Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Thamzil

lahir di makassar. selalu mencoba menulis apa adanya bukan ada apanya!

‘Zikir Rebana Barzanji’ Lirik dan Syairnya Menunjuk Kematian (2)

REP | 10 November 2009 | 18:21 Dibaca: 885   Komentar: 1   0

SEJATINYA, kelompok musik kampung itu tak bernama. Mereka saling berpandangan, saat Asdar Muis RMS, essais dan seniman kontemporer Makassar, menanyakan identitas grup mereka. “Dari dulu, orang Kaemba hanya menyebut kami Pa’zikkiri rebana Barazanji,” kata Dg Talli, satu dari enam pemukul rebana kelompok itu.

Tak ada yang tahu persis usia kelompok musik itu. Seorang dari mereka menyebutkan, kelompok rebana itu seumur kampung pesisir yang berjarak sekitar 6 km dari muara sungai Tallo, lokasi makam Dato Ri Bandang, penyebar Islam pertama di Makassar , di abad ke-17 itu.

Syair, lirik zikir, alat musik, para pemain identik dengan system kekerabatan di kampung itu. Pemainnya masih punya pertalian kekerabatan yang dekat. “Kami mungkin sudah generasi kelima, paling jauh kamenakan” ujar Daeng Kulle’.

Zikir rebana barzanji ini adalah sejarah sekaligus jati diri kampung yang bertetangga dengan Pa’tene, kampung pusat penyebaran ajaran tasawuf khalwatiyah Samman, salah satu ajaran ketuhanan populis di masyarakat Bugis-Makassar. “Zikir rebana barzanji ini hanya ada di Kaemba, beda dengan di zikir Galesong (Takalar),” kata Daeng Kulle.

Dia juga mengelak seni musik tradisional ini diidentifikasi dengan lantunan zikir para sufi atau yang sering digunakan penganjur dan pengikut ajaran ketuhanan, Khalwatiyah Samman. “Kalau zikir Khalwatiyah itu hanya menggoyang-goyang kepala tidak pakai rebana, dan tak ada (bahasa) Makassar-nya,” ujarnya.

Dinamai zikir, sebab lirik syair yang dinyanyikan sarat pesan dan ajaran ketuhanan. Syair yang didendangkan pun bukan sembarangan. Syairnya adalah teks bacaan di dalam buku barzanji, buku berisi puja-puji ke sang pencipta dan ulasan sejarah hidup nabi yang berbentuk pantun berbahasa Arab.

Nyayiannya yang mendayu-dayu dimulai dengan ucapan salam dan basmalah. Bahkan saat pentas, dan tercium penonton mencium bau kurang sedap, salah seorang dari pemain rebana bergegas berwudhu.

Yang khas dari zikir rebana ini adalah syair yang dibacakan tak lagi “murni” laiknya bacaan pantun berbahasa Arab. “Kalau dibaca lurus itu zikir barzanji. Seperti barzanji pengantin. Kita juga bisa. Tapi ini zikir rebana barzanji, kita berkelok-kelok dulu, biar seperti menyanyi,” kata Daeng Kulle.

Lantunan lirik dan musiknya pun lirih dan mendayu-dayu. Masing-masing bab atau potongan lagu, berisi 12 bait syair. Syairnya sebagian besar berisi zikir, puja-puji ke Sang Maha Pencipta. Hingga dekade awal 70-an, syair termuat dalam dua belas bab dan berisi pesan ketuhanan dan suasana batin pemainnya. Dulu bait-bait itu biasa dinyanyikan sesudah salat Isya hingga menjelang salat Subuh, namun siang akhir pekan lalu, dinyanyikan hingga waktu makan siang.

Penyanyinya pun seperti berbalas pantun. Empat orang pertama membaca syair Arab “modifikasi” khas Kaemba, kemudian diikuti terjemahan dalam bahasa Makassar, bahasa ibu di kamoung itu. Uhhh, Puang, salloma ri lalang bassi kallia. Na.. Kucinimi, tontongang ma’tenea…,…

Tragisnya, syair penutup dalam bahasa Makassar itu yang seakan-akan menggambarkan nasib dan usia kelompok kesenian ini yang kian renta dengan permohonan terakhir sebelum menunjuk kematian, “Oh Tuhan, sudah lama saya dipenjara dalam kerangkeng besi tua di dunia ini. Saya sudah begitu dekat dengan jendela yang akan membawaku menjemput nikmat-Mu…!” (thamzil thahir)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rame-Rame Minum Air Sungai Cisadane …

Gapey Sandy | | 18 September 2014 | 23:42

Lebaynya Guguk-Guguk di Jepang …

Weedy Koshino | | 19 September 2014 | 07:39

Masukan Untuk Petugas Haji Indonesia …

Rumahkayu | | 19 September 2014 | 07:37

Tips Hemat Cermat selama Tinggal di Makkah …

Sayeed Kalba Kaif | | 18 September 2014 | 16:10

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Kita Nikah Yuk Ternyata Plagiat? …

Samandayu | 5 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 7 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Bahasa Korea dalam 15 Menit Part 1 - …

Amal Amal | 8 jam lalu

Timnas U23 Sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 8 jam lalu

Tetangga …

Pm Susbandono | 8 jam lalu

Elpiji 12 kg Naik & Solusi Hemat …

F Tanjung | 8 jam lalu

Mogok Sekolah …

Yuni Cahya | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: