Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Amalludin

Saya Ketua RT sejak usia 24 tahun s.d. sekarang,membawahi +-400 jiwa,pendidikan ,bekerja,keahlian organisasi,HUMOR,menolong janda muda.. email selengkapnya

Ngasih Duit ke Pengemis Dilarang?

OPINI | 21 January 2010 | 02:57 Dibaca: 198   Komentar: 2   0

Katanya orang miskin berkurang,tapi;kenapa Pengemis masih banyak dijalan,kenapa gelandangan masih banyak dijalan,Kata Undang-Undang Dasar 45,”setiap warga negara

Pasal 34

(1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. ****)

(2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. ****)

(3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. ****)

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. ****)

Ini terjadi di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Bogor mengimbau warga kota tidak memberikan sedekah kepada gelandangan dan pengemis (gepeng) serta anak jalanan (anjal). “Asal warga tidak memberi saja kepada pengemis dan anak-anak jalanan ini, maka mereka mungkin tidak akan mau turun ke jalan lagi,” katanya.

Hemi mengatakan, anjal dan gepeng di Kota Bogor merupakan masalah sosial yang tidak serta merta dapat diselesaikan satu pihak. “Perlu ada kerja sama antar instansi terkait termasuk juga masyarakat. Kita sudah melakukan tugas dengan menertibkan dan membina mereka, Satpol PP juga sudah ikut mengamankan. Tapi memang dasar hati mereka yang senang turun ke jalan karena mendapat perlakuan yang baik dari masyarakat,” katanya.

Menurut dia, upaya lain untuk mengentaskan persoalan sosial ini adalah dengan diberlakukannya Perda Nomor 8 Tahun 2006 tentang Ketertiban Sosial. Kondisi saat ini, keberadaan anjal dan gepeng mulai meresahkan masyarakat karena jumlahnya yang semakin banyak.

Kenapa meresahkan,kenapa Negara tidak menjamin sesuai Pasal tersebut diatas?

Bookmark and Share

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 10 jam lalu

Risma dan Emil Lebih Amanah Dibanding …

Leviana | 10 jam lalu

Analisis Prosedur Sengketa Hasil Pilpres …

Muhammad Ali Husein | 11 jam lalu

Jokowi: The First Heavy Metal’s …

Severus Trianto | 13 jam lalu

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: