Kompasiana
Rabu, 08 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Ngurah Beni Setiawan

Antara Ini dan Itu. Tulisan ini hanya kegiatan paruh waktu yang coba ditekuni. Sebagai media tempat curahan pemikiran dan opini pribadi. Mencoba melihat sesuatu dari sisi yang ringan, melihat fenomena dan mengaitkan apa yang terjadi di Bhuana Alit (diri manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta). Belajar apa yang diperlihatkan alam pada kita. Berperilaku seperti apa yang diharapkan alam.

Antara I Made Wahyubhumi S.S.W dan Air

OPINI | 12 February 2010 | 22:07 69 18 5 dari 5 Kompasianer menilai Inspiratif

Google

Sumber gambar: Google

Salam sejahtera kawan! Mari kita nikmati indahnya hidup ini dengan selalu tersenyum. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Itu bukan kata-kata saya, melainkan kata-kata yang kerap diucapkan salah seorang kawan. Kesehariannya tak pernah lepas dari rasa riang dan gembira. Selalu saja ada kisah-kisah ringan yang disampaikan dan mengundang gelak tawa ringan. Paling tidak, setiap kisah yang disampaikan selalu berujung pada makna hidup ini. Kebiasaannya mengamati setiap hal yang terjadi pada alam membuat ia tampak begitu menikmati hidup ini, ia belajar dari apapun yang ia amati.

Suatu kali, pernah ia berkelakar tentang nama depannya. Made. Ia bangga karena, menurut kelakarnya, nama depannya sama dengan nama salah satu orang yang paling kaya di Bali. Usahanya dimana-mana, terutama di daerah Ubud. Namanya dipajang hampir disepanjang jalan daerah penghasil perak dan kerajinan pahat ini. Penghasilannya per bulan ditengarai mencapai angka milyaran rupiah. Namanya Made To Order. Dasar wong ndableg!

Saya pikir awalnya ia serius. Namun jika mulai berceloteh tentang nama lengkap dirinya sendiri, kawan saya ini memang serius. Tertulis jelas di KTP nya, yang mudah-mudahan bukan KTP tembakan, Ia bernama I Made Wahyubhumi Swaguna Satyawacika Wirabhakti. Wuih!

Saya terkaget-kaget ketika mendengar nama ini. Saya mulai membayangkan bagaimana kerasnya gelegar halilintar saat Made ini lahir ke dunia. Jedeeerrr! Itu sebabnya pada judul catatan hari ini, namanya (terpaksa) saya singkat menjadi I Made Wahyubhumi S.S.W karena saking panjangnya dan juga untuk mengecoh anda semua yang mungkin berpikir itu adalah gelar akademis. S.S.W.

Wahyubhumi Swaguna Satyawacika Wirabhakti. Gampangnya, sosok yang diwahyukan ke alam ini untuk menjadi berguna bagi tempat tempat ia berdiri dengan selalu setia pada apa yang terucap dan berbakti bak prajurit yang selalu membela tanah airnya. Begitu ucapnya saat menjelaskan makna nama panjangnya itu. Saking hebatnya, maka bisa saja namanya saya singkat menjadi I Made Superman! Hehe

Antara I Made Wahyubhumi S.S.W. dan Air

Tapi ada satu hal yang menarik dari pribadi seorang Made. Ia selalu mengibaratkan dirinya seperti air. Entah kenapa ia begitu mendambakan dan begitu menghormati air. Menurutnya, air adalah segalanya. Lebih dari 70 persen tubuh manusia adalah air dan hal yang sama juga terdapat di bumi. Manusia bisa bertahan hidup lebih lama meski hanya minum air tanpa makan. Beberapa orang menggunakan media air untuk pengobatan dan terapi serta media penenangan diri.

Baginya, air adalah sosok yang sangat bijaksana. Air selalu mencari tempat yang paling rendah dimanapun ia berada. Air tak pernah menolak meski ditempatkan di tempat paling kotor sekalipun. Air selalu bisa menyesuaikan bentuk dimanapun ia ditempatkan, daya adaptasi air begitu tinggi; Jika panas ia menguap, jika dingin ia berubah menjadi es dan dapat kembali menjadi embun. Air bisa menjadi sosok yang keras (padat, membeku) atau sosok yang cair dan mengalir.

Mungkin itulah sebabnya mengapa manusia begitu mudah mempermainkan keberadaan air. Terkadang tanpa ada sedikitpun rasa hormat dan bijak. Ia dilebih-lebihkan; tersisa lalu dibuang begitu saja. Ia diharapkan saat cuaca panas namun dihujat habis-habisan saat banjir datang. Ia dinikmati ketika dahaga namun dikambinghitamkan saat emosi mengguyur orang dengan air panas.

Namun air tak pernah membalas bukan? Ia datang sebagai banjir karena kita sukses membudidayakan sampah di lingkungan kita. Ia datang tak menentu karena ditengarai telah terjadi perubahan iklim yang sangat masif. Air pun tak pernah protes ketika disandingkan dengan tumpukan sampah di muara-muara. Sekali lagi, air tak pernah protes karena sifatnya yang mulia. Ia mengikuti apapun kemauan kita. Ia bersedia diperlakukan tanpa perike-fluida-an.

Malu. Harusnya kita malu dengan air seperti dikisahkan kawan I Made Wahyubhumi Swaguna Satyawacika Wirabhakti. Kali ini saya percaya ia serius. Tak perlu lagi menunggu esok, saat inipun saya akan lebihkan penghargaan saya terhadap air. Mudah-mudahan anda mau mengikuti niat saya untuk lebih menghargai air. Tak akan ada lagi banjir, masalah air bersih, panu-kadas-kurap, masalah air minum, ikan yang keracunan limbah, musim hujan yang tak menentu dan begitu banyak hal lain yang terjadi akibat dis-respect kita terhadap air. Mari hemat air dan jaga air kita!

Selain itu, harusnya kita bisa banyak belajar dari sifat air ini. Mengalir apa adanya, tak dilebihkan dan tak dikurang-kurangi. Bisa menempatkan diri dimanapun kita berada. Bersikap sesuai dengan apa yang dikehendaki alam dan lingkungan. Iksha-Sakti-Desa-Kala-Tattwa, begitu ujar Made mempertegas. Persis seperti salah satu filosofi seorang Bali. Luar biasa!

Saya hanya mengangguk sambil berkata bahwa julukan I Made Superman sepertinya kurang pas saya jadikan panggilan akrab untuk si Made. karena Superman pun masih butuh air. Superman (mungkin) juga tak lebih hebat dari air. Makna nama panjang si Made ini mungkin cukup tepat untuk menggambarkan peranan air bagi manusia.

Nah, untuk menghemat air, mudah-mudahan si Made Wahyubhumi Swaguna Satyawacika Wirabhakti bisa juga mengikuti jejak saya sejak kecil untuk mandi kurang dari 5 menit. Bablass!


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012