Artikel

Sosbud

M Harun Alrasyid

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

saya adalah warga kebanyakan yang senang kalau bisa belajar dari orang-orang yang pandai dan senantiasa bijak dalam kehidupan. Karena itu saya bergabung dalam blog Kompasiana. Urbanis Bekasi yang berasal dari Bandung Asli Putra Sunda. Pekerjaan: UI maksudnya Udar Ider, sekali-kali nyambi jadi penyiar di Radio Dakta 107 FM, setiap jumat, sekedar menyalurkan hobi. Untuk menemui saya tidak lah terlalu sulit. Tinggal klik www.harunalrasyid.com

Gus, Selamat Jalan !


REP | 31 December 2009 | 07:38 Dibaca: 162   Komentar: 0   Nihil

KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur (www.detik.com)

KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur (www.detik.com)

Inna lillahi Wa Inna Lillahi Rojiun. Hari Rabu malam jam 9, salah satu stasiun televisi menyiarkan sebuah kabar yang sangat mengagetkan, Gus Dur meninggal dunia dalam usia 69 tahun. Saya baru tiba di rumah ketika berita tersebut ditayangkan. Seakan tidak percaya, saya coba chanel tv lainnya sambil berharap mudah-mudahan itu hanya lah gosip politik murahan (atau jangan-jangan fitnah, seperti akhir-akhir ini sering disampaikan oleh SBY dalam menghadapi berbagai isu yang menyerang dirinya). Dan, saya harus menerima kenyataan bahwa itu bukan berita bohong, karena semua stasiun TV mengabarkan berita yang sama.

Bangsa Indonesia telah kehilangan seorang tokoh yang akan selalu hidup dalam memori intelektual para pecintanya. Bahkan dunia international akan kehilangan seorang tokoh kontroversial sekaligus selalu ditunggu-tunggu pemikiran progresifnya. Begitulah Gus Dur, pada satu sisi ia akan tetap tetap eksis sebagai ”manusia tanpa rambu-rambu”; bebas, humoris, familiar, dekat dengan semua orang. Di sisi lain, ia akan dikenang sebagai pemimpin yang kelihatan kaku, tidak akomodatif bahkan terkesan arogan.

Terlepas dari itu semua, Gus Dur adalah tetap sebagai pribadi yang mudah untuk diajak bicara tanpa ada sekat-sekat yang menghambatnya. Ia sederhana dan merakyat. Bahkan saking merakyatnya, Istana Presiden yang tidak sembarangan menerima tamu dengan memberlakukan aturan protokoler yang ketat, di zaman Dus Dur menjadi istana rakyat yang bebas dimasuki dari berbagai arah. Rakyat yang bersandal capit dan bersarung diperlakukan sama dengan yang berdasi dan berjas rapi.

Bagi kalangan aktivis, Gus Dur adalah buku terbuka yang bisa dibaca semua orang. Jasad Gus Dur boleh saja hancur oleh tanah, tapi pemikirannya tentang negara dan agama serta kebebasan berdemokrasi akan selalu hidup. Walau pun banyak pihak mengakui tidak mudah memahami secara utuh pemikiranya, sehingga seringkali Gus Dur dicap sebagai tokoh kontroversial. Pemikirannya seringkali menuai kontroversi dan melawan maenstream.

Di balik pemikiran dan tindakannya yang dirasakan sulit ditebak dan diikuti, Gus Dur dikenal sebagai orang yang ringan. Gitu aja kok repot ! menjadi jadi ikon Gus Dur dan diikuti banyak orang sampai sekarang. Kalimat itu selalu keluar, ketika muncul polemik tentang berbagai kebijakan yang dibuatnya. Gus Dur selalu menganggap semua persoalan bangsa dengan enteng dan ini seringkali membuat lawan-lawan politiknya mati kutu. Mungkin sebagian dari kita ingat, ketika di akhir kekausaannya, dengan enteng dan tanpa sungkan-sungkan Gus Dur ke luar istana hanya memakai celana pendek melambaikan tangan kepada para pendukungnya. Itu lah Gus Dur. Gitu aja kok repot !

Di kalangan dunia international, Gus Dur dikenal sebagai manusia serba bisa. Orang-orang dekat Gus Dur sering menyaksikan bagaimana ia selalu berbicara dengan berbagai anak bangsa di dunia dengan bahasa serta dialek yang berbeda-beda secara bergurau. Orang yang menguasai bahasa orang lain sambil bergurau menunjukkan kemampuan dan kecerdasan Gus Dur yang sangat luar biasa.

Tentu saja kenangan terhadap pemikiran dan perilaku Gus Dur sangat banyak. Mungkin kalau dibuatkan buku, membutuhkan banyak penulis untuk merangkumnya. Namun ada kalimat yang tidak akan pernah saya lupakan dari Gus Dur, yaitu “Kalau anda Islam, jadilah Islam yang tanpa kearab-araban. Kalau anda Kristen, jadilah Kristen yang tanpa kebarat-baratan”.

Itu lah sekelumit ciri khas dan kenangan terhadap Gus Dur yang akan selalu bersemayam di hati  seluruh anak bangsa. Semoga Allah SWT menerima di sisinya.

Selamat Jalan Guru Bangsa

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: