Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Aha

menulis adalah berpikir.

Durian Borneo dan Laju Perusakan Hutan

OPINI | 14 January 2010 | 20:57 290 16 Nihil

Durian. buah yang sulit dibuka itu kini sedang banyak dijajakan. sedang musim rupanya. Di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, buah itu tak sulit ditemukan. Di pinggir-pinggir jalan, buah berkolesterol tinggi itu gampang kita dapatkan.

Di Kutai Kertanegara, saya baru pertama kali menyantap durian hutan yang belum saya temukan sebelumnya di pulau lain, minimal Jawa dan Sumatera. Wuih, durian hutan Kalimantan ini rasanya manis, teksturnya lembut, dan yummy..lezatnya melebihi durian-durian jenis lain, minimal yang pernah saya makan he he.

Penampang kulit buahnya tak terlalu berbeda dengan jenis durian budidaya. Bedanya, durian hutan Kalimantan ini umumnya memiliki ukuran kecil. Buah yang kulitnya tetap berwarna hijau walaupun sudah matang itu hanya memiliki palipung banyak tiga isi dalam setiap belahannya dengan isi yang kecil.

Namun, tetap rasanya yang paling saya ingat. Manis, lembut, dan membuat ketagihan. Sayang, durian hutan ini belum dibudidayakan. Buah yang saya santap di kantor pusrehut Universitas Mulawarman di Bukit Suharto itu baru akan dicoba dibudidayakan. Menurut informasi, jumlah pohon buah yang merupakan salah satu kesukaan orang utan itu (haha, jangankan orang utan, saya aja suka) hanya sekitar tiga pohon di Bukit Suharto.

Manisnya durian hutan yang baru saja saya cecap itu seolah menjadi ironi dari hutan itu sendiri di Kalimantan. Beberapa hari berkesempatan keliling Balikpapan-Samarinda-Kutai Kartanegara, saya temukan persoalan yang sama yakni terus berlanjutnya kerusakan hutan di sana.

Hutan-hutan yang berada dekat dengan jalan raya, bahkan beberapa kilometer dari jalan raya pun sudah sulit kita temui dalam keadaan rapat. Yang paling mudah kita temukan tinggal belukar dan pohon-pohon perdu.

Mengerikan. Ternyata, cerita kerusakan hutan di Kalimantan yang hanya saya dengar, tonton, atau baca itu memang benar, dan lebih parah dari yang saya bayangkan. Lalu di mana komitmen soal penyelamatan hutan itu?


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012