Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Honny

seperti air mengalir dan angin bertiup......

Dunia Esek-esek di Shenzhen China

HL | 16 February 2010 | 13:15 Dibaca: 2774   Komentar: 22   0

Tanpa terasa kereta yang melaju dengan kecepatan 200 km/jam dari kota Guangzhou-China, telah tiba di stasiun kota Shenzhen. Waktu tempuh tidak lebih dari lima puluh tujuh menit. Saat itu  Jam menunjukan sekitar pukul sebelas siang waktu setempat. Perjalan terasa singkat apalagi ditemani seorang anak kecil bersama ibunya. Anak lucu yang terus bernyanyi dengan bahasa yang saya kurang tahu artinya.

Sebelum menuju area pertokoan yang bertebaran di sekitar stasiun untuk sekadar membeli oleh-oleh, dari ketinggian saya menikmati plasanya yang luas dan asri dengan latar belakang gedung-gedung pencakar langit.

Plasa di Stasiun Shenzhen- China

Plasa di Stasiun Shenzhen- China

Yang akan dibeli belum ketemu, selagi masih ada waktu saya melanjutkan pencarian kearah seberang jalan menjauhi stasiun. Berjalan dengan santai menuju bangunan-bangunan tinggi yang tadi terlihat dari plasa  stasiun. Sebelum sampai tujuan, mata  tertuju pada blok bangunan semacam  kompleks ruko di Jakarta. Walaupun tidak berada di tepi jalan utama tapi mudah ditemui, karena memiliki dinding mozaik warna khas merah muda.Ternyata itu adalah bangunan-bangunan flat yang dibangun khusus untuk kegiatan esek-esek alias seks komersial.  Perkiraan tidak kurang dari seratusan blok yang ada di sana serta dikelilingi pagar beton setinggi dua meter. Lantai dasar dipergunakan untuk restoran, salon, toko atau tempat mejeng. Walaupun tidak sempat masuk kedalam bangunan, dari out door ac yang bergantungan tahulah bahwa itu adalah kamar tidur. Sadar sekarang sudah berada di suatu daerah lokalisasi legal di China. Rasa ingin tahu membuat saya memberanikan diri masuk lebih jauh kedalam komplek.  Dalam pikiran  walaupun seorang diri, hari masih siang tentu keamanan lebih terjamin. Apalagi tampang memang sudah mirip mereka yang datang berkunjung ke sana. Sewaktu memasuki kawasan merah ini, di salah satu flat saya sudah disambut oleh wanita gemuk usia empat puluhan. Dengan bahasa setempat menawarkan seorang bocah ingusan -semacam abg- yang katanya “main”nya asyik, saya hanya tersenyum sambil terus berjalan. Berkeliling sepanjang lorong kompleks ada sensasi dan memicu adrenalin. Celotehan dan tawa serta ajakan bermain cinta mengiringi setiap langkah kaki melewati pintu flat mereka, sepertinya mampu menggoyahkan iman. Mungkin usia yang sudah tidak muda lagi inilah yang menghindari  saya dari rasa ingin “mencoba” sesuatu di negeri yang pernah dijuluki negeri tirai bambu. Saya hanya berani mengambi satu gambar, itu pun secara sembunyi-sembunyi takut  kalau ada yang menegur. Ini gambarnya, saya berbagi dengan anda Kompasianer.

Lokalisasi Resmi di Shenzhen-China

Lokalisasi Resmi di Shenzhen-China

Berada atau lebih tepatnya tersesat di sana begitu menakutkan, walaupun tidak lebih dari setengah jam. Setelah meninggalkan kompleks tadi tiba-tiba teringat lagu yang pernah begitu popular “……..kau luputkan aku dari dosa ku…..”  lagu Lilin-lilin kecil ciptaan James F Sundah, dinyanyikan oleh almarhum Chrisye. Untung masih ingat umur, kalau gak ???

Salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gandari: Menyibak Karakter dan Sikap …

Olive Bendon | | 18 December 2014 | 17:44

Meteorisme, Penyakit Hitler yang …

Gustaaf Kusno | | 18 December 2014 | 12:20

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

KOMiK Nobar Film Silat Pendekar Tongkat Emas …

Komik Community | | 17 December 2014 | 11:56



Subscribe and Follow Kompasiana: