Siapa sih yang tidak ingin mempunyai pekerjaan bagus, tempat enak, ber-ac, gaji besar, bergengsi, terpandang, terhormat, dan sebagainya yang serba enak. Cuma orang ‘edan’ saja yang tidak mau. Tapi itu adalah tempat dan kedudukan bagi orang pinter, pasti. Pinter yang saya maksud adalah pinter beneran. Bukan pinter, minter-minterin, kata orang Betawi, yang suka ngakalin dan menipu.
Kita tahu bahwa para pejuang kemerdekaan RI adalah orang-orang pinter. Mereka paling tidak mengetahui dan ngerti bahasa asing, bahkan banyak yang lebih dari satu bahasa asing. ketika menjadi pejabat nasional, juga membanggakan ‘manusia’ Indonesia di forum internasional. Nama Indonesia harum dan sering didengar dunia. Perjuangan dan keberpihakan Indonesia di dunia ketiga sangat menonjol, bahkan menjadi kampium dan pemimpin bangsa-bangsa tertindas saat itu. Siapa yang berani melawan ‘nekolim’ bahkan dengan lantang dan gagah menyatakan keluar dari PBB saat ini. Hanya pemimpin bernyali besar saja yang berani. Tapi Indonesia dengan Presiden Bung Karno membuktikannya. Konferensi Asia-Afrika di Bandung menjadi pertaruhan ‘gengsi’ bangsa Indonesia di forum dunia yang gaungnya terdengar nyaring hingga di ujung Namibia di Afrika sana.
Ketika Indonesia berada pada sebuah orde yang lain, ceritanya menjadi beda. Para menteri pada orde tersebut semuanya orang pinter yang bergelar Prof. Dr. berdere-deret dan bererooooddd, yang dikenal dengan kaum teknokrat, walau kemudian dikenal juga dengan skandal intelektual dibalik program mereka. Tapi karena pemimpin tertinggi, yang dengan dalih memperjuangkan nasionalisme mempertahankan Indonesia hanya dengan bahasa Indonesia di berbagai forum. Hal itu boleh-boleh saja. Tapi bahwa bahasa asing itu penting diajarkan sejak dini di sekolah negeri juga suatu kewajiban pemerintah bila bangsa ini ingin maju dan bersaing dengan bagsa-bangsa lain di forum internasional. Anehnya bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris cuma diserap dengan diindonesiakan. Jadilah akhiran ‘tion’ dalam bahasa Inggris menjadi ’si’. Information menjadi informasi, industrialisation menjadi industrialisasi, dst. Untungnya pas giliran ‘nation’ gak ditransliteralisasi menjadi ‘nasi’, berabe mengkontekstualisasinya….tuh kan buktinya…..banyak pakai ’si’-nya.
Generasi yang hidup di zaman itu, intinya sih saya ingin katakan gak bisa berbahasa asing, apalagi lebih dari satu bahasa. Kalau ada yang pinter dan pandai bahsa asing, pasti karena kursus atau sekolah di luar negeri. Kalau sekolah di SDN, SMP dan SMA, doang…gak kursus di luar sekolah, barangkali sedikit saja yang pinter bahasa tersebut. Tapi di negara-negara lain yang menggunakan multi bahasa tidak menjadi kehilangan nasionalisme dan persatuan mereka. Misalnya, di Hong Kong sendiri, mereka berbahasa Kanton juga berbahasa Inggris sejak dari TK hingga perguruan tinggi. tapi identitas nasionalisme mereka tidak hilang. Bangsa India, Pakistan, Bangladesh mereka berbahasa nasional dan berbahasa Inggris juga tidak kehilangan identitas nasionalnya. dst dengan negara-negara lain.
Kami yang hidup di zaman orde tersebut, boleh dibilang ‘generasi yang hilang’ merasakan saat ini betapa beratnya bersaing dengan kompetitor bangsa-bangsa lain yang cuma bisa bahasa Inggris doang tapi cukup terasa perbedaan perlakuan dan fasilitas. Misalnya dengan Filipina dalam profesi yang sama, perlakuannya beda banget karena kemampuan bahasa asing yang mereka kuasai, karena negeranya mengembangkan soal bahasa tersebut, walau hanya bahasa Inggris doang. Toh juga Filipina tidak kehilangan jati diri kebangsaannya. Lihat para perawat Filipina yang posisi tawar mereka lebih tinggi dari para perawat Indonesia karena tidak mampu berbahasa Inggris.
ketidakmampuan negara memberikan pendidikan bahasa asing - satu saja yang saya contohkan, belum lagi pendidikan yang lain saya kira banyak sekali kekuarangannya bila diurai - telah menjadikan generasi kami sebagai korban. Kebodohan dengan lingkaran setannya, kemiskinan, kebodohan, dan kemiskinan lagi yang melingkar-lingkar bagaikan benang kusut yang sulit diurai telah menjadikan kami -dan negara kami - sebagai negara produsen TKW/TKI. Kami adalah korban sebuah orde, kami protes….semoga orde anak-anak dan cucu kami tidak semenderita generasi kami….tapi kanyataannya gimana……???? Wallahua’lam
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
