini hari Jum’at yang menjadi hari
libur nasional rakyat Mesir, hanya sekitar 30 menit lebih sedikit kami sudah sampai di Garden City, Tahrir dekat KBRI. Temanku menelpon nomor yang digunakan ibu Quraish telpon tadi siang tetapi
yang mengangkat seorang perempuan Mesir yang bisa bahasa Indonesia walaupun sangat terlihat kaku logatnya, dia mengaku guidenya Bapak dan Ibu Quraish, akhirnya dia memberikan nomor telpon bapak
Quraish dan kami menghubungi kembali sambil menunggu di ruang lobi hotel.

“Assalamu’alaikum”, kami serentak mengucap salam kepada bapak Quraish Shihab dan beliau mengajak kami ke kamarnya di lantai 12. Di sana kami ngobrol tentang perkembangan bisnis kontainer pengiriman barang Mesir-Indonesia. “Bu..makasih ya atas titipan bukunya dari Ibu Linda kemarin”, aku memberikan tambahan perkataan setelah menjawab beberapa pertanyaan seputar pekerjaan.

“oh..kamu bisry ya?”, “iya bu..”. Selama telpon tadi dan kemarin, aku memang sengaja tidak memperkenalkan diri kepada beliau, yang beliau kenal adalah temanku mahmudi. Beliau kaget setelah aku mengucap terimakasih atas titipan bukunya, lalu Pak Quraish shihab bercerita tentang mbak Linda, “ibu Linda itu orangnya hebat lho, beliau itu aktif pengajian di rumah tiap dua minggu sekali”, kata pak Quraish shihab. “Beliau juga pintar menulis, beliau mantan wartawati Tempo dan Gatra”, kata ibu Quraish. Bapak dan Ibu Quraish terus bercerita tentang mbak Linda hingga datang tamu dari
KBRI bernama pak Haras.

Conrad Hotel, Cairo

Conrad Hotel, Cairo

Ibu Quraish bertanya kepadaku apa sudah pernah bertemu dengan ibu Linda dan aku menjawab belum, beliau heran sepertinya aku dan mbak Linda terlihat akrab, aku menjawab sambil tersenyum “berkat
tulisan di Kompasiana Bu”. Aku juga titip salam untuk mbak Linda kepada Ibu dan Bapak Quraish. Pertemuanku dengan kedua beliau karena beliau mengirim lumayan banyak karpet made in Egypt lewat
perusahaan kontainer tempatku bekerja dan kedatangan kami ke hotel adalah untuk memberikan kwitansi pembayarannya.

Walaupun hari jum’at ini aku dan mahmudi bekerja mulai 8 pagi hingga jam 10 malam, rasa capek ini terbayar setelah bertemu dengan orang besar yang aku kagumi, aku bisa mengucap terimakasih
secara langsung kepada ibu dan bapak Quraish shihab yang membawa titipan buku yang sangat berharga untukku, Intelejen Bertawaf karangan Om Prayitno Ramelan dari Mbak Linda Djalil.

Terimakasih banyak Mbak Linda, makasih juga Om Pray atas ilmu Intelejennya, suatu saat insya Allah akan aku tulis catatan sederhana setelah selesai membaca bukunya, makasih juga buat ibu
dan bapak Quraish Shihab, dari obrolan ringan tadi aku banyak belajar tentang arti sebuah perjuangan hidup.

##################

Intelejen Bertawaf akhirnya sampai juga ke Cairo… :)

Salam Kompasiana

Bisyri Ichwan


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


    CINTA PERTAMA

    Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,


SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012