Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Thomas Pras

Hitam - Putih, Cafein - Nikotin.

Ciri-ciri Warga Negara Indonesia yang Pancasilais

OPINI | 18 February 2010 | 05:20 Dibaca: 3211   Komentar: 8   2


Ciri-ciri Warga Negara Indonesia yang Pancasilais adalah yang tingkat konsumsi gulanya rendah ! Kok bisa ?! Simak penjelasan berikut ini …

Tingkat konsumsi gula pasir masyarakat kita membuat produsen gula dalam negeri kewalahan, sehingga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pemerintah ‘terpaksa’ mengimpor.

Gula pasir, rupanya telah menjadi ‘kebutuhan pokok’ masyarakat Indonesia sebagaimana beras, garam, dan minyak goreng.

Untuk lebih jelasnya kita ambil data dengan mengutip dua berita berikut ini :

Produksi gula nasional tercatat sebanyak 2,4 juta ton di 2009, meleset 300 ribu ton dari target semula sebanyak 2,7 juta ton. (Harian Analisa, 12 februari 2010).

Sedangkan kebutuhan selama 2009, kebutuhan gula nasional mencapai 4,85 juta ton. 2,7 juta ton di antaranya konsumsi rumah tangga dan 2,15 industri (VIVAnews, 11 Juni 2009).

Melihat daya saing industri makanan dan minuman kita, maka kemungkinan sebagian besar produk industri tersebut dipasarkan di dalam negeri, maka artinya keseluruhan dari 4,85 juta ton kebutuhan selama tahun 2009 dikonsumsi oleh orang Indonesia.

Sehingga dengan jumlah penduduk sekitar 220 juta jiwa, maka tingkat konsumsi rata-rata per kepala sekitar 0,022 ton/orang/tahun atau 22 kg/orang/tahun. Jumlah tersebut setara 60 gr per hari. Jika 1 sendok makan gula pasir setara dengan berat 15 gr, berarti dalam satu hari orang Indonesia menghabiskan 4 sendok makan gula pasir; bisa untuk pemanis minuman, sudah dalam bentuk minuman kemasan, atau snack yang mengandung gula.

Membaca hitung-hitungan di atas, terbayang cara gampang mengatasi kekurangan gula, dengan jalan membalik perilaku konsumtif menjadi perilaku menahan diri. Hitungan sederhananya begini : seandainya orang Indonesia kompak mengurangi konsumsi gula pasir sebanyak 1 sendok makan/hari, itu berarti mengurangi 25% konsumsi gula nasional. Jika harga gula pasir dirata-rata Rp. 10 ribu/kg, maka jumlah penghematan per orang sekitar Rp. 55 ribu. Hitung sendiri jika yang melakukannya 220 juta orang …

Menahan diri mengkonsumsi gula pasir selain baik untuk kesehatan dan sebagai bentuk penghematan sebagaimana hitung-hitungan di atas, juga dapat dibaca sebagai ‘menemukan kembali jati diri bangsa’.

“Apa hubungannya (gula pasir dengan jati diri bangsa) ?” …

“Enggak terlalu berat tuh ?! “ …

Mungkin dua pertanyaan tersebut mewakili Anda sekalian.

Itulah enaknya penulis. Sama seperti demonstran yang ‘bisa’ menghubungkan para pejabat dengan binatang (tikus, ayam, monyet, kambing, dan yang lagi naik daun : kerbau), penulis juga demikian. Tapi berhubung sekarang kabarnya pihak kepolisian melarang demonstrasi menggunakan (atau menyertakan ?) binatang, dan tulisan ini memang bukan merupakan media demo, maka yang dipakai adalah komoditi gula pasir. Yang manis, yang semua orang suka.

Poinnya adalah : jika masalah gula (setidaknya dari hitung-hitungan di atas kertas) dapat diselesaikan dengan jalan ‘menahan diri’ dari konsumtifisme, secara bersama-sama, saya yakin persoalan bangsa kita yang lain juga dapat kita selesaikan dengan kekuatan tersebut.

Lewat proses menulis judul ini saya seperti diingatkan pada satu modal luar biasa yang sepertinya sudah kita sia-siakan: kekuatan kolektif bangsa. Mundur beberapa puluh tahun, dalam pidato ‘Lahirnya Pancasila’, Bung Karno mengatakan :

“Jika saya peras yang lima (Pancasila) menjadi tiga, dan tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘gotong royong’. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong!. Alangkah hebatnya Negara Gotong Royong!”.

Sebagai dasar negara yang digali dari nilai-nilai luhur asli bangsa ini, Pancasila dalam perjalanannya belum sempat menjadi pondasi dalam membangun karakter bangsa. Bahkan selama Orde Baru, Pancasila justru dilaksanakan secara tidak murni dan tidak konsekwen, hanya sebagai alat pelanggeng kekuasaan. Penegasian atas nilai-nilai luhur asli membuat bangsa ini tidak memiliki karakter, menjadi tidak jelas ‘jenis kelaminnya’. Sebagai contoh, di masa pemerintah Orde Baru sistem ekonomi yang kita anut cenderung pro pasar; namun ketika kaum miskin yang tereksploitasi ‘berteriak’, untuk meredakannya, oleh pemerintah diturunkanlah subsidi, yang khas sosialis. Sisi lain dari kapitalisme adalah individual, egoisme. Karakter bangsa yang terwariskan ke generasi kita menjadi seperti sekarang ini: mau menang sendiri, mau enak sendiri, seneng instant, merasa bener sendiri, maunya memimpin (padahal jadi bawahan saja belum mampu), ogah taat hukum, korup, dan sebagainya. Akhirnya kita buang-buang energi, capek gontok-gontokan. Berita-berita media massa membuktikan semua ini …

Seruan ajakan …

Supaya energi tidak habis percuma, mari kita belajar rukun, guyub, belajar menghargai proses. Mari bekerja sama, bergotong-royong, kompak memperjuangkan tujuan bersama. Kalau pemimpinnya benar-benar pemimpin milik rakyat, maka dia akan didengar rakyatnya. Untuk mengatasi masalah gula pemimpin tersebut cukup bilang “Wahai rakyatku, marilah mengurangi konsumsi 1 sendok gula, selain sehat, hemat, maka satu persoalan bangsa ini dapat kita selesaikan dengan kekuatan kita sendiri”.

Membayangkan hal tersebut saja rasanya bangga. Bangga karena punya pemimpin yang nasionalis, pemimpin yang bermartabat, yang berkharisma menggerakkan rakyat. Dan bangga, sebagai rakyat dilibatkan mengatasi persoalan bangsa ini.

Masalah gula, selesai …selanjutnya garam, minyak goreng …

Soal beras strateginya dirubah sedikit: diversifikasi; sesekali sarapan sagu, siang mencicipi nasi jagung, sore cemilannya singkong, talas, dan ubi rebus …

Dengan kekuatan kolektif, masalah energi, pendidikan, kesehatan, pertahanan dan keamanan, serta penegakan hukum, semoga juga menyusul selesai …

— Mendadak ada interupsi dari makhluk penghuni kamar sebelah …

“Kalau semua masalah sudah selesai terus ngapain dong ?!”

“Ya tinggal nikmatin … gitu aja nanya ! ”

“Masa gitu doang, emang roda kehidupan berhenti ?! , digilas dong kita !…”

“Iya sih, seharusnya kita nggak bingung ya kalau kita punya visi bersama .. ngomomg-ngomong visi bersama kita sebagai bangsa apa sih ?!”

“Au ah gelap!, yang begituan mah urusan para pemimpin … kan udah kita kasih gaji gede, kita kasih fasilitas lux , kerja dong – kerja … jangan berantem melulu !”

“Setuju, kalau wakil rakyat-nya saja sejahtera, seharusnya kita rakyat sekalian lebih sejahtera” …

“Itu baru terlaksana kalau gaji dan fasilitasnya bukan dari uang hutang” …

“Jadi masih pahit dong nasib kita ?!”

“Baru nyadar ?! … Gotong royong ?! Mimpi Kaleee … ! Kata Encang gue enggak bakalan pernah kompak, kalau yang satu perutnya buncit busung lapar, yang satu buncit kekenyangan; kalau yang satu harus jual diri untuk makan, yang satu saking tajirnya bisa beli tetangganya”

“Terus gimana dong kita ?!”

“Gampang … kalo cuman mau ngerasain manis mah : Makan aja Gula !”

— Terganggu, dongkol, tapi juga ada unsur setuju, atas celetukan sekenanya dari makhluk kamar sebelah. Dan karena sudah kehilangan konsentrasi, sambil menikmati sisa kopi manis rasa gula impor, ku akhiri saja tulisan ini.

Merdeka !

Bandar Lampung, 15 Februari 2010.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Reportase Festival Reyog Nasional XXI Hari …

Nanang Diyanto | | 21 October 2014 | 17:45

Rodhi, Pelukis Tunadaksa Ibu Negara, Titisan …

Maulana Ahmad Nuren... | | 21 October 2014 | 17:36

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Kok, Jokowi Lari di Panggung? …

Gatot Swandito | | 21 October 2014 | 10:26

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 9 jam lalu

Makna Potongan Tumpeng Presiden Jokowi bagi …

Kanis Wk | 9 jam lalu

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Mengenal Festival Ancak dari Desa Jeladri, …

Cak Uloemz | 7 jam lalu

Liga Tarkam, Rusuh Kok Budaya? …

Aprillia Lita | 7 jam lalu

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Sri Mulyani Jadi Mentri Jokowi dapat …

Alfons Meliala | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: