Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Pipiet Senja

Seniman, Teroris Tukang Teror Agar Menjadi Penulis, Pembincang Karya Bilik Sastra VOI RRI. Motivator, Konsultan selengkapnya

Taman Ismail Marzuki: Sastra, Batak, dan Fall in Love

OPINI | 18 December 2009 | 01:06 Dibaca: 440   Komentar: 22   2

Penghujung tahun 1979, ada even besar sastrawan Nusantara di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kalau orang-orang datang dengan undangan, aku hanya berbekal nekad. Aku bukan orang ngetop, bukan sastrawan, tidak pula terikat instansi swasta atau pemerintah. Pokoknya nekad!

“Hm, inilah TIM, tempat para seniman Ibukota kongkow-kongkow,” gumamku ketika berdiri di depan pintu gerbang TIM siang itu.

Itulah pertama kalinya aku akan menjejakan kaki di TIM, markasnya para seniman. Seorang Satpam berkumis baplang mencegat langkahku di depan pos keamanan.

“Mbak mau ke mana? Mau bertemu siapa?” tanyanya memandang curiga. Hmm, tongkronganku sungguh tidak meyakinkan ‘kali, ya?

“Eh, ya, mau masuk ke dalam. Mau lihat-lahat saja, boleh kan?”

Satpam lainnya ikut nimbrung. Hih, interogasi nih?

“Lihat KTP-nya, Mbak….”

Wuaduh, matilah daku!

Ini dia masalahku, KTP-ku sudah kadaluarsa. Jujur saja, aku paling alergi kalau sudah berurusan dengan birokrasi. Biasanya aku minta tolong pamanku di bale Desa untuk mengurusnya. Tapi belakangan itu aku sendiri jarang di Cimahi.

Saat aku celingukan dan rikuh begitu, tiba-tiba serombongan mahasiswa IKJ menyelusup sambil rame ngobrol. Salah seorang di antaranya seketika merandek dan memperhatikan aku.

“Hei, Anda ini… ehem! Kalau gak salah Pipiet Senja, ya kan? Dari Cimahi itu, kan?” anak muda itu, sebayaku, menyapa dengan ramah.

“Kok tahu?”

“Aku lihat potret Anda dan wawancaranya di majalah Zaman. Anda pemenang lomba cerpen Zaman…”

“Begitu, ya? Kok aku malah gak tahu, ya?”

Hihi… kampungan nian daku!

Berkat anak-anak IKJ itulah akhirnya aku bisa menyelinap ke TIM. Kemudian bergabung dengan para seniman, mengikuti beberapa acaranya, mendapatkan makalah-makalahnya. Sampai mendapatkan makan gratis segala.

Saat inilah aku bisa bertatap muka langsung dengan Sutan Takdir Alisyahbana, Subagio Sastrowardojo, Ajip Rosidi, Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail, Titis Basino, TH. Prihatmi, Astrid Sutanto, Rayani Sriwidodo, banyak lagi para sastrawan senior yang karya-karyanya sejak lama sudah aku kenal.

Saat ini pula aku berkenalan dengan para penyair muda Jakarta.

Namun, lebih dari segalanya, di sinilah, aku pertama kalinya bertemu dengan lelaki itu. Seorang pemuda Tapanuli bermarga Siregar yang di kemudian hari menjadi pasangan hidupku.

Masih nyambung deeeeh…., lanjutkankah?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gandari: Menyibak Karakter dan Sikap …

Olive Bendon | | 18 December 2014 | 17:44

Meteorisme, Penyakit Hitler yang …

Gustaaf Kusno | | 18 December 2014 | 12:20

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

KOMiK Nobar Film Silat Pendekar Tongkat Emas …

Komik Community | | 17 December 2014 | 11:56



Subscribe and Follow Kompasiana: