Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Djar Swastomo

Pecinta wayang kulit dan gamelan...

…Wayang Kulit, di Antara Larutan Emosi dan Pohon Jambu….

OPINI | 04 December 2009 | 08:02 Dibaca: 485   Komentar: 6   1

Suatu ketika aku menyediakan waktuku untuk nonton pertunjukan wayang kulit, di desa Kalidadap, Selopamioro, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Dalangnya Ki Sutoyo, anak dari mendiang dalang kondang Ki Sugito. Karena pertunjukan malam itu adalah dalam rangka perhelatan pernikahan, maka lakon yang dimainkan pun “jumbuh”, atau sengaja disesuaikan, yaitu; “Poncowolo Kromo” (Pernikahannya Raden Poncowolo), dimana Raden Poncowolo adalah putra Prabu Puntadewa. Saya sudah sering menonton lakon ini sehingga malam itu saya lebih banyak memperhatikan bagaimana para penonton mengapresiasi kesenian itu.

 

Saat adegan “Limbuk dan Cangik”, yaitu peran figuran dengan karakter “dayang” atau “pembantu”; ibu anak Limbuk dan Cangik, di situlah sang dalang memasukkan unsur seni “campursari”, dengan lagu-lagu dangdut, yang notabene itu tidak termasuk dalam pakem pakeliran. Sehingga, dengan para penyanyi yang jelita dan goyangan yang “berani”, maka perhatian para penonton malam itu tersedot ke panggung pertunjukan. Dari tempat saya duduk, di antara tumbuhan “nyidro”, sejenis tanaman empon-empon yang ditanam si pemilik rumah saya memperhatikan kerumunan penonton yang membludak. Jumlahnya ratusan. Tepat di depan panggung pertunjukan, adalah sebuah pohon jambu air. Berdiri kokoh. Kalau boleh saya jumlahkan, penontonnya adalah ratusan orang dan sebuah pohon jambu. Demikianlah.

 

Nah, adegan Limbuk Cangik plus lagu-lagu dangdut ala campursari ternyata cukup menyita waktu, sehingga proporsi lakon wayang yang dimainkan menjadi berkurang. Dan, seperti yang sudah-sudah, setelah Limbuk Cangik pamitan, dan lakon wayang dimainkan lagi, penonton yang ratusan tadi akhirnya bubar. Yang tersisa adalah si pohon jambu, 2 orang tua, yang kelihatannya mereka bersahabat karib, dan saya yang masih duduk di belakang mereka beberapa meter saja.

 

Malam itu menjadi malam mengharukan bagi saya. Pasalnya begini….

 

Saat adegan ki lurah Petruk bertamu ke Madukoro, kerajaannya Raden Arjuna, dalam rangka melamar putri raden Arjuna untuk dipersunting Raden Poncowolo, ia terlibat perdebatan dengan sang Begawan Drona yang juga datang untuk melamar hendak dinikahkan dengan Raden Lesmono Mondrokumoro putra Prabu Duryudana. Perdebatan akhirnya memuncak saat ki lurah Petruk membeberkan bahwa begawan Drona itu pernah kawin dengan kuda sampai lahirlah putranya bernama Bambang Aswatama. Bersamaan dengan itu, salah satu diantara 2 penonton yang saya sebutkan tadi terpancing emosinya. Kebenciannya pada tokoh kontroversial begawan Drona menjadi terpancing.

 

Orang itu bangkit dari duduknya dengan raut muka jengkel namun puas karena Petruk berhasil memojokkan begawan Drona. Ia yang hanya mengenakan kaos singlet, berdiri sambil memperbaiki posisi kain sarungnya yang hendak melorot. Ia membuang puntung rokoknya lintingnya, mendekat ke panggung dan ikut memarah-marahi begawan Drona. Ia menunjuk-nunjuk dengan sendal jepit yang sebelumnya ia pakai untuk alas duduk. “Modar kowe…modar kowe Drona….begawan kok clengkre….karo jaran wae gelem….”, artinya kira-kira begini “Mampus kamu begawan Drona. Begawan kok lacur murahan. Sama kuda saja mau…..”.

 

Kontan peristiwa itu mengundang tawa; para “niyaga”/pemain gamelan, sahabatnya sendiri yang masih duduk terpingkal-pingkal. Dan saya, saya tersenyum terharu. Saya bahagia. Perasaan saya tersentuh. Untung saja si bapak itu tidak melempari begawan Drona dengan sendal. Yang saya lihat adalah betapa beliau mencintai wayang kulit. Ia kemudian duduk di samping sahabatnya, dan menyulut rokok lagi.

 

Kurang lebih jam 3 dinihari, kedua sahabat itu pergi diiringi senyum para “niyaga”. Dengan berat saya juga meninggalkan pertunjukan. Yang tersisa….adalah pohon jambu. Saya berharap untuk terus kuat menonton, tapi esok saya harus kerja. Maka saya merelakan pertunjukkan itu, ditonton oleh pohon jambu.

 

Kejadian itu selalu ada dalam ingatan saya. Saat Malaysia mengaku-ngaku beberapa seni budaya kita sebagai milik mereka, saya sudah siap-siap jawaban. Kalau mereka mengaku bahwa wayang kulit juga milik mereka, insya Allah saya akan menyuruh mereka bicara pada pohon Jambu……hahahahahaha. karena kebetulan, menilik kejadian malam itu, seni wayang kulit bukan milik generasi muda Indonesia….tapi punyanya pohon jambu…….

(Learn as An Origin Javanese)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lebaran Sederhana ala TKI Qatar …

Sugeng Bralink | | 30 July 2014 | 22:22

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 9 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 11 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 13 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 15 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: