Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Budiman Hakim

Ice melt when heated. Eyes melt when hated!

“Ibuku” Tulisan Sahabat Saya Amrie

HL | 23 February 2010 | 12:36 474 19 5 dari 7 Kompasianer menilai Inspiratif

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Masih ingat sahabat saya Amrie? Dia pernah nulis di sini. Beberapa hari yang lalu, ibunya amrie meninggal dunia. saya cukup prihatin mendengarnya karena sakit yang diderita ibunda Amrie sama persis dengan penyakit yang saya idap. Jadi saya tau benar bagaimana rasa sakitnya. Sekarang beliau sudah beristirahat dengan tenang di sisi Tuhannya. Dan di bawah ini adalah tulisan Amrie untuk Ibunda yang sangat dicintainya.

“Ode untuk Ibuku”

My mother is a poem
I’ll never be able to write,
though everything I write
is a poem to my mother.
- Sharon Doubiago

Dalam bahasa apapun juga, panggilan untuk Ibu selalu terdengar suci, evokatif, indah menyapu gendang telinga dan mengimplikasikan keagungan: Mother, Mater, Maman, Ummi, Mai, Okasan, Reny, Tina, Majka, Bunda. Dalam banyak bahasa kata Ibu digunakan menerangkan hal-hal yang sakral, agung, digdaya, alam dan tanah air, seperti Ibu Pertiwi, Mother Nature, Mother Ship dan Ibu Kota (hanya bangsa Jerman yang menyebut Fatherland untuk tanah tumpah darahnya).

Ibuku Nurhana mengisi 77 tahun kehidupannya berdasarkan 1 obsesi saja: giving. Sejak saya kecil dan mulai bisa mengingat, beliau akan mendapatkan kepuasan batiniah kalau sudah memberi: nasehat, resep, tauladan dan bahkan walaupun kami seringi ‘protes’ kemurahan hatinya, perhiasan di badan pun dilepas bila ada handai taulan yang butuh bantuan finansial.

Ketika Jumat pagi, 19 Februari 2010, beliau wafat diam-diam di kamarnya di rumah kami tanpa pertanda, kembali ke pangkuan Illahi selagi tidur dan khusnul khotimah, saya tercenung. Bahkan saat detik terakhirnya di alam fana pun, beliau tak hendak ‘meminta’.

Saat kesempatan bercakap-cakap dengan beliau semasa 2 tahun terakhirnya bersama kami, saya selalu teringat pepatah Yahudi yang berbunyi: “God could not be everywhere, so he created mothers”. Ibuku kelihatan sangat menikmati menjadi ibu dari 6 orang putra-putrinya. Ketika kami naik kelas, lulus sekolah, diterima bekerja dan menikah, beliau lah yang tampak paling bahagia.

“Being a full-time mother is one of the highest salaried jobs in my field, since the payment is pure love.” - Mildred B. Vermont

Daya ingatnya mengagumkan. Ketika sakit (HNP) yang memaksanya berbaring seharian pun, tidak ada hari ulang tahun 12 cucunya dan wedding anniversary anak-anaknya yang terlupa. Tiap Jumat jam 11.00 hapeku pasti berdering, dan tulisan ‘Mom’ terpampang di layar digital. Beliau menelpon untuk mengingatkanku agar siap-siap sholat Jumat :-)

“Grown don’t mean nothing to a mother. A child is a child. They get bigger, older, but grown. In mother’s heart it don’t mean a thing.” - Toni Morrison

When I was feeling blue, I always came to her. Lututnya adalah tempat belajar kehidupan. Kata-katanya lebih bermakna daripada khotbah 1000 ustadz dan pendeta. Pasti banyak hal yang kulakukan yang tidak disetujuinya. Banyak kata terucap yang membuatnya lara. Ketika sibuk terkadang saya tidak sempat mampir ke kamarnya, atau beliau sudah tertidur. Tapi, kuyakin, Ibuku Nurhana yang begitu mencintai profesinya sebagai ibu punya segudang persediaan maaf bagi anak-anaknya.

The heart of a mother is a deep abyss at the bottom of which you will always find forgiveness. - Honoré de Balzac

Kasih Ibu lebih dahsyat dari segala macam enerji di muka bumi ini. Kasihnya bak bahan bakar yang mendorong kita tuk menggapai mimpi. Cintanya bagai bank yang siap menerima deposit kekecewaan dan kegundahan kita. “Mother love is the fuel that enables a normal human being to do the impossible”, tulis Marion C. Garretty dalam buku ‘A Little Spoonful of Chicken Soup for the Mother’s Soul’. Dibalik sosok yang sukses pasti ada pondasi kasih sayang ibu.

Sabtu subuh, sehari setelah kepergiannya, aku bangun dan segera masuk ke kamarnya. Tempat tidur itu kini kosong. Aku tercekat. Keluar ke halaman rumah, tukang koran menaruh Kompas di atas pagar. “Kok, koran terbit ya hari ini?”, pikirku. Sering kita berharap, saat kita dilanda dukacita mendalam dunia berhenti berputar untuk ikut berbagi nestapa.

Tentu saja hal itu tak mungkin. Tapi ucapan dukacita dan perhatian dari teman, sahabat dan kehadiran mereka telah mewakili dunia dan meringankan beban kesedihan. For that we humbly thank you, friends.

Dalam perjalanan meninggalkan makamnya yang disatukan dengan almarhum Ayah, terasa getaran pada sukmaku. Kontak batin tetap tak terputus, percakapan kami akan terus berlanjut, as Carrie Latet once said: “The best conversations with mothers always take place in silence, when only the heart speaks”.

It’s so good to know that wherever you are, a Mom is always with you in spirit and in love.

So long, Mother…..

Amrie Noor
Senin, 22 Februari 2010


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012