Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Thamzil

lahir di makassar. selalu mencoba menulis apa adanya bukan ada apanya!

‘Zikir Rebana Barzanji’ Lirik dan Syairnya Menunjuk Kematian (2)

REP | 10 November 2009 | 18:21 Dibaca: 893   Komentar: 1   0

SEJATINYA, kelompok musik kampung itu tak bernama. Mereka saling berpandangan, saat Asdar Muis RMS, essais dan seniman kontemporer Makassar, menanyakan identitas grup mereka. “Dari dulu, orang Kaemba hanya menyebut kami Pa’zikkiri rebana Barazanji,” kata Dg Talli, satu dari enam pemukul rebana kelompok itu.

Tak ada yang tahu persis usia kelompok musik itu. Seorang dari mereka menyebutkan, kelompok rebana itu seumur kampung pesisir yang berjarak sekitar 6 km dari muara sungai Tallo, lokasi makam Dato Ri Bandang, penyebar Islam pertama di Makassar , di abad ke-17 itu.

Syair, lirik zikir, alat musik, para pemain identik dengan system kekerabatan di kampung itu. Pemainnya masih punya pertalian kekerabatan yang dekat. “Kami mungkin sudah generasi kelima, paling jauh kamenakan” ujar Daeng Kulle’.

Zikir rebana barzanji ini adalah sejarah sekaligus jati diri kampung yang bertetangga dengan Pa’tene, kampung pusat penyebaran ajaran tasawuf khalwatiyah Samman, salah satu ajaran ketuhanan populis di masyarakat Bugis-Makassar. “Zikir rebana barzanji ini hanya ada di Kaemba, beda dengan di zikir Galesong (Takalar),” kata Daeng Kulle.

Dia juga mengelak seni musik tradisional ini diidentifikasi dengan lantunan zikir para sufi atau yang sering digunakan penganjur dan pengikut ajaran ketuhanan, Khalwatiyah Samman. “Kalau zikir Khalwatiyah itu hanya menggoyang-goyang kepala tidak pakai rebana, dan tak ada (bahasa) Makassar-nya,” ujarnya.

Dinamai zikir, sebab lirik syair yang dinyanyikan sarat pesan dan ajaran ketuhanan. Syair yang didendangkan pun bukan sembarangan. Syairnya adalah teks bacaan di dalam buku barzanji, buku berisi puja-puji ke sang pencipta dan ulasan sejarah hidup nabi yang berbentuk pantun berbahasa Arab.

Nyayiannya yang mendayu-dayu dimulai dengan ucapan salam dan basmalah. Bahkan saat pentas, dan tercium penonton mencium bau kurang sedap, salah seorang dari pemain rebana bergegas berwudhu.

Yang khas dari zikir rebana ini adalah syair yang dibacakan tak lagi “murni” laiknya bacaan pantun berbahasa Arab. “Kalau dibaca lurus itu zikir barzanji. Seperti barzanji pengantin. Kita juga bisa. Tapi ini zikir rebana barzanji, kita berkelok-kelok dulu, biar seperti menyanyi,” kata Daeng Kulle.

Lantunan lirik dan musiknya pun lirih dan mendayu-dayu. Masing-masing bab atau potongan lagu, berisi 12 bait syair. Syairnya sebagian besar berisi zikir, puja-puji ke Sang Maha Pencipta. Hingga dekade awal 70-an, syair termuat dalam dua belas bab dan berisi pesan ketuhanan dan suasana batin pemainnya. Dulu bait-bait itu biasa dinyanyikan sesudah salat Isya hingga menjelang salat Subuh, namun siang akhir pekan lalu, dinyanyikan hingga waktu makan siang.

Penyanyinya pun seperti berbalas pantun. Empat orang pertama membaca syair Arab “modifikasi” khas Kaemba, kemudian diikuti terjemahan dalam bahasa Makassar, bahasa ibu di kamoung itu. Uhhh, Puang, salloma ri lalang bassi kallia. Na.. Kucinimi, tontongang ma’tenea…,…

Tragisnya, syair penutup dalam bahasa Makassar itu yang seakan-akan menggambarkan nasib dan usia kelompok kesenian ini yang kian renta dengan permohonan terakhir sebelum menunjuk kematian, “Oh Tuhan, sudah lama saya dipenjara dalam kerangkeng besi tua di dunia ini. Saya sudah begitu dekat dengan jendela yang akan membawaku menjemput nikmat-Mu…!” (thamzil thahir)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Menilai Pidato Kenegaraan Jokowi …

Ashwin Pulungan | | 21 October 2014 | 08:19

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 4 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 6 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 8 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 11 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Sttt… Bos Kompasiana Beraksi di …

Dodi Mawardi | 7 jam lalu

Jika Kau Bukan Anak Raja, Juga Bukan Anak …

Mauliah Mulkin | 7 jam lalu

Me Time (Bukan) Waktunya Makan Mie! …

Hanisha Nugraha | 7 jam lalu

Kisah Setahun Jadi Kompasianer of the Year …

Yusran Darmawan | 7 jam lalu

Semoga Raffi-Gigi Tidak Lupa Hal Ini Setelah …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: