Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Andy Dharma

Andy Dharma lahir: 17-10-1973, saat ini tinggal di Batam, berprofesi sebagai ahli therapis, juga mengajar selengkapnya

Pring petuk asli vs kerajinan tangan

OPINI | 06 January 2010 | 17:12 Dibaca: 9713   Komentar: 17   4

Sewaktu di jogya saya pernah diajak teman untuk melihat suatu tempat pertemuan dalam rangka penjuaalan pring petuk atau bambu yang ketemu ruas yang saling berhadapan yang katanya banyak menpunyai khasiat untuk pengobatan maupun di simpan di tempat sarang burung walet agar burung walet mau masuk dan betah di gedung walet itu.

Teryata disana telah datang seorang pengusaha dari jakarta dan menbawa seorang pengacara dan tester yang teryata adalah teman yang mengajak saya untuk melihat acara tersebut. Perserta yang datang menbawa pring petuk cukup banyak sekitar 70 orang dan ada yang menbawa 3 sampai 5 pring petuk ,dengan harapan akan dibeli pengusaha itu minimal dari harga 100juta sampai 1milyar rupiah tergantung kualitas pring petuk tersebut.

Dan setelah mendata perserta dan pring petuknya mulailah acara pengujian keaslian pring petuk tersebut satu persatu ,dan temankupun mulai menujukan aksinya mengambil satu pring petuk tersebut dan ketika dipegang dan ia tarik ruas bambu yang saling bertemu itu dan teryata prak patah dan disambungan bambu tersebut ada paku untuk menyanbung bambu tersebut seakan itu bambu ketemu ruas teryata hasil kerajinan tangan, ada juga perserta yang protes dan mengatakan bahwa pring petuknya adalah warisan kakeknya turun temurun jadi tak munkin palsu ,tapi begitu dites teryata juga hasil kerajinan tangan saja dan lansung testernya bilang “teryata kamu di bohongin kakekmu” dan perserta lainpun tertawa ,dan iapun lansung pergi .

sebelumnya pengacara pengusaha itu sudah mengumunkan tak ada yang boleh menuntut apabila pring petuknya patah karena palsu atau malah akan di tuntut balik karena diangap coba menipu.

Dan setelah tes pertama dari seratusan pring petuk yang di coba teryata hanya 5 yang lulus tes ,dan lansung diadakan tes kedua yaitu dengan cara memasukan pring tersebut ke air yang sedang mendidih dan ketika di celupkan bambu itu anehnya ,tangan tester dimasukan kedalam air mendidih itu tak terasa panas sedikitpun.Tapi begitu pring petuk kerajinan tangan yang super halus dan lolos pada tes pertama ketika tangan mau dimasukan sudah terasa hawa panasnya ,dan ketika bambu itu dikeluarkan kemudian ditarik lagi ‘krak bambu itupun lepas dan teryata disambung dengan lem yang super kuat.

Dan akhirnya hanya 3 pring petuk yang asli dan lansung terjadi transaksi dan dibeli oleh pengusaha tersebut dengan harga sekitar 150juta sampai 450juta sesuai dengan kualitas pring petuk tersebut.

inilah pertama kali saya melihat cara tes pring petuk dan pertarungan antara pring petuk asli dari alam dan pring petuk hasil kerajinan tangan.

Jadi kalu anda suatu hari ditawari pring petuk waspadalah karena kebanyakan adalah pring petuk hasil kerajinan tangan saja.

salam damai dan waspadalah

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | | 26 November 2014 | 04:19

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | | 26 November 2014 | 04:19

Menuju Jakarta, Merayakan Pestanya …

Hendra Wardhana | | 26 November 2014 | 07:59

Minum Air Lemon di Pagi Hari dan Manfaatnya …

Gitanyali Ratitia | | 26 November 2014 | 01:38

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 8 jam lalu

5 Kenampakan Aneh Saat Jokowi Sudah …

Zai Lendra | 13 jam lalu

Timnas Indonesia Bahkan Tidak Lebih Baik …

Kevinalegion | 14 jam lalu

Suami Bergaji Besar, Masih Perlukah Istri …

Cucum Suminar | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kepercayaan Penuh Berbuah Revolusi …

Nursalam Sabir | 8 jam lalu

Media Cetak (Belum) Akan Mati …

Irwan Rinaldi | 8 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Datang ke Papua, Al Jazeera Ingin “Tebus …

Hamid Ramli | 8 jam lalu

(Peserta) #KPKGerebek (7) Jakarta Street …

Kpk Kompasiana | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: