Kompasiana
Rabu, 08 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Lucia Eny

Luciaeny, sekretaris salah satu koperasi di Makassar, Ide untuk menulis datang dari mengamati perilaku kreditur, dan berbagi cerita untuk memberi pencerahan.

“ Terjun Bebas, Fenomena Bunuh Diri “

OPINI | 04 December 2009 | 21:40 284 0 Nihil

Menyaksikan dari layar TV bagaimana dua orang melakukan proses bunuh diri dengan cara yang sama, nekat terjun bebas dari lantai 5 gedung-gedung yang tinggi, ada apa ya?? Sehingga mahluk yang bernama manusia tidak lagi menghargai hidup ini??

Mungkinkah ini yang bernama fenomena meninggal dengan cara mudah dan top dikit, karena masuk TV ??

Kalau seperti itu, coba kita simak cerita ini tentang bagaimana Hakikat Hidup yang sesungguhnya, agar lebih bermakna!!!

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang.

Sepertinya setiap kali satumasalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur, Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih.

Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir.

Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata.

Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?”

“Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak.

Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.

Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi.

Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?”

Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.

Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. “Kita termasuk yang mana?,” tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangi, bagaimana kita menghadapinya? Apakah kita wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kita?

*Apakah kita adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatan.??

**Apakah kita adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut?? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi menjadi keras dengan jiwa dan hati yang kaku ??

***Ataukah kita adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.Jika seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitar juga membaik.

Salam Sejahtera!!!!!!!


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012