Setelah beberapa waktu lalu saya sempat mengulas tentang Kebudayaan dan Tenaga Kerja Indonesia yang ada di Malaysia, saat ini saya hendak mengulas tentang Diplomasi Masakan yang juga sempat marak diperbicangkan ketika gonjang ganjing Malaysia mengklaim apa-apa yang ada di Indonesia. Bahkan sempat beredar daftar masakan Indonesia yang diklaim Malaysia.
Dari buku yang saya baca (Maumu Apa, Malaysia?) disitu diulas mengenai berbagai macam makanan yang ada di Indonesia juga beredar di Malaysia seperti Mie Jawa, Tumis ala Indonesia sampai Rendang Pandang. Lagipula mengapa makanan Indonesia juga bisa ada di sana karena dibawa dari orang Indonesia yang bekerja disana dan juga akibat dari migrasinya beberapa suku di wilayah Indonesia karena perjanjian London tahun 1824 yang pastinya membawa kebudayaan dan kebiasaan kuliner dari masing-masing daerah.
Sebenarnya kita mesti berbangga karena masakan Indonesia bisa dilestarikan bahkan sampai di negeri tetangga. Tidak hanya di negeri tetangga bahkan di negara-negara lain pun dimana ada orang Indonesianya biasanya ada kedai-kedai yang menjual masakan Indonesia hanya untuk sekedar mengobati rindu lidah para perantau yang tinggal di sana dan mungkin karena jumlahnya yang tidak terlalu banyak seperti yang beredar di Malaysia membuat hal itu tidak bermasalah. Tetapi apa yang beredar di Malaysia dijadikan masalah, karena penduduk Malaysia yang keturunan Indonesia merasa itu dari negerinya juga.
Tetapi saat ini, semua masalah yang berhubungan dengan Malaysia sudah tidak terdengar lagi. Saling meng-klaim atas kebudayaan dan kuliner Indonesia sudah kembali sunyi senyap. Masyarakat Indonesia yang sepertinya mudah menjadi panas, padahal kenalilah dulu kenapa sih hal ini bisa terjadi? Kenapa Malaysia bisa meng-klaim seperti itu? Apa yang mendasari semua ini? Karena itu saya sangat menganjurkan pembaca untuk membaca buku MAUMU APA, MALAYSIA? supaya menjadi sedikit terbuka jangan hanya gampang emosi. Emosi adalah reaksi wajar disaat kita mendengar apa yang berasal dari Indonesia di klaim negara lain, tapi harusnya kembali introspeksi diri apakah sebagai masyarakat Indonesia kita sudah benar-benar melestarikan budaya, kuliner yang asli dari Indonesia? Apakah generasi muda sekarang berminat untuk memainkan gamelan atau tertarik untuk menyanyi karawitan atau nyinden ? Malahan orang-orang asing yang tertarik untuk belajar tarian daerah, alat musik daerah dan kebudayaan Indonesia lainnya.
Marilah sama-sama kita menimbulkan sadar budaya dan kuliner Indonesia, sehingga sampai generasi mendatang pun tahu ini loh macam-macam kebudayaan dan kuliner yang dimiliki Indonesia dari sabang sampai merauke.
Bulan Februari adalah bulan cinta dan kasih sayang. Begitu kurang lebih yang dirayakan banyak orang,
