Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Fikri

Fatihatul Insan Kamil Ramadhani Imama (fikri)

Naskah Drama yang (mungkin) Akan Dipentaskan Duabelas Hari Lagi

OPINI | 20 February 2010 | 19:39 Dibaca: 999   Komentar: 56   12

[Setting di depan rumah ibu Malinkundang]
[Ibu Malinkundang sedang duduk di depan rumah, mencuci beras atau sedang apalah]

Ibu Malinkundang sedang galau. Anak kesayangannya akan datang mengunjungi kampung halamannya dalam waktu dekat setelah lima belas tahun merantau ke pulau seberang.

[Mungkin akan bagus jika backsoundnya Sigur Ros]

[Ini opsional]
Tak lama kemudian para debt collector datang untuk menagih hutang ibu Malinkundang. Ibu malinkundang bertambah kadar galaunya. Sangat mengharapkan Malinkundang yang telah merantau sekian lama mampu menutupi hutangnya akibat kalah taruhan piala eropa kemaren megang Italia.

Debt collector1 : “Heh ibu! sekarang ini sudah jatuh tempo! segera lunasi hutangmu!”
Ibu Malinkundang : “Aduh pak, saya belum punya uang untuk melunasi hutang - hutang saya pak, kemaren saya masuk tiansi tapi blom dapet downline”
Debt collector2 : “Ah kamu jangan beralibi terus! hari gini kok masih ketipu MLM, mending kalo CNI, ini udah 2009 masi aja Tiansi. segera bu! kalau tidak…!”
Ibu Malinkundang : “Kalau tidak kenapa pak?”
Debt collector1&2 : “Akan saya itu - itu kamu”
Ibu Malinkundang : “Aduh mau dong, suami saya sudah 10 tahun meninggal, saya bosan pake terong terus”

kemudian ibu Malinkundang meninggalkan debt collector yang sedang kebingungan karena jawaban terakhir ibu Malinkundang.

[Hari berganti. Setting-nya tetap cuman background mataharinya gantian sama bulan]

Tetangga - tetangga datang mengunjungi ibu Malinkundang yang masih saja mencuci beras. Menanyakan perihal kesuksesan anaknya yang mulai tersohor sebagai syahbandar nomer wahid di negeri. Tai tulisan gw udah kayak kitab melayu begini. Haha.

Tetangga : “Ibu, katanya malin mau datang ya?”
Ibu Malinkundang : “iya, mungkin setelah bulan purnama nanti”
Tetangga : “Aah seperti apa ya Malin sekarang? Aku pasti tak mengenali rupanya”
ibu Malinkundang : “Ah ibu bisa saja, Malin kan panuan”

Ibu Malinkundang lalu berdoa kepada tuhan. memohon anaknya sampai dengan utuh tak kurang suatu apapun. Lalu seberkas sinar muncul dari atas menyinari ibu malinkundang dan ada suara berwibawa
[Pake lampu senter aja ntar]

“Tenang saja ibu, anakmu pasti selamat”.

[Terus scene-nya berganti. Suasana pelabuhan lengkap dengan kapalnya]

Di atas kapal, seorang lelaki berdiri dengan congkak di ujung geladak kapalnya. Pandangannya lurus. Matanya tajam memandang lautan. Alisnya membentuk kerutan di wajahnya. Tulisan gw kok bagus ya seperti penulis script handal. Haha. Kemudian istrinya yang rupawan memanggilnya untuk masuk ke dalam. Karena angin laut sudah mulai tidak bersahabat. Istrinya males ngerokin kalo suaminya masuk angin.

Berita kedatangan sang putra daerah mulai menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan rakyat desa. Sampai - sampai seluruh rakyat kampung halaman malinkundang mengganti status mereka di facebook. Seperti:
“Malinkundang mau datang mari kita senang!”
“Woi rakyat, ayo kita sambut si putra daerah!”

Yang abg pun ga ketinggalan ikutan mengubah status mereka.
“IccHh MaLeeN KunD4nG Mw DaTan9 LoChh !!”

Semua orang bersiap menyambut kedatangannnya. Pesta yang meriah pun telah disiapkan dengan sempurna. Kemudian kapal yang dimaksud sudah mulai merapat di pelabuhan kampung halaman Malinkundang. Kapal berukuran besar berlabuh, membuang sauh dan menurunkan tangga. Sang lelaki yang dimaksud turun meniti anak tangga satupersatu dengan angkuh dari kapalnya. Diikuti para pembantu dibelakangnya.

Ibu Malinkundang datang menghampiri rombongan tersebut. Kemudian menjerit histeris.

[Settingnya kayak scene starwars yang terkenal itu]

“Maliinnnn aku iki mbokmu malin”
“Ora! kowe uduk mbokku”

5 hari kemudian.
[Settingnya pake kain atau kertas item ditulisin warna putih]

“Maliiinnn aku iki mbokmu malin”
“ora! kowe uduk mbokku”

Kemudian setelah terjadi pergulatan yang sangat sengit selama 5 hari, tiba - tiba salah seorang pembantu lelaki tadi maju ke depan.

Si pembantu : “Ibu dia bukan malin. Aku Malinkundang”
Ibu Malinkundang : “Hah? Jadi kamu Malinkundang?”
Ibu Malinkundang : “Dasar anak goblok! Dari dulu udah ibu bilang sekolah aja dulu yang tinggi baru merantau! Tuh liat sekarang hasilnya bukan jadi orang besar malah jadi pembantu. Udah sini ga usah merantau lagi. Bantu ibu bercocoktanam saja”

*ini adalah skrip drama yang diperuntukkan mengisi acara tujuhbelasan ketika saya, Adit, dan Amy melakukan KKN di Cihaur, dekat kebun Mas Syam. Tapi untunglah, kerusuhan pascapelemparan helm penonton ketika pertandingan sepakbola antarkampung, menggagalkan pentas ini. Beruntung sekali warga Cihaur tak harus menyaksikan drama tak senonoh ini. Hehehe.

waktu ditulis [cihaur. 6 Agustus 2009. 04:15 AM. fikri]

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 11 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 13 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 13 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: