
�Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh�� Tidak kata indah selain ucapan salam sebagai ungkapan selamat datang di dunia lukisan jemari saya. Tidak kenal maka tak sayang, maka dari itu marilah kita saling berkenalan. Hendriyadi, itulah namaku yang merupakan pemberian orang tua saya tercinta. Namun, di dalam dunia sehari-hari orang-orang lebih banyak memanggilku �Hendri�. Aku adalah anak desa terpencil di belahan pulau Sulawesi yang paling selatan. Lahir dari kehidupan desa lalu nge-bolang di kota metropolitan untuk nyanti dan mencari sejuta pengalaman, dan menyu...
Dibaca: 218
Komentar: 4
1 dari 1 Kompasianer menilai Menarik
Antigonish, NS. 19 November 2009
Tidak tahu aku harus memulai dari mana menulis segala sesuatu yang sudah menumpuk di kotak
Justin, Me, My Mom-Maria, My Papa-Ken
penyimpang yang takkan pernah habis kapasitasnya. Ribuan kisah telah ters-Save mulai dari kisah tentang kebahagiaan, kesedihan, canda tawa, kenangan indah dan ribuan kisah-kisah hidup lainnya. Ribuan file telah terukir di sana. Semua masih berbentuk softcopy, hanya aku dan Tuhan Yang Maha Kuasa yang tahu isinya.
Saya tidak tahu apa yang telah terjadi dalam diri saya, ribuan rasa bercampur aduk dalam hatiku. 3 bulan begitu cepat berlalu, seakan-akan baru minggu lalu aku disini. Melewati Summer, Fall dan sekarang sudah berada di winter. 10 hari lagi aku akan meninggalkan Host family atau keluarga angkat. Tapi bagi saya mereka bukanlah keluarga angkat tapi bagi saya adalah real family. Hidup bersama my mom, Maria Van Vonderen seakan-akan aku hidup bersama Ibuku tercinta di kampung (Ujung Loe, Bulukumba Butta Panrita Lopi). Hangatan pelukannya setiap hari saat mengantar aku ke kota, saat mau tidur kudengar suaranya “Good Night dear, see you tomorrow”. Rasa cinta dan kasih sayang telah menyatu erat walaupun di antara kami tidak ada pertalian saudara sama sekali. Aku telah menganggap dia sebagai Ibuku dan dia telah menganggap aku sebagai anaknya. Pertemuan dengannya seakan menyatukan magnet kutub utara dan kutub selatan.
Mala mini air mataku membasahi pipiku yang imut, tak terasa itu sebuah kondisi alamiah yang terjadi saat aku duduk di tengah malam 2 derajat di hadapan computer jadulku. Jari-jariku sangat aktif bergerak menekan tiap-tiap huruf yang suaranya hampir di dengar tetangga. Maklum ngetiknya 11 jari. Tapi untung tetangga di sini jauh paling dekat 100 meter, sangat beda jauh dengan Jakarta yang dinding loe dinding gue juga karena begitu padatnya. Belum lagi kesedihan akan meninggalkan Mom Maria usai di pikiranku, kini aku harus merelakan meninggalkan My Papa, Ken Kingston. Dia adalah seorang ayah yang penyayang, pelukannya dan suaranya tiap malam selalu kudengar “Good night, have nice dream”. Jika pagi telah tiba suara dari ujung meja terdengar “How are you doing?” (apa kabar?). Setiap pagi, saat aku bangun dari tempat tidur, tiada pikiran lain selain menuju washroom (begitulah toilet disebut). Cuci muka, tidak lupa gosok gigi (tapi kadang kelupaan juga, he,,,he,,). Maklum kalo udah cepat-cepat yang teringat adalah roti bakar dan selai kacang atau strawberry plus segelas susu. Mantap.
Awal Langkah Ke Kanada
Hari ini sekitar pukul 5 sore, aku lagi israhat di kamar Asrama IKAMI Sulsel, berbaring melepas kepenatan setelah kuliah sepanjang hari di kampus aku tercinta, Trisakti begitulah orang mengenalnya. Kata sebagian orang kampus hedonis, tapi aku tidak semua orangnya hedon karena aku sendiri berasal dari keluarga tak berpunya tapi dapat berkuliah di sana dengan bentuan beasiswa dengan 10 orang teman saya. Sungguh suatu anugerah terindah dari Tuhan Yang Maha Pemberi Rejeki. Di dalam kamar asrama, yang terletak di lantai 3 kamar kedua dari tangga yang sehari-harinya cukup berantakan dengan buku berserakan di sana-sini. Maklum kuliah di kelas Unggulan cukup membuat kami harus kerja ekstra. Tugas yang menumpuk dan penuh deadline adalah sarapan sehari-hari. Belum lagi makalah dan presentasi yang dalam bahasa Inggris pula.
Suasan kamrku hari ini tidak ada hal yang berubah signifikan, tempat tidur dua buah untuk saya dan kak Nandar, di dalam kamar ada lemari yang berdiri kokoh di dekat pintu tempat kami menyimpan baju dan beberapa dokumen penting, ijazah dan beberapa sertifikatku ada di sana. Beberapa barang Kak Nandar menghiasi lemari itu. Di kaki ranjang terdapat sebuah box pakaianku yang berdiri dengan 3 susun lacinya. Di sana aku menyimpang sebagian pakaianku dan beberapa kertas-kertas penting yang terkadang menurutku tiding penting. Tapi, tak apalah menjadi penghias kamar. Di dindiing kamar tepat di atas kepalaku sebuah gambar mobil dalam bingkai yang berukur besar kira-kira 1,5 panjangnya dan lebarnya 50 cm. Mobil berwarna merah sebuah gambar yng sangat indah. Di bagian kaki terpampang jelas sebuah kertas skedul hari-hariku yang penuh dengan coretan spidol hitam. Kutulis selalu jadwal-jadwalku dalam sebukan di sana, maklum aku adalah orang pelupa.
Mataku hampir sudah terlelap, tiba-tiba suara terdengar dari lantai 2 ” Hendri, ada orang cari’ ko” dengan logat Makassar. Oh ternyata kak Nandar yang memanggilku. “Iyye kak” kujawab dengan nada malas, bisa dimaklumi perasaan capek masih menyelimuti tubuhku. Kucoba langkahkan kaki, keluar dari kamar pelan-pelan menuju tangga. Langkah demi langkah kulewati tangga asrama yang masih kelihatn kotor karena ada dikit genangan air bekar hujan yang menembus atap istan kami. Sesaat aku sudah sampai di lantai satu, kuliahat di sana seorang bapak kira-kira berumur 45 tahun telah menunggu aku. Sebuah jaket hitam masih melekat di baju dinasnya. Iyya kayaknya di baru saja pulang dari kantor. Ku hampiri dia dengan langkah perlahan tapi pasti. “Halo, apa kabar?” ucap bapak itu. Kusambut dengan senyuman paling manisku walaupun masih bangun tidur “Baik pak” jawabku dengan bersemangat kali ini. Di tangannya terlihat sebuat surat dengan amplop coklat. “Dek, ini surat buat kamu dari DIOSRDA (Dinas Olahraga dan Pemuda)”. Kugapai dengan cekatan surat itu. Ditanganku sudah ada surat itu, kumulai kubuka dengan perlahan, kuraih sebuah kertas yang kira-kira berukuran A4, Kop Disorda tertulis jelas di bagian kepala surat, surat yang tertanggal bulan Juli 2009. Perlahan kubuka ku baca dengan pelan-pelan. Inti dari surat ini adalah bahwa saya lolos ke Kanada menggantikan Andy Martuaraja yang sebelumnya menduduki saat seleksi, sedangkan aku sendiri menduduki peringkat 5 dari 18 finalis.
Loh, kok bisa aku yang lulus ke Kanada, peringkat 1-4 kenapa??? Aku sejenak melupakan peranyaan ini, aku hanya tertuju pada surat ini dan tertera jelas namaku “Hendriyadi menggantikan Andy Martuaraja dalam Program Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada mewakili Provinsi DKI Jakarta” belum selesai aku membaca surat ini, bapak yang membawa surat ini yang mungkin dari tadi memperhatikan ekspresiku. “Dua hari kemarin kami mencoba menghubungi hp kamu tadi gak aktif-aktif?” ucapnya. “Oh iyya maaf pak, kartu AS-ku kemarin terblokir dan baru saja saya aktifkan lagi kemarin sore” jawabku dengan perasaan yang tidak karuan antara terharu dan bahagia. Iyya memang kalau rejeki takkan kemana yah ucapku dalam hati. Kulanjutkan kubaca surat itu dan orang disekelilingku terus memperhatikan ada beberapa kakak-kakak asrama selain Kak Nandar yang ikut nimbrung duduk di sofa kursi asrama. “Kamu udah punya passport kan” Tanya bapak ini lagi. “Iyya pak aku dah punya karena kemarin aku ikut WLC (World Leadership Conference) di Singapura” jawabku mantap. Dia kelihatan senang mendengar jawabanku karena deadline pengumpulan biodata di Menpora sudah tinggal beberapa hari lagi. Beberapa saat Bapak ini pamit dan mengingatkan sekali lagi “Besok dating yah ke DISORDA”. Aku mengangguk dan dan berkata “Iyya pak, terima kasih”. (bersambung…)