Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ahmed Tsar Blenzinky

Ingin menjadi penulis multi talenta..... Ikuti @AhmedTsar

Langgam Caping Gunung

HL | 19 December 2009 | 07:59 Dibaca: 7778   Komentar: 42   3

Photobucket

Setiap mendengarkan langgam caping gunung, bulu kuduk saya merinding terkadang malah air mata meleleh dari sarangnya. Perasaan saya terbawa oleh makna filosofis lagu campur sari ini. Lagu ini bercerita tentang kerinduan orang desa terhadap belaian jasa orang kota. Maksudnya, wahai orang-orang kota tengoklah kampungmu, berikanlah kesejahteraan terhadap penghuninya.

Langgam yang diciptakan oleh Gesang ini, liriknya sederhana namun penuh metafor. Misalnya kata caping gunung itu sendiri. Caping gunung adalah pelindung kepala berbentuk seperti gunung. Topi ini terbuat dari anyaman bambu. Aksesoris ini biasanya digunakan oleh orang desa untuk beraktivitas guna melindungi kepala dari sengatan matahari. Akan tetapi fungsi dari caping gunung tidak hanya untuk beraktivitas melainkan juga bisa digunakan untuk menyamar.

Metafor caping gunung sebagai penyamaran inilah yang didendangkan lagu caping gunung. Berikut terjemahan bebas narasi lirik lagu tradisional bahasa Jawa Mataraman ini

Wahai orang-orang kota, ingatkah engkau pada zaman perang kemerdekaan. Pada saat engkau menggungsi ke desa karena kotamu diluluhlantakkan oleh penjajah. Engkau jadikan desa kami tempat berlindung dan engkau sendiri menyamar sebagai penduduk desa. Sebagai penduduk desa, engkau sama seperti kami yang tiap hari makan nasi jagung dan memakai caping gunung. Hingga pada saatnya engkau semua kembali untuk merebut kotamu dan memproklamirkan kemerdekaan. Saat ini di zaman pembangunan, apakah engkau mengingat kami? Padahal kami ingin tahu kabar engkau, apakah engkau bahagia disana. Kalau engkau bahagia, tularkanlah kepada kami atau anak cucu kami dengan kesejahteraan. Caping gunung yang dulu sering engkau gunakan masih kami simpan.

Hiks…..menurutku dalam sekali pesan lagu ini. Pernah menyaksikan film “janur kuning”? film ini adalah film perjuangan mengenang peristiwa “serangan umum 1 Maret”. Salah-satu adegan dalam film tersebut menggambarkan aktor pemeran Pak Harto memakai caping gunung.

Pesan lagu ini bagi saya “evergreen” untuk semua yang merasa melupakan desa, baik sengaja maupun tidak. Melupakan karena sudah menjadi orang kota. Sekarang zamannya urbanisasi, hampir sebagian besar orang produktif di desa pindah ke kota besar. Sehingga desa kosong akan tenaga-tenaga produktif yang berakibat desa tak pernah sejahtera.

Oia, mengapa langgam caping gunung mengena perasaan saya sehingga membuat hati treyuh? ketika langgam itu berkumandang, memori saya selalu mengkaitkan isi pesan caping gunung tersebut dengan cerita tutur tinular ibu tentang almarhum kakek. Pada zaman perang kemerdekaan, rumah kakek di Desa Jemur Kebumen sering dijadikan tempat bersembunyi para pejuang. Sampai kakek meninggal tahun 90an, tidak ada semacam “balas jasa” dari para pejuang setelah zaman kemerdekaan. Saya kira, kondisi ini banyak juga dialami oleh “kakek-kakek” desa lainnya yang hidup di bawah garis kemiskinan.

berikut lirik langgam caping gunung

Dhek jaman berjuang
Njuk kelingan anak lanang
Biyen tak openi
Ning saiki ana ngendi

Jarene wis menang
Keturutan sing digadang
Biyen ninggal janji
Ning saiki apa lali

Ning gunung
Tak jadongi sega jagung
Yen mendung
Tak silihi caping gunung

Sukur bisa nyawang
Gunung desa dadi reja
Dene ora ilang
Gone padha lara lapa

Artinya:

Ketika masa perjuangan
Ku teringat putraku
Dulu aku rawat
Namun sekarang entah di mana

Katanya sudah merdeka
Terpenuhi apa yang diinginkan
Dulu dia berjanji
Namun sekarang apakah alpa

Di gunung
Kubekali nasi jagung
Kalau mendung
Kupijami caping gunung

Syukurlah jika dia bisa melihat
Kini gunung desa makin ramai
Hingga takkan hilang
Kenangan dulu ketika susah

note: foto dari sukolaras.wordpress.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kisah Haji Warto tentang Lumpur Lapindo …

Windu Andhika | | 17 April 2014 | 14:58

Introspeksi Pascapemilu (Kado buat Caleg …

Nurjanah Nitura | | 17 April 2014 | 11:14

Tahan Nafas di Kereta Gantung Ngong Ping …

Eddy Roesdiono | | 17 April 2014 | 15:42

Parkir Sebabkan PAD Bocor …

Eta Rahayu | | 17 April 2014 | 14:54

Inilah Pemenang Kompasiana - ISIC 2014 Blog …

Kompasiana | | 17 April 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Meski Tak Punya Ijin, JIS Berani Menolak …

Ira Oemar | 5 jam lalu

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 13 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 13 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 13 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: