ilustrasi, malaysia yang jalannya mulus dan sawitnya yang luas perlu tenaga kerja, banyak yang nekat datang ke sini tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kemudian
Tadi pagi di tempat pelayanan KBRI Kuala Lumpur saya berjumpa dengan seorang wanita muda memakai baju melayu khas perempuan Malaysia, yang sedang mengurus surat ijin pulang ke Indonesia, wajahnya mirip sekali dengan Mariska Lubis. Karena penasaran, jangan, jangan, jangan, …….ada pertaliannya ( maaf mbak ML , bener ) saya tanya, mbak dari mana?.
Saya asalnya dari Gresik, Jawa Timur pak, jawabnya.
Karena kulitnya putih, matanya sipit, kok ngaku orang jawa. Saya tanya lagi , mbak orang apa?, walaupun dia tadi sudah mengatakan kalau dia dari Jawa Timur.
Saya orang Jawa pak katanya, sambil menggendong anaknya, Muhammad Niki, umur 1 atahu 3 bulan.
Lho kok wajahnya Cina?……….hehe, jawabnya. Benar pak, ibu saya Jawa tetapi bapak saya Cina, dagang di Genteng Surabaya.
Asri, demikian dia menyebut namanya, menyatakan bagaimana dia sampai ke Malaysia, karena ada orang Malaysia bersama orang Medan yang cari perempuan perempuan Indonesia untuk bekerja di Malaysia dengan gaji besar, sampai kepelosok pelosok Jawa Timur.
Karena saya memang bandel juga, dia menambahkan , sekolah cuma kelas satu SMA tidak meneruskan sekolah lagi, bosan dengan Surabaya, ingin juga bekerja di luar negeri, apalagi gaji yang ditawarkan cukup besar katanya lugu.
Waktu di Surabaya saya hanya bantu bantu bapak saya jualan di pasar Genteng, lama lama bosan juga, Suatu hari, ketemu dengan orang Medan dan Malaysia yang menawarkan bekerja di Malaysia.
Orang Malaysia dan Medan tadi menawarkan masuk Malaysia melalui Dumai dengan menggunakan kapal laut.
Untuk samapi di Medan kami melalui jalan darat dengan kendaraan bus, setiap orang membayar ongkos Bus ALS sebesar Rp. 480.000 ( empat ratus delapan pulh ribu rupiah ). Sesampainya di Medan kami masuk karantina sebentar tidak lama, hanya untuk mengurus paspor dan perjalanan, satu minggulah tambahnya.
Kami yang akan ke Malaysia ditawari untuk mendapatkan visa kunjungan 1 bulan bayarannya Rp.1.800.000 ( satu juta delapan ratsu ribu rupiah ) dan kalau mau visa untuk 3 bulan bayarnya 5.000.000 ( liam juta ) jelasnya.
O, begitu, baru tahu…..
Saya , karena hanya punya uang sedikit, minta visa yang satu bulan saja kata Asri.
Setelah paspor selesai, kami dibawa ke Malaysia melalu Pelabuhan Dumai menuju Pelabuhan Kelang.
Sesampainya di Pelabuhan Kelang, kami lNGSUNG disalurkan untuk kerja di warung warung makan.
Lah, saya bilang, kalau cuma warung makan kenapa enggak kerja di Surabaya saja?. Males pak, bosan katanya.
Selesai kerja satu bulan, saya sudah status kosong, sudah tidak punya ijin tinggal, saya takut sekali pak. Ada yang menawarkan kalau mau pulang cara gelap bayarnya 1500 ringgit ( kurang lebih 5 juta ). Saya tidak punya uang, gaji cuma 600 ringgit sebulan katanya, yang sebagian saya kirimkan ke ibu di Surabaya.
Setelah enam bukan kerja, saya bertemu dengan Mas Yono, dia ternyata orang Surabaya juga, yang kerja di Kilang ( pabrik ).
Orang orang bilang daripada ditangkap Polisi Malaysia kawin saja, supaya bisa ngumpet…hehe.
Kalau swami saya ada ijinnya pak. Rencananya nanti Gong Xie Pa Choi , swami libur dua minggu.
Lho swamimu Cina juga ta?. Bukan orang Jawa asli, cuma taokenya orang Cina , jadi libur dua minggu.
Dulu kawinnya bagaimana? ada surat kawinnya?
Tidak ada , cuma dikawinkan penghulu saja. Saya kawin enam bulan setelah di Malaysia dan begitu hamil, saya berhenti kerja di warung, takut ketangkap Polisi, jadi diam dirumah saja, selama ini.
Ini tadi keluar rumah kesini juga nekat, untuk minta ijin mendapatkan SPLP ( Surat Perjalanan Laksana Paspor ) supaya bisa pulang bersama swami dan anak saya ini jelasnya, sambil cengegesan, tampak masih ada rasa takut tertangkap Polisi.
Asri, tadi tampaknya masih perlu waktu untuk mengurus surat yang yang perlukan, karena yang mengurus SPLP pergi gadis pulang bawa anak ternayata cukup banyak. Itu baru satu hari.
Asri, hati hatinya, jangan sampai ketangkap Polisi.
Ya pak, doakan bisa cepat pualang ya, pintanya.
Ok, baik baik ya.
Itu kisah nyata, benerapa anak gadis kita , gasis Indonesia yang pergi merantau, tidak terpikir sama sekali mungkin waktu pergi dulu mau bawa anak pulang, masih untung bisa bawa gaji dan swami yang ketemu di tempat kerja, masih banyak yang pulang berdua dengan anak saja.
Mungkin kisah Asri, ada maanfaatnya untuk kita semua.
Salam dari Kuala Lumpur
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
