Artikel

Sosbud

Imanfirdaus

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Lahir di Bandung dan kini tinggal di Jakarta. Selain nonton wayang dan naik sepeda, menulis jadi hobi sekaligus pekerjaan.

Sejarah Infotainment dan Para Pencara Laba


REP | 19 December 2009 | 12:44 Dibaca: 958   Komentar: 2   Nihil

Bila ada yang kesal dengan tayangan infotainmen akhir-akhir ini, ada baiknya membaca riwayat hidup sang infotainment berikut ini. Dalam dunia pemberitaan, infotainment terbilang baru. Umurnya barangkali belum sampai 15 tahun hingga hari ini. Secara bahasa, infotainment adalah gabungan dari dua frasa: informasi dan entertainmen, yang artinya kira-kira informarmasi tentang dunia hiburan.

Sebelum lahir era kebebasan pers, dan nama infotainmen belum muncul, berita soal artis dan kehidupan sehari-harinya masuk dalam medi massa umum dnegan nama rubrik, antara lain: seni, budaya, hiburan, gaya hidup atau pokok dan tokoh. Porsi pemberitaanya kecil saja, dan itu adalah cara si wartawan mengambil jeda dari liputan yang serius. Banyak wartawan, termasuk saya kala itu, senang mewawancarai selebritis karena cantiknya. Ada kawan yang baru pertama disuruh mewawancarai seorang artis cantik (waktu itu Tamara), tapi hingga sang artis berlalu dihadapannya tak satu pun pertanyaan terlontar: “Gile, gue cuma bisa bengong. Abis cantik banget,” katanya.

Di hadapan para wartawan yang bukan hiburan, derajat reporter pemburu artis agak rendah. “Wawancara artis gak butuh mikir,”ujar teman-teman yang biasa meliput hukum dan politik. Tapi tak dinyana, rubrik huburan atau seni dan gaya hidup yang menampilkan kehidupan para artis itu, setelah di survei kepada pembaca, peminatnya banyak. Bahkan, ini yang aneh, mengalahkan rubrik pendidikan. Jadinya,  hiburan jadi rubrik tetap sementara pendidikan rubrik tidak tetap.

Nah, memasuki era reformasi di mana pers tidak butuh surat izin, banyakpara pengusaha yang merekrut para wartawan hiburan. Mereka mendirikan tabloid khusus kehidupan kaum selebritis, yang menungkap secara lengkap dari mulai iklan yang dibintangi, pacarnya sekarang  sampai merek celana dalam yang digunakan (lebih hebat lagi kalau tahu ukuran bra-nya).

Rupanya, rumus yang digunakan para juragan media adalah: rakyat sudah jenuh dengan berita politik, mereka butuh hiburan. Ternyata terbukti laku di pasaran. Akibatnya, berlombalah orang-orang berduit membuat tabloid hiburan, dan pada masa inilah nama “infotainmen” mulai berkumandang. Tidak cukup dengan media cetak, mereka merambah media elektronik. Keuntungan yang diperoleh berlipat ganda. Seorang pemilik saham Bintang Advis Multimedia (penerbit tabloid dan tayangan “Cek and Ricek”) pernah bilang,” Ratingnya tinggi, returnnya cepat,” katanya.

Gemerlap tayangan para artis tersebut kemudian bersinergi dengan para juragan pemilik televisi, yang rata-rata tidak memiliki latar belakang wartawan, tapi pengusaha (dari pengusaha departemen store, pialang saham, dan bank). Maka, tayangan infotainmen dan juga sinetron menjadi mesin uang yang meraup untung lewat perolehan iklan setelah rating dijadikan alat ukur. Dhamoo Punjabi, saudara pemilik rumah produksi Multivision, Raam Punjabi mengulang mantra yang sama dengan para pengusaha media hiburan: “Rakyat perlu diberi mimpi,” katanya mengomentari kritikan sinetron yang dijuluki tayangan penjual mimpi.

Atas nama “rakyat perlu mimpi dan hiburan” itulah rumah produksi bermunculan. Tujuannya hanya satu: menayangkan liputan artis secara lengkap dan detil. Mereka bersaing ketat agar rating tidak jeblok. Seorang penulis naskah di rumah produksi Kroscek, pernah mengeluh pada saya, “kerjanya sampai jam 3 pagi setiap hari,” katanya. Jam tayang pun bukan lagi pas ibu-ibu selesai masak, tapi nyaris 24 jam. Para kru dan pekerja infotainmen pun dituntut kerja ekstra keras, menggali lebih detil dan kalau perlu menjadi yang pertama. Sayang, seringkali dengan berbagai cara.

Melihat gelagat kurang bijak ini, Nahdatul Ulama (NU) sempat mengeluarkan fatwa: infotainmen haram, dengan alasan ghibah (bergunjing yang dilarang agama). Alih-alih mendapat respon positif, Ruhut Sitompul (pengacara, pemain sinetron dan kini jadi anggota DPR dari Partai Demokrat) menjawab setengah melecehkan, “Alaaah, masih banyak urusan. Urus yang lain, kayak gak ada kerjaan aja,” katanya di sebuah tayangan infotainmen beberapa tahun silam.

Ketua Dewan Pers Leo Batubara tak kalah jengkel pada tayangan infotainmen. Tapi tak bisa berbuat banyak, sebab hinga detik ini tidak ada yang mau mengadu kepada dewan pers. Padahal salah satu cara untuk  menegur televisi atau rumah produksi, ya harus ada pengaduan dari masyarakat.

Artis Luna Maya adalah salah satu yang bermasalah dengan infotainmen. Sebelumnya ada Niki Astria dan Rahma Azhari. Persoalannya sama saja, ya soal liputan. Ketika Luna marah dan  memaki, para pemilik rumah produksi berkumpul dan mengumpulkan bukti untuk membawa Luna ke ranah hukum. Ironisnya, Undang-undang yang dipakai sama dengan Undang-undang yang digunakan oleh Rumah SAkit OMNI Internasional untuk menjerat Prita Mulyasari ke meja hijau, yakni soal pencemaran nama baik lewat  dunia maya. Kalau tak salah namanya Undang-undang Informatika dan Transaksi Elektronik (ITE). Disebut ironis karena UU tersebut bermasalah bagi kerja jurnalis (dan seharusnya juga infotainmen), sebab mengekang kebebasan berpendapat. Sebagian wartawan bahkan ada yang meminta pasal pencemaran nama baik dihapuskan saja.

Singkat cerita, sejarah infotainmen adalah sejarah industri televisi kita yang dekat dengan dunia hura-hura dan pengejaran keuntungan. Tak ada satu pun pemilik media elektronik  yang rela melepas tayangan yang satu ini. Lagi pula, toh rakyat masih butuh hiburan, kata mereka.  Dan sejarah infotainmen memang sejarah tentang sebuah masyarakat yang masih terpana pada gemerlap para pesohor.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: