Artikel

Sosbud

Usman Hasan

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

seorang yang mengembara mencari...mencari... terus dan belajar terus sampai akhir hayat

Secuil Mengenai FPI dan Habib Riziq


OPINI | 14 December 2009 | 17:10 Dibaca: 905   Komentar: 14   Nihil

Yang ada dalam benak saya, Habib Rizik itu orang yang keras, sangar. Teman-teman saya banyak yang berpandangan miring terhadap Habib yang masuk keluar penjara ini. Ada beberapa teman-teman yang menyatakan keheranannya kepada saya, setelah mengetahui saya memiliki kedekatan dengan teman-teman FPI..

Setelah saya mengamati dari dekat, mendengar wejangan dan pikiran-pikiran beliau yang disampaikan kepada anggota dan simpatisan FPI ketika di jalan Nuri, pada saat Tabligh Akbar yang dilaksanakan di lapangan Haji Hayun dam khotbah jumaat di masjid raya Tolitoli, maka saya berpikir, ternyata Habib Riziq yang sudah tiga kali masuk penjara itu adalah orang yang lembut, memiliki pikiran-pikiran cerdas, terukur sekali dalam memahami perjuangan menegakan Islam di Indonesia.

Menurut Habib Riziq, umat Islam harus membedakan antara dakwah dan jihad. Dakwah itu memang harus lembut. Dakwah itu mengajak. Kalau berdakwah dengan kasar, siapa pula yang mau mendengar dan mengikuti. Beda dengan jihad. Konteknya lain. Ketika agama Islam dihina, dilecehkan – maka disitu tidak cocok kalau kita menghadapi dalam kontek berdakwah. Harus tegas dan keras.

“Kita harus menghargai pemerintah yang ada. Kalau ada yang kita ndak setujui, ya kita laporkan dan beritahu kepada pemerintah. Misalnya, setelah berulang-ulang diberitahu masih tidak ada tanggapan – maka tindakan keras boleh dipertimbangkan. Nabi Muhamad tahu menempatkan pada posisi yang tepat antara dakwah dan jihad. Demikian kata Habib Riziq.

Masih menurut Habib Riziq, anggota FPI kalau mau berjuang harus berlandaskan ikhlas. Dengan ikhlas menyebabkan kita tidak mudah berputus asa. Dengan ikhlas kita bersedia ditempatkan diimana saja dan dengan ikhlas kita dapat menjadikannya sebagai obat iri hati terhadap sesama anggota.

Salah satu perkataan Habib Riziq yang saya garis bawahi adalah, bahwa organisasi hanyalah alat perjuangan, bukan tujuan. Dalam perjuangan bukan semata-mata kita membicarakan atau menargetkan kemenangan. Bukan itu intinya, tapi bagaimana kita berjuang demi agama Allah dengan ikhlas. Soal kemenangan ada di tangan Allah.

Tidak perlu kita fanatik dengan organisasi. FPI boleh dibubarkan, tapi perjuangan Islam harus tetap berjalan. Orang boleh menghina FPI, tapi jangan sekali-kali orang menghina Islam.

FPI jangan melecehkan apalagi menghina organisasi Islam lain. Jangan memperbesar perbedaan soal qunut ndak qunut dan masalah khilafiah lainnya. NU itu teman. Mumahadyah itu teman, Alkhairaat juga teman. Kita harus membangun komunikasi dengan organisasi Islam yang ada. Kalau ajaran sesat, kita tidak boleh kompromi. Mereka musuh yang nyata.

Demikian secuil tentang FPI dan Habib Riziq. Saya semakin paham, bahwa dalam hidup ini harus menghindarkan diri dari rasa curiga yang tidak beralasan serta memandang orang lain dari sisi negatifnya saja yang belum tentu benar.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: