Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Hendri Mahdi

Pelaku Usaha Pengadaan Barang/Jasa BlogSaya:"www.duniakontraktor.com" Email:"hendri@duniakontraktor.com"

Kalla; Penemu Perdamain Aceh

OPINI | 26 December 2009 | 07:19 Dibaca: 246   Komentar: 19   1

Mungkinkah perdamaian di Aceh?

Banyak yg berkata TIDAK. Tapi buat dia, gak ada yg tdk mungkin selama dalam batas kemampuan manusia. Siapa dia?

Dia seorang saudagar, yang menjalankan politik selincah rumus dagang. “Negosiasi adalah soal penawaran”, kata Kalla, suatu hari saat dia mulai menggarap Aceh. “Kalau tak bisa dapat 1 dengan harga 10, anda bisa tawar dengan harga 15, tapi dapat 2”. Kalla, dalam banyak soal, adalah seorang pragmatis.

Dua bulan sebelum bencana tsunami Desember 2004, Kalla mengutus Hamid Awaluddin, orang kepercayaannya yang baru diangkat sebagai Menteri Hukum dan HAM utk membujuk para panglima GAM di lapangan. Katanya pada Hamid: “Jangan sampai pers tahu,”. Tapi usaha Menteri Hamid itu tak sepenuhnya berhasil.  Mereka gagal meyakinkan Muzakkir Manaf; “Urusan politik silakan langsung ke Swedia,” ujar Muzakkir.

Kemudian tsunami melanda Aceh, dorongan buat Kalla tambah kuat. Menurut Kalla, Keadaan yang tidak damai di Aceh, akan mengganggu pelaksanaan rehabilitasi Aceh paska Tsunami. Para pekerja kemanusiaan yang masuk ke Aceh bisa terancam hilang atau diculik, jika itu terjadi maka mereka  pasti akan pergi meninggalkan Aceh, sementara pemerintah sendiri sangat membutuhkan bantuan dari pihak mereka terutam pihak pekerja kemanusiaan Asing.

Setelah gagal upaya pertama, Kalla kemudian memutar haluan, Menteri Hamid dikirim ke Eropa, ke Belanda, sampai pada akhirnya satu utusan dikirim ke Swedia. Ada lampu hijau, Hasan Tiro melalui Perdana Menteri GAM Malik Mahmud, bersedia berdialog asal ada satu negara penengah. Tapi, itu tak mudah bagi Kalla. Pemerintahan SBY akan dilalap oposisi, karena “membesarkan” GAM di panggung politik dunia.

Melalui dr Farid Hussein yg dibantu Si pemimpin redaksi asal Finlandia  Juha Christensen yg ahli farmasi, mereka berhasil meyakinkan bekas Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari untuk mau membantu proses terjadinya Perdamaian Aceh. Marti akhirnya bersedia karena pertimbangan Aceh baru saja dilanda tsunami.

Dalam perundingan yg dilakukan di di Helsinki, Finlandia  peran Kalla tak kalah pentingnya. Menurut salah satu ‘Orang Kalla’: suatu kali Menteri Hamid pusing oleh banyaknya syarat yang diajukan GAM di meja perundingan di Helsinki. Dia menelepon Kalla di Jakarta. “Pernah mengambil kredit di bank? Apakah kau baca semua syaratnya?”, tanya Kalla. Seperti halnya bisnis, bagi Kalla, syarat kredit bukan soal pokok. Yang penting: uang bisa cair, dan bisnis bergulir. “Hamid, yang penting mereka setuju berada di dalam NKRI. Yang lain, tak penting,” kata Kalla. Dialog pun lancar kembali.

Pragmatisme, dalam dosis tertentu kadang penting. Dan, Kalla membuktikannya. Seperti diakui M Nur Djuli, sang Wakil Presiden sangat berperan saat perundingan itu di ujung tanduk. Misalnya, ihwal partai lokal bagi Aceh. “Kalla memberikan lampu hijau, partai lokal boleh berdiri”, ujar Djuli.

Sejak itu, Kalla dipercaya para pemimpin GAM di Swedia. Kalla berhasil menyelami pikiran dan perasaan mereka, “Saya membaca hampir semua buku karya Hasan Tiro,” ujar Kalla suatu hari di kantor Wakil Presiden. Dia percaya, dialog hanya mungkin jika kedua pihak saling mengenal, dengan penuh hormat. Pada saat pertemuan dengan Malik Mahmud cs, Kalla bahkan sempat bergurau; ini adalah pertemuan GAM. “Gabungan Aceh Makassar,” ujar Kalla.

Perundingan Helsinki itu akhirnya selesai dalam tempo tujuh bulan. Kalla bukan hanya membanggakan Indonesia, tapi menjadi teladan bagi Asia Tenggara.  Bagi kami masyarakan Aceh, perdamaian hampir tak pernah terpikirkan, perdamain sudah tidak menjadi harapan, perdamaian adalah sesuatu yg hampir mustahil kami dapatkan, tapi pada akhirnya perdamaian itu menjadi nyata setelah ditemukan oleh Drs H Muhammad Jusuf Kalla di Helsinki, Finlandia.

Terima kasih Pak Jusuf Kalla, penemuanmu telah membuat kehidupan kami menjadi damai!

Referensi:

  • http://www.kompasiana.com/jusufkalla
  • Nezar Patria, Wartawan VIVANews.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Imbangi Valencia B, Indra Sjafrie Malah …

Djarwopapua | | 19 September 2014 | 14:17

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 7 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 8 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 8 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 11 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Calo Berkeliaran di Baitulharam …

Choirul Huda | 8 jam lalu

BPJS dAN KJS Sangat Membantu Masyarakat …

Sony Hertanta | 8 jam lalu

Penipuan Bermodus Penangkapan!!! (Silahkan …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Yuk, Jadi Pengguna Elpiji yang Cerdas dan …

Yoseph Purba | 8 jam lalu

Konsep Unik Band dengan Bertopeng …

Anto Karsowidjoyo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: