Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Djar Swastomo

Pecinta wayang kulit dan gamelan...

(Kisah Nyata) Waluyo si Dalang Cilik dan Kemiskinan……

OPINI | 10 December 2009 | 07:40 Dibaca: 663   Komentar: 1   1

Go to fullsize imageSuatu ketika di bulan, kalau saya tidak salah, Februari 2009, seorang teman saya bernama Wahono, yang kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, jurusan pedhalangan, datang ke rumah saya. Tidak seperti biasanya, pagi itu dia terlihat agak serius. Setelah memarkir motor vespanya di halaman rumah, dan minum teh buatan istri saya, dia memulai berbicara. “Kang, kalau sampean saya minta tolong untuk ikut nggamel mau nggak? Besok minggu mau ada pentas wayang kulit dalang cilik….”. Tanpa ragu saya menyatakan kesanggupan saya. Kemudian saya bertanya pada si Wahono ini kenapa mau ngomong begitu saja kok kelihatan takut-takut. Ternyata, penyebabnya adalah bahwa nanti saya hanya akan dimintai tenaga saja untuk nggamel, tanpa imbalan uang satu peserpun. Intinya dia merasa tidak enak sama saya.

Memahami hal itu, kemudian saya katakan padanya bahwa saya ini bukan pengrawit atau pemain gamelan yang handal yang harus selalu mendapat panjakan atawa bayaran tiap kali pentas. Saya hanya punya modal senang sama gamelan, dan belum sangat jago dalam main gamelan. Diajak pentas itu saja saya sudah merasa sangat bangga mengingat di Jogja banyak sekali seniman gamelan yang jauh lebih handal. Lebih jauh lagi saya juga kemudian bertanya padanya siapa dalang cilik yang mau pentas itu. Dia menjawab,”Namanya Waluyo…..dia yatim piatu, tinggal bersama kakeknya di dusun Sompok, Sriharjo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta (tak jauh dari rumah penulis). Ayahnya pergi sejak kecil, sedangkan ibunya meninggal saat melahirkan calon adik si Waluyo ini. Kenapa saya bilang calon adik, karena bayi itu ikut meninggal bersama ibunya…..”. Mendengar cerita itu saya menjadi sangat tersentuh, sekaligus sangat penasaran dengan anak kelas 5 SD bernama Waluyo ini. Tidak banyak yang bisa saya katakan saat itu pada teman saya tersebut. Secara spontan saya mengatakan, bahwa sudah selayaknya kita bantu si Waluyo untuk menjadi dalang.

Para Kompasianers yang budiman,

Pada hari yang ditentukan, saya menuju ke SD Kedung Miri, Sriharjo, Imogiri, Bantul, tempat di mana si Waluyo dalang cilik akan pentas. Di sana saya baru tahu, kalau ternyata instrument gamelan yang dipakai untuk mengiringi Waluyo hanya 3 macam; kendang, demung, dan saron. Kendang dimainkan oleh mbah Wignyo yang merupakan teman saya di beberapa komunitas gamelan yang sama-sama kami ikuti, demung dimainkan oleh Wahono teman saya yang anak ISI, sementara saya dapat jatah main saron. Saya bengong. Membayangkan. Betapa hambarnya pentas nanti hanya dengan iringan gamelan seperti itu. Kita tahu bahwa gamelan itu adalah satu kesatuan. Akan terasa indah dan menyenangkan menenangkan apabila dimainkan secara bersamaan. Hati saya sempat ciut karenanya. Tapi saya sudah mengatakan kesanggupan. Saya tinggal menjalani saja bagaimana nanti akhirnya.

Pentas wayang hari itu adalah sebagai peringatan, bahwa pada saat terjadi gempa 27 Mei 2006 Yogyakarta, SD Kedung Miri ini rusak parah, dan mendapatkan bantuan dari PT. Amway Indonesia. Setelah 2 tahun paska gempa, perusahaan tersebut bermaksud beramah-tamah dengan murid-murid sekolah sekaligus dengan warga sekitar. Dan ternyata, moment itu sekaligus menjadi kesempatan bagi Waluyo si dalang cilik untuk unjuk kebolehan. Usut punya usut, yang membimbing Waluyo belajar wayangan ternyata adalah si Mardi Kenci, dalang thingklung. Disebut thingklung karena kalau pentas wayang si Mardi Kenci ini hanya menggunakan mulutnya saya untuk menghasilkan suara-suara gamelan, tanpa gamelan. Saya berani menjamin, para Kompasianers pasti akan tertawa kalau melihat dia pentas. Si Mardi Kenci ini cukup dikenal di daerah saya, salah satunya juga atas jasa KOMPAS karena menurut ceritanya yang pertama kali nanggap Mardi Kenci adalah KOMPAS Jogja.

Kembali lagi soal Waluyo,

Saya mendengar suara Mardi Kenci memanggil saya dari pintu salah satu kelas. Kemudian saya datangi. Ternyata dia meminta saya untuk memakaikan surjan, jarik, stagen dan kamus, serta blangkon, pada si Waluyo.

Para Kompasianers yang saya cintai,

Berikut ini adalah gambaran yang bisa saya persembahkan tentang Waluyo si dalang cilik. Perawakannya kurus, warna kulitnya sangat legam, matanya keruh mungkin karena banyaknya lelakon urip yang berat yang ia telah lalui, dua giginya yang depan berukuran lebih besar dari yang lain kaya gigi kelinci, rambutnya pendek nyredak (berdiri) menantang langit, dari hidungnya yang kecil muncul bulatan-bulatan keringat yang sesekali dia seka dengan tangannya. Namun, dia berbicara dengan tegas dan ceria. Suaranya serak nan lantang, menawan. Sangat khas dalang cilik yang sangat berbakat. Sembari memakaikan pakaian Jawa, saya iseng bertanya padanya, yang belakangan ini saya menjadi menyesal karena telah menanyakan itu padanya,”Bapakmu dimana le?”. Dia menjawab tanpa ragu,”Bapak saya minggat mas….”. Seketika itu saya merasa sangat kecewa dengan pilihan pertanyaan saya untuknya. Bahkan, ketika saya kemudian minta maaf karena pertanyaan itu, jawaban dia begini,”Ndak apa-apa mas….saya sudah biasa kok dari kecil….”.

Beberapa waktu kemudian, tibalah saat Waluyo pentas. Panggung berada di bawah tenda biasa. Di hari yang sangat terik hari itu, keadaan menjadi sangat panas dan jauh dari rasa nyaman. Kami bermandi keringat. Mbah Wignyo sesekali menengok ke saya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, meskipun masih dengan senyumnya yang tua dan khas. Saya tidak mampu menyimak lakon apa yang Waluyo mainkan.  Yang lebih saya rasakan adalah betapa hambarnya suara yang terproduksi dari instrumen gamelan yang tidak lengkap. Yang membuat saya kagum, ternyata Waluyo ini ternyata memang sangat berbakat. Dia bahkan bisa melucu sehingga banyak kata-katanya yang mengundang tawa orang-orang yang hadir saat itu. Dia sangat mengagumkan.

Demikianlah sehingga tanpa terasa 2 jam telah berlalu sehingga lakon wayangpun usai. Terdengar tepuk tangan dari penonton, yang memang harus saya katakan dengan sebenarnya bahwa jumlahnya terus berkurang. Mbah Wignyo, Wahono, dan saya, kemudian segera meninggalkan panggung pentas. Dan tak berselang lama, kami semua, oleh beberapa orang karyawan PT. Amway diminta makan siang.

Hari itu saya tak pernah berfikir akan menemui begitu banyak hal yang mengejutkan. Jadi begini; makanan dengan berbagai jenis lauk disediakan oleh PT. Amway di meja dan ruangan khusus. Prasmanan. Dan, si Waluyo ini hanya terlihat bengong saja. Kemudian yu Surti, istri dari Mardi Kenci, berinisiatif mengambilkan¬† makanan untuk Waluyo. Saya tidak tahu bagaimana cara yang paling tepat untuk mengungkapkan hal ini, namun menurut saya, Wauyo ini merasa sangat minder dengan makanan yang serba mewah, dan itu membuatnya tak percaya diri di ruang makan. Sedangkan kejadian mengejutkan yang ingin saya sampaikan disini adalah; pada saat kami makan, tiba-tiba yu Surti ini menangis tersedu-sedu dengan mulut yang masih berisi makanan. Itu spontan mengundang perhatian kami. Saya kemudian bertanya pada yu Surti,”Ada apa yu?”. Jawabannya membuat kami semua merasa sesak. “Aku mesakne karo Waluyo…cah ora duwe, podho karo nasibku….sabar yo le“. Dalam bahasa Indonesia begini,”Saya kasihan sama Waluyo…anak miskin…..sama dengan aku…sabar ya dik…”. saya sangat meyakini, siapapun, pasti akan merasa kesulitan untuk menghadapi keadaan seperti itu, termasuk juga para Kompasianers. Hanya mbah Wignyo saja yang masih mampu bicara. Pria tua berambut putih dan berjalan pincang itu mengatakan,”Uwis, rasah nangis, awakke dhewe ki isane ming mbantu si Waluyo sak kuwate…” (”Sudahlah, jangan menangis begitu, kita ini bisanya Cuma membantu Waluyo saja semampu kita….”). Si Waluyo sendiri, yang jadi topik pembicaraan, masih terus melanjutkan makannya.

Para Kompasianers yang budiman,

Kini, melalui tulisan ini, saya sendiri justru merasa bingung harus menyampaikan poin apa. Maka marilah kita sama-sama ikut merasa bangga dengan eksistensi seorang Waluyo….dulu, dengan segala kenyataan hidupnya,…kini, dengan kecintaannya terhadap wayang kulit…..dan sampai kapanpun, sehingga suatu saat nanti Waluyo menjadi seorang dalang wayang kulit sejati yang dicintai masyarakat luas….. Ketika teman-temannya yang lain asyik dengan jenis permainan yang tak pernah terbeli oleh Waluyo….Waluyo kian akrab dengan wayang-wayang kertas yang ia miliki. Ia selalu mengumandangkan suluk dalam setiap kepergian maupun kepulangannya dari sekolah…meski dengan bertelanjang kaki……

Atas segala kebanggan saya terhadap Waluyo, saya mengundang siapa saja untuk lebih memberikan perhatian pada seni budaya kita sendiri. Jangan ditinggalkan sejengkal saja…..apalagi dilupakan… Karena, jujur, saya selalu memimpikan anak-anak muda Indonesia berkumpul dan asyik berbicara tentang uniknya seni budaya kita….dan bukan justru malu untuk menjalaninya….

……NUWUN…..

(Learn as an Origin Javanese)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

9 Mei 2014, Sri Mulyani Come Back …

Juragan Minyak | | 25 April 2014 | 10:12

Senayan Berduka: Wajah Baru Caleg Misterius …

Saefudin Sae | | 25 April 2014 | 08:37

Kesuksesan Kerabat Kepala Daerah di Sulawesi …

Edi Abdullah | | 25 April 2014 | 10:02

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: