Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Thamzil

lahir di makassar. selalu mencoba menulis apa adanya bukan ada apanya!

‘Zikir Rebana Barzanji’ Lirik dan Syairnya Menunjuk Kematian (2)

REP | 10 November 2009 | 18:21 Dibaca: 876   Komentar: 1   0

SEJATINYA, kelompok musik kampung itu tak bernama. Mereka saling berpandangan, saat Asdar Muis RMS, essais dan seniman kontemporer Makassar, menanyakan identitas grup mereka. “Dari dulu, orang Kaemba hanya menyebut kami Pa’zikkiri rebana Barazanji,” kata Dg Talli, satu dari enam pemukul rebana kelompok itu.

Tak ada yang tahu persis usia kelompok musik itu. Seorang dari mereka menyebutkan, kelompok rebana itu seumur kampung pesisir yang berjarak sekitar 6 km dari muara sungai Tallo, lokasi makam Dato Ri Bandang, penyebar Islam pertama di Makassar , di abad ke-17 itu.

Syair, lirik zikir, alat musik, para pemain identik dengan system kekerabatan di kampung itu. Pemainnya masih punya pertalian kekerabatan yang dekat. “Kami mungkin sudah generasi kelima, paling jauh kamenakan” ujar Daeng Kulle’.

Zikir rebana barzanji ini adalah sejarah sekaligus jati diri kampung yang bertetangga dengan Pa’tene, kampung pusat penyebaran ajaran tasawuf khalwatiyah Samman, salah satu ajaran ketuhanan populis di masyarakat Bugis-Makassar. “Zikir rebana barzanji ini hanya ada di Kaemba, beda dengan di zikir Galesong (Takalar),” kata Daeng Kulle.

Dia juga mengelak seni musik tradisional ini diidentifikasi dengan lantunan zikir para sufi atau yang sering digunakan penganjur dan pengikut ajaran ketuhanan, Khalwatiyah Samman. “Kalau zikir Khalwatiyah itu hanya menggoyang-goyang kepala tidak pakai rebana, dan tak ada (bahasa) Makassar-nya,” ujarnya.

Dinamai zikir, sebab lirik syair yang dinyanyikan sarat pesan dan ajaran ketuhanan. Syair yang didendangkan pun bukan sembarangan. Syairnya adalah teks bacaan di dalam buku barzanji, buku berisi puja-puji ke sang pencipta dan ulasan sejarah hidup nabi yang berbentuk pantun berbahasa Arab.

Nyayiannya yang mendayu-dayu dimulai dengan ucapan salam dan basmalah. Bahkan saat pentas, dan tercium penonton mencium bau kurang sedap, salah seorang dari pemain rebana bergegas berwudhu.

Yang khas dari zikir rebana ini adalah syair yang dibacakan tak lagi “murni” laiknya bacaan pantun berbahasa Arab. “Kalau dibaca lurus itu zikir barzanji. Seperti barzanji pengantin. Kita juga bisa. Tapi ini zikir rebana barzanji, kita berkelok-kelok dulu, biar seperti menyanyi,” kata Daeng Kulle.

Lantunan lirik dan musiknya pun lirih dan mendayu-dayu. Masing-masing bab atau potongan lagu, berisi 12 bait syair. Syairnya sebagian besar berisi zikir, puja-puji ke Sang Maha Pencipta. Hingga dekade awal 70-an, syair termuat dalam dua belas bab dan berisi pesan ketuhanan dan suasana batin pemainnya. Dulu bait-bait itu biasa dinyanyikan sesudah salat Isya hingga menjelang salat Subuh, namun siang akhir pekan lalu, dinyanyikan hingga waktu makan siang.

Penyanyinya pun seperti berbalas pantun. Empat orang pertama membaca syair Arab “modifikasi” khas Kaemba, kemudian diikuti terjemahan dalam bahasa Makassar, bahasa ibu di kamoung itu. Uhhh, Puang, salloma ri lalang bassi kallia. Na.. Kucinimi, tontongang ma’tenea…,…

Tragisnya, syair penutup dalam bahasa Makassar itu yang seakan-akan menggambarkan nasib dan usia kelompok kesenian ini yang kian renta dengan permohonan terakhir sebelum menunjuk kematian, “Oh Tuhan, sudah lama saya dipenjara dalam kerangkeng besi tua di dunia ini. Saya sudah begitu dekat dengan jendela yang akan membawaku menjemput nikmat-Mu…!” (thamzil thahir)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sambut Sunrise Dari Puncak Gunung Mahawu …

Tri Lokon | | 28 July 2014 | 13:14

Pengalaman Adventure Taklukkan Ketakutan …

Tjiptadinata Effend... | | 28 July 2014 | 19:20

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 12 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 13 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 14 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 17 jam lalu

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: