Artikel

Sosbud

Rathy Oktriana

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Manusia biasa, yang datang dan pergi kapan saja. Waktu adalah sahabat yang paling dekat dan setia untuk bercerita tentang apa saja.

Kecerdasan dan Keyakinan (Belajar dari Mario Teguh)


OPINI | 26 February 2010 | 21:47 Dibaca: 520   Komentar: 7   2 dari 3 Kompasianer menilai Bermanfaat

Oleh : Rathy Oktriana

Menonton acara satu jam bersama Mario Teguh di TV-ONE, ada beberapa hal yang dapat saya pelajari dari sosok yang dapat membius untuk memotivasi ratusan, atau mungkin jutaan orang di negeri kita tercinta ini.

Ketika pembawa acaranya bertanya kepada Mario, tentang kehidupan pribadinya, dengan jujur dia mengatakan, bahwa ia juga seperti orang kebanyakan. Sering tidak percaya diri, bingung pada hidupnya, dan merasa seberapa besar manfaat hidupnya untuk orang banyak.

Seorang Mario Teguh, ternyata masih sering tidak percaya diri, padahal dia sendiri sering diminta untuk jadi pembicara dalam rangka motivasi. Ini pelajaran buat saya, bahwa manusia tidak ada yang sempurna. meskipun ia sering diminta tolong oleh banyak orang tentang itu semua, tetapi dalam kesendiriannya, seperti yang Mario Teguh katakan, rasa tidak percaya diri kadang datang menghinggapi.

Bingung pada hidup, karena memang hidup adalah rahasia Allah. Kita tidak bisa menebak hari ini jadi apa, besok akan seperti apa. Kebingungan hidup seperti ini juga ternyata dialami oleh seorang Mario Teguh.

Merasa seberapa besar manfaat hidup untuk orang banyak. Nampaknya hal ini yang perlu saya pelajari lebih dalam tentang seberapa besar manfaat saya untuk orang banyak. Karena saya memang belum melakukan apa-apa dan tidak memberikan apa-apa untuk orang banyak. Semoga saja kejujuran yang Mario Teguh kemukakan itu memecut saya untuk menjadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak.

Lalu ketika pembawa acara kembali bertanya lagi kepada Mario Teguh tentang apa harapan dalam hidupnya? Laki-laki berambut botak dengan suara vokal yang begitu prima yang kadang mengalahkan pengeras suara itu menjawab dengan jawaban yang benar-benar membuat saya tercengang.

Mario Teguh mengatakan, harapan hidupnya adalah, ia selalu berdoa kepada Allah, untuk menjadi jembatan bagi segala pertanyaan banyak orang yang tidak terpecahkan. Doa itu ia panjatkan setiap waktu, karena katanya, begitu banyak orang yang bertanya kepadanya, dan terkadang pertanyaannya ia sendiri tidak memahaminya. tetapi dengan berdoa seperti itu, ia menyakini, akan selalu diberikan petunjuk oleh Allah, untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepada dirinya.

Ini sungguh luar biasa. Kecerdasan otak ternyata dikalahkan oleh keyakinan yang semuanya memang bersumber dari zat yang Serba Maha. Seorang Mario Teguh, yang menurut pengakuannya, pada umur 17 tahun pergi ke Amerika dan ingin pindah agama karena kecewa pada pemimpin-pemimpin agamanya (Islam), ternyata lebih mengedepankan unsur spiritual ketimbang hanya mengandalkan kecerdasannya.

Sungguh, apa yang dikemukakan oleh Mario Teguh membuat saya semakin mantap, bahwa kecerdasan otak manusia belumlah seberapa bila dibandingkan dengan kekuatan keyakinan yang bisa melahirkan pengetahuan.

Fhuah…. saya menarik nafas panjang waktu menonton acara tersebut. Dan semakin menghempaskan nafas panjang ketika menulis catatan ini. Sungguh luar biasa seorang Mario Teguh itu…

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: