Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Fitrah Dhaniadi

santai, susah bagi waktu [ajarin dong].

Indonesia “Diarahkan” untuk Menjadi Bangsa yang “Biasa”

OPINI | 24 February 2010 | 19:44 Dibaca: 109   Komentar: 15   2

Merah putih ini akankah masih dengan arti yang sama?

Ketika kita berbicara tentang berbagai kasus yang mewarnai jalannya pemerintahan di Indonesia mulai zaman Soekarno sampai Soesilo Bambang Yudhoyono alias SBY saat ini, selalu tak pernah lepas dari pro dan kontra, tentu saja karena yang namanya politik tak pernah mengenal kawan begitu katanya, yang seiring berjalannya waktu muncullah kata-kata “dalam politik tak ada kawan ataupun lawan abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi”, kalimat diatas benar adanya, dan sangat-sangat bisa dibuktikan, dengan kata-kata yang terucap keluar dari bibir seorang Ruhut Sitompul saat diwawancara oleh Metro TV, yang mengatakan “Lihatlah aku kawan, dulu aku kader di GOLKAR, tapi aku sekarang berkilau di DEMOKRAT”, seorang Ruhut Sitompul (RS) yang kita lebih kenal sebagai seorang artis daripada politisi, memang jarang sekali terdengar gaungnya ketika di GOLKAR, tapi berbalik total ketika dia merapat dan bergabung kedalam Partai Demokrat, semakin ramai diberitakan dengan berbagai ulah yang dibuatnya seolah sengaja untuk mengacaukan jalannya sidang anggota Pansus Century.

Saya tidak ingin membahas seorang RS yang selalu menjadi sosok Kontroversial, tapi lebih kepada keadaan dan kondisi bangsa ini yang semakin memprihatinkan dari segi moral. Bisakah dibayangkan jika suatu saat nanti, entah 5-10 tahun kedepan bangsa ini juga akan menjadi bangsa yang menganut paham “BIASA”, ketika semua permasalahan yang berkaitan dengan politik selalu tak pernah jelas penyelesaiannya dan masyrakat akan berkata “AH SUDAH BIASA”. Ketika para perampok uang rakyat dibiarkan bebas melenggang, kalaupun tertangkap dan ditahan akan diperlakukan bagaikan seorang tamu hotel dengan segala kelengkapan dan servis yang tak kalah dengan hotel berbintang lima, dan masyarakat akan berkata “AH SUDAH BIASA”. Ketika yang haram seperti pelacuran, prostitusi, sex bebas dilegalkan dengan membangun lokalisasi-lokalisasi, sedangkan Depag dan menteri agama justru “mencari” kesibukan dengan membuat RUU tentang kawin kontrak, nikah sirri dan poligami dengan alasan keadilan bagi wanita, apakah diotak mereka melacur jauh lebih baik ? entahlah, dan lagi-lagi masyarakat akan berkata “ AH SUDAH BIASA”. Ketika MIRAS juga dibebaskan untuk diproduksi dengan alasan sebagai salah satu sumber pemasukan kas negara, padahal miras adalah salah satu penyebab tertinggi terjadinya kasus-kasus tindak kejahatan yang tak ada habis-habisnya, masyarakat akan kembali berkata “AH SUDAH BIASA”. Ketika fasilitas sekolah di daerah kurang bahkan sangat tidak menunjang aktifitas belajar-mengajar justru pemerintah dengan mudah membelanjakan uang untuk mobil-mobil mewah para menteri, lagi-lagi masyarakat akan berkata “AH SUDAH BIASA”. Ketika partai politik pemenang pemilu justeru membohongi rakyat, dan melupakan janji-janjinya, membiarkan kader-kadernya bertindak tanpa norma dan nilai-nilai yang berlaku, dan lagi-lagi masyarakat akan berkata “AH SUDAH BIASA”.

Bisa dibayangkan ketika segala sesuatu yang tidak biasa dan tidak wajar akhirnya dipaksakan untuk menjadi biasa, apakah bangsa ini masih bisa bermimpi untuk mempunyai masa depan sendiri? Ketika pemerintah men-setting rakyatnya untuk bisa menerima hal-hal yang tidak biasa menjadi biasa tapi tidak wajar, maka tinggal tunggu tanggal maennya ketika suatu hal yang tidak wajar pun akan dibuat menjadi wajar, maka akan kemanakah bangsa ini ?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kapan Kota di Indonesia Jadi World Book …

Benny Rhamdani | | 23 April 2014 | 09:29

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 2 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 4 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 4 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 5 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: