Kompasiana
Jumat, 10 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Kusmayanto Kadiman

I listen, I learn and I change. Mendengar itu buat saya adalah langkah awal dalam proses belajar yang saya tindaklanjuti dengan upaya melakukan perubahan untuk menggapai cita. Bukan hanya indra pendengaran yang diperlukan untuk menjadi pendengar. Diperlukan indra penglihatan, gerak tubuh bersahabat dan raut muka serta senyum hangat. Gaul !

Bon Voyage Gus, We Love You Full !

HL | 31 December 2009 | 13:18 791 32 2 dari 2 Kompasianer menilai Menarik

Gusdur-Admin (KOMPAS/HERU SRI KUMORO)

Masyarakat menggelar doa untuk almarhum Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Bundaran Gladak, Solo, Jawa Tengah, Rabu (30/12/2009) malam.(Admin-Kompas.com)

Sesaat sesudah beredarnya berita wafatnya Gus Dur, seorang sahabat yang adalah politikus senior di Negeri Jiran mengirim pesan singkat.

“Salam Pak KK, sedih juga dengan pemergian Pak Gus Dur.  Apa benar dia pernah dibaptiskan sebagaimana tersiar di YouTube ‘Gus Dur dibaptis Paderi Kristian’? Tq, dari Pak X.”

Lama saya termenung memikirkan provokasi YouTube tersebut ditengah rasa duka dengan berpulangnya seorang tokoh reformasi yang juga Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid.

Terbersit kata-kata indah yang menjadi penutup film The Last Samurai yang diperankan oleh dua lakon utama: Pemimpin Samurai Katsumoto (diperankan Ken Watanabe)  dan Captain Nathan Algren (diperankan oleh Tom Cruise). Katsumoto yang berjuang bersama para samurai ditumpas oleh pemimpin tentara Jepang yang dengan persenjataan moderen melakukan tindakan brutal (brute force) dalam menumpas setiap perjuangan yang dipandang menentang Pemerintah dan Kaisar. Captain Algren yang diceritakan masuk dan berjuang bersama para samurai berhasil menghancurkan tentara Pemerintah dengan ongkos mahal yaitu tumpasnya para pejuang samurai. Saat diterima oleh Kaisar di Istana, dialog singkat antar Kaisar dengan Captain Algren yang masih saja teringat adalah:

Kaisar “Ceritakan, bagaimana kejadian terbunuhnya Sang Samurai?”

Captain Algren “ Maafkan saya Yang Mulia, saya tidak akan pernah menceritakan bagaimana terbunuhnya Sang Pemimpin, saya hanya akan menceritakan bagaimana nilai-nilai luhur dan kisah perjuangaannya”.

Jawaban pesan singkat kemudian terkirim via hape “Datuk X, bersegera kita lupakan kontroversi YouTube tersebut. Mari kita kenang Gus Dur sebagai tokoh besar yang dalam pemikiran dan kehidupannya penuh warna, ragam, kebersamaan, pencerahan, pembaharuan dan mengusung reformasi dengan gigih. Salam takzim. KK”.

Selamat jalan, Gus.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012