Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Jackson Kumaat

"Politisi muda yang selalu berharap adanya perbaikan hidup bangsa dan negara yang lebih baik dan benar melalui tulisan-tulisan, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang disegani dan negara yang dihormati"

Lawan Korupsi dengan Hidup Sederhana

OPINI | 16 January 2010 | 09:00 197 7 2 dari 3 Kompasianer menilai Bermanfaat

Unjuk rasa di kantor KPK

PENANGANAN tindak pidana korupsi, kini menjadi perbincangan di masyarakat, terlebih pasca-kasus yang terjadi pada mantan Ketua KPK Antashari Azhar. Sebagian kalangan berpendapat, penanganan kasus korupsi sebenarnya cukup diserahkan kepada aparat berwenang. Tapi bagi saya, tindakan itu harus didukung oleh pimpinan di instansi pemerintah.

Penanganan korupsi bukan dilakukan dari kasus per kasus, tapi juga harus membenahi birokrasi yang menjadi sumber korupsi. Saya prihatin, karena selama ini, penanganan korupsi yang dilakukan hanya jalan di tempat, atau masih sebatas kebijakan dari dari aparat polisi, jaksa dan KPK.

Kunci dari penanganan korupsi adalah mencegah niat korupsi setiap aparatur pemerintah. Jika niat sudah tidak ada, maka tidak ada rencana untuk korupsi dan kolusi. Kini isu nepotisme seperti ditelan bumi, karena kalah populer dibandingkan korupsi dan kolusi.

Tampaknya, aparatur pemerintah di masa mendatang harus di-up grade, khususnya dalam interaksi sosial di kantor dan di rumah. Selama ini sudah terbukti, bahwa koruptor yang tertangkap dan dipenjara memiliki kebiasaan hidup konsumtif, jika dibandingkan orang yang tidak korup.

Nah, prilaku hidup konsumtif ini yang harus dicegah. Dan untuk mencegahnya, maka dibutuhkan nilai-nilai luhur yang ada pada the founding fathers (para pendiri bangsa). Untuk level nasional, saya kagum pada nilai-nilai yang ditanamkan oleh cendiawan muslim almarhum Nucholish Madjid.

Sebagai orang kelahiran Sulawesi Utara, saya salut atas perjuangan hidup pahlawan nasional Dr Sam Ratulangi dan Walanda Maramis. Mereka memiliki kharisma di manapun, termasuk di dalam keluarga. Cara pandang dan prilaku hidup sederhana yang diterapkan oleh mereka, mampu mencegah niat untuk tidak korup.

Saya tetap optimis, ‘up-grade’ nilai-nilai luhur pendahulu kita tentulah berguna bagi kemajuan bangsa dan negara. Ibarat komputer, setiap individu perlu diberi pemahaman lebih dalam, khususnya bagaimana dapat hidup sederhana di tengah godaan materialisme. Sikap kesederhanaan hidup inilah, yang sangat bermanfaat bagi perkembangan generasi muda di masa mendatang.

Salam Kompasiana !


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012