Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Fahruddin Fitriya

Kita akan belajar lebih banyak mengenai sebuah jalan dengan menempuhnya, daripada dengan mempelajari semua peta selengkapnya

Buatmu, Kawan-Kawan Aktivis Mahasiswa “Pergerakan”

OPINI | 16 January 2010 | 16:59 Dibaca: 2291   Komentar: 0   2

“Lawan globalisasi!! – Tolak militerisme!! – Hukum Mati para koruptor!! – Waspadai serangan pop kultur!! Lawan kapitalisme!! serta berderet-deret tanda seru lainnya” Semboyan, simbol, provokasi, ajakan, atau..?!/

Sekelompok manusia yang menamakan dirinya sebagai aktivis kampus, pejuang atau pembaharu dengan bangganya menggembar-gemborkan kata dan kalimat-kalimat diatas baik itu lewat senandung orasi, poster dan pamplet, maupun yel-yel yang mengiringi demonstrasi mereka.

Mahasiswa sebagai oposisi yang selalu mengambil garis tegas terhadap kekuasaan pemerintah yang sewenang-wenang terhadap rakyat, membuktikan salah satu eksistensinya melalui pergerakan yang vertical, dengan semangat yang menggebu-gebu… menyuarakan aspirasi rakyat, menggoyang semua sistem yang kaku para penguasa lewat demonstrasinya.

Demonstrasi, kita singkat dengan kata demo, adalah alternatif dari sebuah pergerakan mahasiswa, ada yang turun kejalanan, kekantor-kantor pemerintah dan adapula yang melakukan ajakan dan penyadaran-penyadaran intelektual langsung kepada mahasiswa lainnya atau kawan-kawannya di kampus.

Demonstrasi pula yang mengantarkan mahasiswa tercatat dalam sejarah sebagai pelopor dari setiap moment yang di ikutinya, termasuk ketika kekuatan gabungan mahasiswa tahun 1998 yang berhasil menggulingkan kediktatoran rezim orde baru dibawah naungan saktinya Soeharto. Dan mahasiswa pula yang menjadi pelopor reformasi di tahun yang sama. Walaupun cukup disayangkan juga ketika alur reformasi itu sudah di buka dan dijalankan, seakan mahasiswa disini kehilangan jati diri dan tidak tahu harus melangkah kemana, sehingga pasca reformasi 1998 seakan menjadi era di mana mahasiswa terkesan diam, kehabisan isu, dan baru ketika ada kasus tindakan kekerasan aparat pada sejumlah mahasiswa UMI di makasar, seakan mahasiswa kembali mendapatkan angin segar pergerakannya, dan isu militerisme pun menjadi agenda dan bendera dari aksi mahasiswa selanjutnya dan hal itu berlanjut ke saat dimana Pemilu berlangsung, dengan tetap menempatkan jargon militerisme di dalamnya. Setelah semua isu itu sirna, mahasiswa kembali pada tidurnya diatas tuntutan dunia akademik yang disinyalir memang memaksa mahasiswa untuk tidak bebas bergerak. Tuntutan absen, tugas-tugas dosen dan ujian menjadi senjata ampuh yang perlahan mematikan kreasi mahasiswa di luar agenda studinya.

Selain itu, demonstrasi juga seperti yang sering di jadikan alasan oleh kawan-kawan pergerakan, bahwasanya demonstrasi dilakukan karena pemerintah atau orang-orang petinggi baik di kampus maupun pejabat diluar tidak bisa diajak diskusi secara fair, mereka hanya bisa kasih janji tanpa adanya tindakan kongkret yang dijalankan, dan oleh karena itu para aktivis pergerakan memilih jalur demonstrasi untuk menyampaikan aspirasinya, aspirasi rakyat tentunya.

Apa yang perlu di pertanyakan dari eksistensi mereka?

Ketika kawan-kawan aktivis mengangkat satu isu pergerakannya, pastinya mereka juga telah jauh menelusuri makna dan tindak lanjut dari hal yang mereka perjuangkan tersebut. Dan sepatutnya juga dapat merealisasikannya di masyarakat tempat mereka tinggal, utamanya adalah masyarakat kampus. Dan semua ajakan dan arahan yang mereka senandungkan, sudah selayaknya pula dimulai jauh sebelum isu itu terjadi, minimal dimulai dari diri pribadi kawan aktivis sendiri..

Yang menjadi realita dan selalu ganjil untuk di amati dari pergerakan aktivis kita, adalah masalah ke konsistenan ruang dan waktu, dimana ketika mereka misalnya mengemborkan masalah militerisme, kapitalisme dan pop kultur, kenyataannya pada saat itu pula pengaruh dan produk militerisme, kapitalis dan pop cultur itu sendiri tanpa disadari atau tidak telah melekat pada diri mereka sendiri.

Kita tentunya dapat lihat dari cara dan semua artribut maupun pakaian yang sering dikenakan oleh para aktivis ketika melakukan aksinya maupun kesehariannya dikampus, berbagai merek dan pola hidup kapitalis adalah kenyataan yang ada pada kehidupan para aktivis kita.

Militer, lihat beberapa kasus yang dilakukan para aktivis ketika menggelar aksinya! Apakah berbagai bentuk bentrokan dan adu otot dengan aparat dan masyarakat adalah bukan tindakan militerisme? Jadi apa sich militerisme itu??/..

Korupsi? Uniko (usaha nipu kolot), pinjem tugas, bolos kuliah demi suatu aksi, titip absen, apakah itu juga tidak termasuk ke dalam kategori korupsi??

Jadi harus bagaimana sih, aktivis itu? Aktivis juga kan manusia?!

Manusia yang bijak adalah manusia yang tidak melupakan hal-hal terkecil dalam hidupnya… (pepatah kuno)

Tanpa maksud menggurui, dan tanpa mengesampingkan isu diluar, memang sudah sepantasnya kawan-kawan aktivis baik pergerakan maupun non pergerakan kita, lebih dulu mengutamakan masalah-masalah di lingkungan terdekatnya dulu, sebelum melangkah jauh ke isu luar yang lebih besar. Misalnya, masalah kecacatan akademik dan sistem pendidikan di kampus… Penyalahgunaan wewenang birokrat, penderitaan mahasiswa miskin di kampus.. dan masih banyak lagi hal-hal yang sudah sepatutnya diperjuangkan sampai tuntas di kampus sendiri… Baru ketika kampus mereka sudah mapan.. atau katakanlah ideal, barulah saatnya bagi para aktivis untuk menyikapi fenomena luar yang lebih luas, dimana hal itu pun harus dengan jaminan bahwa para aktivisnya adalah orang-orang yang benar-benar bisa bertanggung jawab, minimal terhadap dirinya sendiri, yang menjadi salah satu barometer atau contoh ideal bagi kawan-kawan mahasiswa lainnya yang masih tertidur…

Dan menurut catatan, di dalam satu kampus rata-rata di Semarang saja dapat diperkirakan jumlah aktivis yang ada rata-rata hanya 5-10 % nya saja dari keseluruhan mahasiswa yang ada, hal itu memang memberatkan bagi kawan aktivis yang ada, banyak hal terjadi dimana aksi mereka tidak mendapat dukungan dari kawan mahasiswa sekampusnya sendiri. Hal itu memang sangat ironis, tapi tidak akan menjadi beban ketika yang diperjuangkan adalah kepentingan bersama, dalam artian para kawan aktivis tersebut ikut memperjuangkan kepentingan mahasiswa lain yang terkesan apatis, yang notabene tidak berani untuk bicara dan bertindak walaupun pada dasarnya mereka juga merasakannya. Aksi untuk kepentingan bersama adalah langkah mulia dan pasti akan ada yang akan mendukung, walaupun kebanyakan hanya di dalam hati. Yang pasti posisi mahasiswa sebagai jangkar dan oposisi yang selalu mengambil garis tegas terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang terhadap rakyat, baik itu rakyat kampus maupun masyarakat luas pada umumnya senantiasa harus selalu di jaga.

Terakhir, Arah perjuangan adalah merajut masa depan yang lebih baik, dan takkan pernah ada progres tanpa perubahan pergerakkan yang massif.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: